• Berita
  • Penyaluran
  • Donasi
Sabtu, Agustus 30, 2025
  • Login
Suara Langit Indonesia
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
Mari Berdonasi
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
No Result
View All Result
Suara Langit Indonesia
No Result
View All Result
Home Berita

96 Anak Gaza Meninggal karena Lapar: Duka Mendalam di Tengah Blokade Tanpa Henti

Suara Langit Indonesia by Suara Langit Indonesia
7 Agustus 2025
in Berita
0
96 Anak Gaza Meninggal karena Lapar: Duka Mendalam di Tengah Blokade Tanpa Henti
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

96 Anak Meninggal Akibat Kelaparan: Krisis Gizi Mematikan di Gaza Akibat Blokade Israel

Gaza (Quds News Network) – Setidaknya 96 anak-anak dan bayi Palestina telah meninggal akibat kekurangan gizi dan kelaparan di Gaza, seiring Israel terus memblokir bantuan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar yang hendak masuk ke wilayah tersebut selama lima bulan terakhir. Kementerian Kesehatan Palestina pada Rabu mengonfirmasi bahwa total kematian akibat kelaparan kini mendekati angka 200 jiwa.

Dalam pernyataannya, Kementerian menyatakan bahwa sejak dimulainya genosida oleh Israel pada Oktober 2023, sedikitnya 193 orang telah meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan gizi. Di antara mereka, terdapat 96 anak-anak dan bayi.

Apa yang Terjadi di Lapangan

Pekan lalu, UNICEF memperingatkan bahwa Gaza menghadapi risiko kelaparan besar-besaran, dengan satu dari tiga orang tak mendapat makanan selama berhari-hari.

Lebih dari 100 organisasi kemanusiaan, termasuk Amnesty International, Médecins Sans Frontières (MSF), dan Oxfam, menyuarakan kekhawatiran bahwa “kelaparan massal” tengah menyebar di seluruh Gaza, dengan para relawan mereka di wilayah tersebut juga turut menderita kelaparan parah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Kota Gaza sebagai wilayah yang paling parah terdampak kekurangan gizi, dengan hampir satu dari lima anak di bawah lima tahun mengalami kekurangan gizi akut.

Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa ribuan warga Palestina di Gaza berada di ambang kelaparan parah, dengan sepertiga dari populasi tidak makan selama berhari-hari.

Pejabat kesehatan di Gaza menyampaikan peringatan tegas bahwa ratusan warga Palestina dengan tubuh sangat kurus akibat kelaparan berada di ambang kematian karena tubuh mereka sudah terlalu lemah untuk bertahan hidup.

Direktur Rumah Sakit Al-Shifa mengungkapkan bahwa rumah sakit kewalahan menangani ratusan pasien dengan gejala kelaparan parah. “Kami kekurangan tempat tidur dan obat-obatan,” ujarnya. “Kami melihat gejala seperti kehilangan ingatan, kelelahan ekstrem, hingga pingsan akibat lapar.” Ia menambahkan, “Kami memiliki 17.000 anak yang mengalami kekurangan gizi akut. Ini adalah generasi yang sedang dibunuh perlahan melalui kelaparan.”

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, lebih dari 650.000 anak di bawah usia lima tahun menghadapi risiko kekurangan gizi akut dalam beberapa pekan mendatang dari total 1,1 juta anak di Jalur Gaza.

Saat ini, sekitar 1,25 juta penduduk Gaza hidup dalam kondisi kelaparan yang mengkhawatirkan, sementara 96% dari total populasi mengalami ketidakamanan pangan yang parah, termasuk lebih dari satu juta anak-anak.

UNRWA memperingatkan, “Otoritas Israel sedang membuat warga Gaza kelaparan. Di antara mereka terdapat satu juta anak-anak.”

Genosida Terstruktur Melalui Kelaparan

Sekretaris Jenderal Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, Jagan Chapagain, menyatakan bahwa warga Palestina di Gaza menghadapi “risiko kelaparan akut”.

“Tidak ada seorang pun yang seharusnya mempertaruhkan nyawanya hanya demi mendapatkan bantuan kemanusiaan dasar,” ujarnya.

Menurut laporan IPC (Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu) pekan lalu, dua dari tiga ambang kelaparan telah terlampaui di sebagian besar wilayah Gaza. Kekurangan gizi akut di Kota Gaza menguatkan peringatan yang terus-menerus disampaikan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan.

“Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa kelaparan, kekurangan gizi, dan penyakit menyebar luas, menjadi penyebab meningkatnya kematian akibat kelaparan,” tulis laporan IPC tersebut.

“Skenario terburuk kelaparan kini benar-benar terjadi di Jalur Gaza.”

