Gaza – Sepertiga keluarga di Gaza tidak makan seharian akibat genosida berkelanjutan dan blokade bantuan oleh Israel, menurut Program Pangan Dunia PBB (WFP).
Dalam sebuah pernyataan, WFP dan mitranya mengungkapkan bahwa keluarga-keluarga di Gaza bertahan hidup dengan kaldu encer, lentil, nasi, sepotong roti, atau bahkan hanya campuran rempah-rempah dan minyak zaitun lokal yang dikenal dengan nama duqqa.
Disebutkan bahwa akibat kekurangan pangan ekstrem, warga Palestina secara rutin mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan makanan.
“Sebagian besar korban tewas karena ditembak atau terkena tembakan artileri saat mencoba mencapai lokasi distribusi bantuan AS-Israel yang sengaja didirikan di zona militer,” kata Johnathan Whittall, Kepala Kantor Badan Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) di wilayah Palestina yang diduduki.
PBB mengonfirmasi bahwa sejak 27 Mei, 549 warga Palestina tewas oleh pasukan Israel dan 4.066 lainnya terluka saat mencoba mengakses makanan di dekat lokasi bantuan yang didukung AS.
Krisis juga melanda layanan vital lainnya. Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa akibat kelangkaan bahan bakar, hanya 40 persen fasilitas air minum yang berfungsi, sementara 93 persen rumah tangga menghadapi krisis air bersih.
Pada 2 Maret, Israel mengumumkan penutupan utama jalur penyeberangan Gaza, menghentikan pasokan makanan, medis, dan bantuan kemanusiaan, yang memperparah krisis kemanusiaan bagi 2,3 juta warga Palestina. Organisasi-organisasi hak asasi manusia menuduh Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang terhadap rakyat Palestina.
Laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) bulan lalu memperingatkan hampir seperempat populasi sipil akan menghadapi tingkat kerawanan pangan yang katastrofal (IPC Tahap Lima) dalam beberapa bulan ke depan.
Setelah lebih dari 80 hari blokade total, kelaparan, dan meningkatnya kecaman internasional, bantuan terbatas diduga didistribusikan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah organisasi penuh skandal yang didukung oleh AS dan Israel, dibentuk untuk menghindari infrastruktur distribusi bantuan resmi PBB di Gaza.
Israel masih secara ketat membatasi jumlah makanan yang masuk ke Gaza yang dilanda perang, dengan PBB mengonfirmasi bahwa Israel terus memblokir bantuan makanan bagi warga Palestina yang kelaparan, dengan hanya beberapa truk bantuan yang berhasil mencapai Gaza.
Sebagian besar organisasi kemanusiaan, termasuk PBB, telah menjaga jarak dengan GHF, dengan argumen bahwa kelompok tersebut melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan karena membatasi bantuan hanya ke wilayah Gaza selatan dan tengah, mengharuskan warga Palestina berjalan jauh untuk mengambil bantuan, serta memberikan bantuan dalam jumlah terbatas.
Organisasi Dokter Lintas Batas (MSF) memperingatkan bahwa “menjadikan bantuan sebagai senjata dengan cara ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.”
“Setiap hari warga Palestina menghadapi pertumpahan darah saat mencoba mengambil pasokan dari jumlah bantuan yang tidak mencukupi yang masuk ke Gaza,” ujar MSF.
Komisaris Jenderal badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, mengecam mekanisme distribusi bantuan AS-Israel yang disebutnya “mematikan”. Dalam unggahannya di media sosial X, Lazzarini menyatakan bahwa nyawa warga Palestina “telah sangat diremehkan”.
“Menjadi hal rutin menembak dan membunuh orang-orang yang putus asa dan kelaparan saat mereka mencoba mengambil sedikit makanan dari perusahaan yang dioperasikan oleh tentara bayaran,” tegasnya.
“Mengundang orang-orang kelaparan menuju kematian adalah kejahatan perang. Mereka yang bertanggung jawab atas sistem ini harus dimintai pertanggungjawaban. Ini adalah aib dan noda bagi hati nurani kolektif kita semua.”
sumber: Quds News Network
🤝 Mari bergandeng tangan membantu saudara-saudara kita di Gaza melalui donasi terbaik kita.
👉 Salurkan donasi Anda melalui:
🌐 donasi.suaralangit.id
Setiap donasi Anda sangat berarti bagi kehidupan mereka. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian.