Gaza – Pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 63 warga Palestina di seluruh Jalur Gaza hanya beberapa jam setelah militer menyatakan akan menghentikan serangan selama 10 jam per hari guna memberi jalan bagi bantuan kemanusiaan.
Pada hari Minggu (
), tentara Israel mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan aktivitas militer setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 20.00 waktu setempat di sejumlah wilayah Gaza tengah dan utara seperti al-Mawasi, Deir el-Balah, dan Kota Gaza. Selain itu, mereka berjanji membuka koridor bantuan dari pukul 06.00 hingga 23.00 untuk konvoi makanan dan medis.Namun, hanya beberapa jam sejak dimulainya “jeda kemanusiaan”, serangan udara kembali terjadi. Hind Khoudary, reporter Al Jazeera dari Deir el-Balah, melaporkan bahwa Kota Gaza yang diklaim sebagai “zona aman” tetap dibombardir. “Menurut warga setempat, sebuah toko roti menjadi target,” katanya.
Kematian Akibat Kelaparan Terus Meningkat
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan enam kematian baru dalam 24 jam terakhir akibat kelaparan, termasuk dua anak-anak, sehingga total korban kelaparan sejak Oktober 2023 mencapai 133 orang. Di antara korban terdapat bayi lima bulan Zainab Abu Haleeb yang meninggal karena malnutrisi di Rumah Sakit Nasser.
“Tiga bulan di rumah sakit, dan ini yang saya dapat, anak saya meninggal dunia,” kata Israa Abu Haleeb, sang ibu.
Program Pangan Dunia (WFP) menyebut satu dari tiga warga Gaza tidak makan selama beberapa hari, dan hampir 500.000 orang hidup dalam kondisi “mirip kelaparan”. WHO memperingatkan lebih dari 20% ibu hamil dan menyusui mengalami kekurangan gizi parah.
Warga Putus Asa, Bantuan Tak Cukup
Falestine Ahmed, seorang ibu di Gaza, mengatakan berat badannya turun drastis dari 57 kg menjadi 42 kg, dan ia serta anaknya mengalami malnutrisi berat. “Kami hampir tidak punya makanan di rumah, dan kalaupun ada, harganya tidak terjangkau,” ujarnya.
Meskipun Israel mengizinkan jalur baru dan UEA serta Yordania menjatuhkan bantuan lewat udara, distribusi tetap terbatas dan berbahaya. Hani Mahmoud dari Al Jazeera melaporkan bahwa 11 orang terluka akibat palet bantuan yang jatuh menimpa tenda pengungsi di dekat Jalan al-Rasheed.
Sementara Israel membantah adanya kelaparan, warga di lapangan menyaksikan hal berbeda. “Anak-anak saya belum makan selama seminggu. Saya bahkan hanya mencari sepotong roti,” kata Smoud Wahdan, seorang ibu pengungsi.
Organisasi Kemanusiaan Kewalahan
Liz Allcock dari Medical Aid for Palestinians menyebut kondisi di Gaza belum pernah separah ini. “Banyak orang berjalan hanya dengan kulit dan tulang. Uang tidak ada nilainya jika tidak ada yang bisa dibeli,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh masyarakat Gaza kini menderita kekurangan makanan akut, dan seperempat dari populasi berada dalam risiko malnutrisi parah. PBB menegaskan bantuan hanya dapat efektif jika Israel mempercepat pergerakan konvoi di pos pemeriksaan.
“Ini memang kemajuan, tapi jumlah bantuan yang dibutuhkan sangat besar untuk mencegah bencana kelaparan dan krisis kesehatan,” kata Kepala Bantuan PBB, Tom Fletcher.
[Foto: Dawoud Abu Alkas/Reuters]
Tekanan Internasional Meningkat
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa ia telah berdiskusi dengan pemimpin Turki dan Mesir, dan akan menjadi tuan rumah bersama konferensi di New York guna mendorong solusi dua negara. Ia juga mengonfirmasi bahwa Prancis akan segera mengakui Negara Palestina.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan blokade bantuan oleh Israel merupakan pelanggaran hukum internasional dan kemanusiaan. “Itu jelas pelanggaran hukum internasional untuk menghentikan pengiriman makanan,” katanya kepada ABC News.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengklaim bahwa pembicaraan gencatan senjata yang dipimpin utusan Presiden Trump, Steve Witkoff, menunjukkan kemajuan signifikan. Ia berharap kesepakatan bisa tercapai dalam waktu dekat dan sebagian sandera Israel dibebaskan.
Jumlah Korban Terus Bertambah
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir, 88 warga Palestina tewas dan 374 orang luka-luka akibat serangan Israel.
Sejak dimulainya perang pada Oktober 2023, total korban jiwa di pihak Palestina mencapai 59.821 orang dengan lebih dari 144.000 orang terluka.
Meski ada pembicaraan soal jeda kemanusiaan dan diplomasi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kekerasan terus meningkat.
Sumber: Al Jazeera dan kantor berita internasional lainnya