“Ini jelas merupakan bencana yang terjadi di depan mata kita, di depan layar televisi kita,” kata Ross Smith, Direktur Kedaruratan dari Program Pangan Dunia PBB.

“Ini bukan lagi peringatan. Ini seruan untuk bertindak. Ini belum pernah kita lihat dalam abad ini,” tegasnya kepada wartawan di Jenewa.

Analisis IPC terakhir tentang Gaza yang dirilis pada 12 Mei memperkirakan bahwa seluruh penduduk Gaza akan mengalami tingkat kekurangan pangan akut yang tinggi pada akhir September, dengan 469.500 orang diproyeksikan mengalami kondisi “katastrofik”.

Pelapor Khusus PBB untuk Hak atas Pangan, Michael Fakhri, mengatakan: “Israel telah membangun mesin kelaparan paling efisien yang bisa dibayangkan. Jadi meskipun menyakitkan melihat orang-orang dibiarkan kelaparan, ini seharusnya tidak mengejutkan siapa pun. Semua informasi sudah terbuka sejak awal 2024.”

“Israel sedang membuat Gaza kelaparan. Ini adalah genosida. Ini kejahatan terhadap kemanusiaan. Ini kejahatan perang. Saya sudah mengatakannya berulang kali.”

Apakah Bantuan Kemanusiaan Sudah Masuk ke Gaza?

Pada 2 Maret, Israel mengumumkan penutupan seluruh jalur masuk utama ke Gaza, memutus suplai makanan, medis, dan bantuan kemanusiaan, memperparah krisis bagi 2,3 juta warga Palestina. Organisasi HAM menuduh Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang terhadap warga sipil Palestina.

Setelah lebih dari 80 hari blokade total, kelaparan, dan meningkatnya kemarahan internasional, bantuan terbatas didistribusikan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah organisasi kontroversial yang didukung AS dan Israel. GHF dibentuk untuk melewati infrastruktur distribusi bantuan resmi PBB di Gaza.

Kebanyakan organisasi kemanusiaan, termasuk PBB, menolak bekerja sama dengan GHF karena dianggap melanggar prinsip kemanusiaan. Mereka mengkritik sistem distribusi yang membatasi bantuan hanya di wilayah selatan dan tengah Gaza, memaksa warga berjalan jauh, serta hanya memberikan bantuan dalam jumlah terbatas. Model ini juga dianggap mempercepat perpindahan paksa warga Gaza.

Selain itu, pembunuhan massal terhadap pencari bantuan di sekitar lokasi distribusi GHF kini menjadi pemandangan sehari-hari yang mengerikan. Warga yang kelaparan dipaksa berebut makanan dalam waktu singkat, lalu dijadikan target serangan oleh pasukan Israel dan tentara bayaran Amerika. Kesaksian dari warga Gaza dan mantan tentara bayaran AS menunjukkan bahwa warga sipil tak bersenjata memang sengaja dijadikan sasaran.

PBB dan warga Gaza menyebut lokasi-lokasi distribusi tersebut sebagai “jebakan maut massal” dan “rumah jagal terbuka”.

Menurut Kantor HAM PBB (OHCHR), sedikitnya 859 orang telah tewas saat mencari makanan di lokasi-lokasi bantuan GHF sejak organisasi itu mulai beroperasi akhir Mei. OHCHR menyebut sebagian besar pembunuhan dilakukan oleh militer Israel.

Selain itu, lebih dari 514 warga juga dibunuh pasukan Israel di sepanjang jalur konvoi bantuan.

Human Rights Watch menyatakan bahwa pembunuhan pencari bantuan oleh Israel di lokasi GHF tergolong kejahatan perang.

Distribusi Bantuan Masih Sangat Minim

Karena tekanan internasional meningkat menyusul foto-foto anak-anak kurus kering dan laporan kematian akibat kelaparan, Israel mengumumkan “jeda taktis” operasi militer di beberapa wilayah Gaza demi memberi ruang bagi masuknya konvoi bantuan PBB. Namun, laporan penyerangan dan pembunuhan tetap muncul dari berbagai wilayah Gaza.

Seorang pekerja PBB menyebut bahwa “jendela bantuan di detik terakhir” ini kemungkinan tidak cukup untuk menyelamatkan anak-anak yang sudah kekurangan gizi parah.

PBB menegaskan bahwa Israel masih memblokir masuknya makanan, hanya beberapa truk bantuan saja yang berhasil masuk ke Gaza.

Pekan lalu, WFP menyatakan mereka tidak menerima volume bantuan yang diperlukan meskipun Israel mengklaim telah mengeluarkan kebijakan baru untuk mempercepat masuknya suplai.

