• Berita
  • Penyaluran
  • Donasi
Sabtu, Agustus 30, 2025
  • Login
Suara Langit Indonesia
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
Mari Berdonasi
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
No Result
View All Result
Suara Langit Indonesia
No Result
View All Result
Home Berita

Anak-anak Gaza: 23% Kasus Amputasi, 33% Cedera Otak, 70% Luka Bakar dan Tanpa Layanan Rehabilitasi

Suara Langit Indonesia by Suara Langit Indonesia
24 Juni 2025
in Berita
0
Anak-anak Gaza: 23% Kasus Amputasi, 33% Cedera Otak, 70% Luka Bakar dan Tanpa Layanan Rehabilitasi
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Gaza – Sistem layanan kesehatan di Jalur Gaza kini berada di ambang kehancuran akibat agresi militer Israel yang disebut sebagai genosida. Anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak. Berdasarkan data Health Cluster, anak-anak menyumbang 23 persen kasus amputasi, 26 persen cedera tulang belakang, 33 persen cedera otak traumatis, dan 70 persen kasus luka bakar yang memerlukan operasi. Ironisnya, Gaza tidak memiliki layanan rehabilitasi khusus untuk anak-anak.

Dalam laporan terbarunya, United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) mengungkapkan bahwa sedikitnya 30.000 kasus trauma di seluruh Gaza membutuhkan rehabilitasi jangka panjang. Namun, hanya tersisa 85 tempat tidur rehabilitasi yang masih berfungsi. Tim medis kewalahan, sementara ribuan pasien tidak mendapatkan layanan dasar. Kunjungan World Health Organization (WHO) ke Rumah Sakit Rehabilitasi Hamad menemukan anak-anak menunggu layanan pendengaran dalam kondisi stres psikologis berat. Tidak tersedia program intervensi dini untuk disabilitas non-traumatik.

Jumlah amputan yang membutuhkan kaki dan tangan palsu melonjak menjadi 6.000 orang, terdiri dari 4.000 kasus baru sejak genosida dimulai dan 2.000 kasus lama. Sebanyak 292 pasien—termasuk 57 anak-anak—masih menunggu operasi perbaikan tunggul. Persediaan material rehabilitasi nyaris habis, bahkan beberapa fasilitas kesehatan sudah kehabisan stok. Sementara itu, lebih dari 3.300 kursi roda dan alat bantu lain masih tertahan di pos pemeriksaan yang dikontrol Israel. Krisis yang memburuk juga menyebabkan banyak pasien mengalami komplikasi sekunder. Di Rumah Sakit Al Wafaa—satu-satunya rumah sakit spesialis rehabilitasi di Gaza—30 persen tempat tidur kini ditempati oleh pasien dengan luka baring parah akibat imobilitas dan kurangnya perawatan.

Mitra Health Cluster memperingatkan bahwa penyandang disabilitas, penderita penyakit kronis, serta lansia berada dalam risiko tinggi memburuknya kondisi kesehatan. Tanpa perawatan, banyak dari mereka terancam mengalami disabilitas permanen, dan biaya perawatan jangka panjang diperkirakan akan meningkat drastis.

Situasi ini juga memicu darurat kesehatan ibu. United Nations Population Fund (UNFPA) melaporkan bahwa perempuan di Gaza mengalami kelaparan dan melahirkan tanpa akses air bersih, sanitasi, maupun layanan medis. Separuh dari persediaan obat-obatan esensial untuk kesehatan ibu telah habis. Selama lebih dari tiga bulan, tak satu pun pasokan UNFPA—termasuk obat-obatan penyelamat jiwa—diperbolehkan masuk ke Gaza. Pasukan Israel telah memblokir 190 truk yang membawa perlengkapan kesehatan ibu di perbatasan.