“Kami tidak mendapat izin untuk mengirim bantuan sebanyak yang kami ajukan,” ujar Smith.

Smith menegaskan bahwa bencana di Gaza ini “tidak pernah terjadi sebelumnya dalam abad ini”, bahkan mengingatkan pada tragedi kelaparan di Ethiopia dan Biafra, Nigeria pada abad ke-20.

Pada Senin lalu, Kantor Media Pemerintah Gaza dan lembaga bantuan mengonfirmasi bahwa sejak Israel mengumumkan akan membuka akses bantuan pada 27 Juli, hanya 674 truk bantuan yang berhasil masuk ke Gaza. Rata-rata hanya 84 truk per hari, atau 14% dari kebutuhan minimum sebanyak 4.800 truk.

Gaza membutuhkan setidaknya 600 truk bantuan dan bahan bakar setiap hari untuk mencukupi kebutuhan sektor kesehatan, layanan publik, dan pangan.

Kantor tersebut mencatat, “Kami mengonfirmasi bahwa lebih dari 22.000 truk bantuan kemanusiaan kini tertahan di gerbang perbatasan Gaza, sebagian besar milik PBB, organisasi internasional, dan berbagai lembaga kemanusiaan.”

Kelaparan yang Direkayasa Secara Sistematis

Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut bahwa Israel secara sengaja merekayasa kelaparan dan kekacauan di Gaza. Sebagian besar truk bantuan yang berhasil masuk justru dijarah dalam situasi kacau yang sengaja diciptakan oleh pendudukan Israel.

“Apa yang terjadi di Gaza adalah model nyata dan disengaja dari bagaimana Israel menciptakan kekacauan dan kelaparan secara sistematis,” ujar mereka. Bantuan sengaja dihambat agar tidak sampai ke gudang atau penerima bantuan.

Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza juga menuduh Israel menargetkan petugas yang sedang mengawal distribusi bantuan, serta mendanai jaringan perampok yang menyerang truk bantuan dan memperparah kelaparan di Gaza.

“Ini adalah upaya terang-terangan pendudukan untuk lari dari tanggung jawab hukum atas penggunaan kelaparan sebagai senjata perang,” tegas Kementerian tersebut.

Strategi ini memaksa warga Palestina menempuh jarak jauh untuk mencari bantuan, mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Ini juga menyebabkan beberapa bantuan rusak akibat desak-desakan dan kerumunan massa.

“Sementara itu, pendudukan secara langsung menyerang mereka dan melakukan pembantaian, membunuh puluhan orang setiap hari di sepanjang jalur distribusi bantuan.”

Tags: GazaPalestina
Previous Post

Israel Dituding “Rekayasa Pembantaian” di Gaza, Warga Palestina Terus Tewas Karena Kelaparan

Next Post

Israel Membungkam Suara Kebenaran Gaza, Tapi Kebenaran Tak Akan Pernah Dibungkam

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia

Next Post
Israel Membungkam Suara Kebenaran Gaza, Tapi Kebenaran Tak Akan Pernah Dibungkam

Israel Membungkam Suara Kebenaran Gaza, Tapi Kebenaran Tak Akan Pernah Dibungkam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • 112 Anak Gaza Meninggal Kelaparan, PBB: Generasi Sedang Dibunuh dengan Lapar
  • Serangan Israel Meningkat di Al-Zaytoun, 300 Rumah Hancur dalam Tiga Hari
  • Israel Membungkam Suara Kebenaran Gaza, Tapi Kebenaran Tak Akan Pernah Dibungkam
  • 96 Anak Gaza Meninggal karena Lapar: Duka Mendalam di Tengah Blokade Tanpa Henti
  • Israel Dituding “Rekayasa Pembantaian” di Gaza, Warga Palestina Terus Tewas Karena Kelaparan

Kategori

  • Berita
  • Laporan Khusus
  • Penyaluran

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia (SLI) adalah lembaga kemanusiaan yang resmi berdiri dan berbadan hukum pada tanggal 5 Januari 2020. SLI menyelenggarakan berbagai kegiatan kemanusiaan dengan pendekatan dakwah, sosial, pendidikan, dan bantuan darurat.

Rekening Donasi

•BNI 2444266609
•BSI 7236-30881-7
•MANDIRI 170-00-1300772-3
A.N. Yayasan Suara Langit Indonesia

Konfirmasi transfer

• Admin SLI:‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪ 0813 3946 8790
‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬(Whatsapp)

Ikuti Kami

Dana yang didonasikan melalui Suara Langit Indonesia sepenuhnya sah, halal, serta tidak terkait pencucian uang, terorisme, atau tindak kejahatan lainnya.

  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In