Krisis bahan bakar semakin memperparah keadaan. Tanpa pasokan energi, 80 persen unit perawatan kritis di Gaza terancam berhenti beroperasi. Bayi dalam inkubator dan perempuan dalam proses persalinan menghadapi risiko kematian akibat matinya peralatan medis vital. UNFPA mencatat satu dari tiga kehamilan di Gaza tergolong berisiko tinggi, sementara satu dari lima bayi lahir prematur atau dengan berat badan rendah—semuanya membutuhkan perawatan khusus yang kini nyaris tidak tersedia. Saat ini, hanya lima rumah sakit di Gaza yang masih melayani persalinan.

Situasi pangan pun kian mengkhawatirkan. Sejak bantuan sebagian kembali masuk pada 19 Mei lalu, sekitar 9.000 ton tepung gandum—setara dengan 360.000 kantong 25 kilogram—telah masuk ke Gaza. Namun, sebagian besar bantuan tidak pernah sampai ke gudang. Warga yang putus asa menurunkan sendiri isi truk sebelum proses distribusi, bahkan dalam beberapa kasus, bantuan disita oleh kelompok bersenjata yang terafiliasi dengan Israel. Sebanyak 50 truk pembawa bahan pangan campuran mengalami nasib serupa.

Dapur umum di Gaza juga tak mampu memenuhi kebutuhan. Pada akhir April, 180 dapur umum membagikan lebih dari satu juta porsi makanan setiap hari. Namun, pada pertengahan Juni, hanya tersisa 42 dapur yang masih beroperasi, dengan kapasitas distribusi turun drastis menjadi hanya 185.000 porsi per hari—penurunan sebesar 83 persen. Otoritas Israel terus menghalangi organisasi kemanusiaan membagikan paket makanan, membuat puluhan ribu keluarga tak mendapatkan gizi dasar.

Sektor Ketahanan Pangan memperingatkan bahwa selama pengiriman bantuan berskala besar dan berkala tidak dibuka melalui banyak jalur perbatasan, kelaparan akan terus meluas. Harga gandum meningkat, dan kelangkaan makanan memperburuk bencana kemanusiaan yang sudah sangat parah.

sumber:
Quds news network

Salurkan donasi mu melalui :
https://donasi.suaralangit.id/

Tags: GazaPalestina
Previous Post

Israel Serang Kerumunan Penerima Bantuan, 29 Warga Gaza Meninggal

Next Post

Keluarga di Gaza Bertahan dengan Sekali Makan dalam Sehari atau Tidak Sama Sekali

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia

Next Post
Keluarga di Gaza Bertahan dengan Sekali Makan dalam Sehari atau Tidak Sama Sekali

Keluarga di Gaza Bertahan dengan Sekali Makan dalam Sehari atau Tidak Sama Sekali

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • 112 Anak Gaza Meninggal Kelaparan, PBB: Generasi Sedang Dibunuh dengan Lapar
  • Serangan Israel Meningkat di Al-Zaytoun, 300 Rumah Hancur dalam Tiga Hari
  • Israel Membungkam Suara Kebenaran Gaza, Tapi Kebenaran Tak Akan Pernah Dibungkam
  • 96 Anak Gaza Meninggal karena Lapar: Duka Mendalam di Tengah Blokade Tanpa Henti
  • Israel Dituding “Rekayasa Pembantaian” di Gaza, Warga Palestina Terus Tewas Karena Kelaparan

Kategori

  • Berita
  • Laporan Khusus
  • Penyaluran

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia (SLI) adalah lembaga kemanusiaan yang resmi berdiri dan berbadan hukum pada tanggal 5 Januari 2020. SLI menyelenggarakan berbagai kegiatan kemanusiaan dengan pendekatan dakwah, sosial, pendidikan, dan bantuan darurat.

Rekening Donasi

•BNI 2444266609
•BSI 7236-30881-7
•MANDIRI 170-00-1300772-3
A.N. Yayasan Suara Langit Indonesia

Konfirmasi transfer

• Admin SLI:‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪ 0813 3946 8790
‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬(Whatsapp)

Ikuti Kami

Dana yang didonasikan melalui Suara Langit Indonesia sepenuhnya sah, halal, serta tidak terkait pencucian uang, terorisme, atau tindak kejahatan lainnya.

  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In