Di Gaza, masa kanak-kanak telah berubah menjadi medan perang.
Dalam keheningan rapuh setelah gencatan senjata, gema perang masih hidup di tubuh dan benak mereka. Tubuh-tubuh kecil membawa luka dari perang yang tak pernah mereka pilih. Sebagian anak tidur di samping kuburan yang menampung seluruh keluarga mereka. Yang lain terbangun di tengah malam dengan jeritan, kehilangan kaki, tangan, rumah, atau nama-nama orang yang mereka cintai.
Selama dua tahun, genosida Israel telah membentuk ulang makna hidup — dan kematian — bagi satu generasi penuh. Dunia mungkin belum memahami sepenuhnya skala kehancuran ini hingga setiap kesaksian dan angka terdokumentasi dengan jelas.
Serangan Israel meninggalkan luka dalam yang tak dapat disembuhkan bagi 2,4 juta penduduk Gaza, terutama anak-anak yang mencakup hampir separuh populasi. Penderitaan mereka bersifat fisik, psikologis, dan lintas generasi. Quds News Network berbicara dengan pejabat, tenaga medis, dan keluarga yang anak-anaknya mengalami cacat permanen. Kesaksian mereka mengungkap bagaimana serangan Israel — sering kali dengan senjata buatan AS — telah menghancurkan tubuh dan masa depan anak-anak, bahkan sebelum mereka lahir.
Tubuh Kecil yang Tersayat Luka
Ketika langit Gaza dipenuhi suara misil, pembantaian pun menyusul. Ribuan anak tewas. Sebagian lainnya selamat dengan tubuh cacat, amputasi, atau luka bakar.
Zaher Al-Wihaidi, Direktur Unit Informasi Kementerian Kesehatan, mengatakan sekitar 170.000 orang terluka, dan hampir 44.000 di antaranya adalah anak-anak. Sekitar 18 persen dari mereka berada dalam kondisi kritis dan membutuhkan rehabilitasi jangka panjang akibat amputasi, patah tulang, luka bakar, dan cedera otak.
“Rambutku tersangkut rantai ayunan,” katanya. “Saat ayunan berputar, kulit kepalaku ikut terkelupas bersama rambut.”
Ibunya mengatakan beberapa kali operasi gagal memperbaiki kulit kepala Hala. Infeksi semakin parah, membuat Hala terus menahan nyeri.
Al-Wihaidi mengonfirmasi lebih dari 5.000 warga Palestina mengalami amputasi, termasuk 1.200 anak-anak. Obaida Atwan, 15 tahun, kehilangan tangan kanan dan kakinya akibat serangan udara di Khan Younis.
“Sebelum perang, dia belajar dan bermain sepak bola,” ujar ayahnya. “Sekarang dia di kursi roda, belajar kembali bagaimana cara hidup.”

Anak-anak seperti Obaida membutuhkan kaki dan tangan prostetik, namun Gaza kekurangan peralatan medis dasar akibat blokade Israel.
Mohammad Abu Akar, anak lain yang diamputasi, terluka saat mengambil air bersama keluarganya. Ayahnya, Akram, mengenang saat itu:
“Dia terus bertanya, ‘Kapan kakiku akan tumbuh lagi?’”
Tanpa akses perawatan, Akram hanya bisa melihat harapan anaknya memudar.

Dima Abu Shakian, 11 tahun, diselamatkan dari reruntuhan setelah delapan jam. Ia terbangun dari koma tiga minggu dengan luka bakar, patah tulang, dan jari kaki hilang — serta kehilangan seluruh keluarganya.
“Yang aku harap, suatu hari dia bisa berjalan lagi,” kata bibinya.

Beberapa anak terluka berhasil dievakuasi keluar Gaza dan mendapat prostetik. Tapi lebih dari 1.200 lainnya masih terjebak, menunggu penyeberangan dibuka. Pemulihan mereka menggantung di antara hidup dan mati.
Luka Gizi Buruk
Sejak awal kampanye genosida Israel dan penutupan perbatasan, Gaza terjerumus ke dalam kelaparan. Makanan menjadi kenangan. Banyak keluarga hidup hanya dari lentil, jika ada.
Menurut Kementerian Kesehatan, 650.000 anak berisiko meninggal karena malnutrisi, termasuk 40.000 bayi tanpa susu formula. Lebih dari 5.200 anak membutuhkan evakuasi medis segera.
Ruba Omar, petugas kesehatan masyarakat di Ard El-Insan, mengatakan bahkan anak dengan alergi gandum kini meninggal karena tak ada tepung jagung sebagai pengganti.
“Kami mencatat tiga kematian hanya karena alergi gandum,” ujarnya.
Huda Abu Al-Naja, 8 tahun, meninggal akibat malnutrisi akut setelah tujuh bulan menunggu perbatasan Rafah dibuka. Sebelum perang, berat badannya 30 kilogram. Setelah blokade, rambutnya rontok, kulitnya mengelupas, hingga akhirnya ia menyerah dalam penantian.
Seleen Wadi, balita di bawah dua tahun, kini menderita gizi buruk parah dengan kekurangan protein. Tubuhnya bengkak dan lemah.
“Aku berdoa dia sembuh, jika saja kami bisa mendapat makanan, air mineral, daging, dan telur,” ujar ibunya.
Menurut data rumah sakit Nasser, 453 anak meninggal akibat kelaparan, dan 80% populasi Gaza kini tidak lagi divaksinasi. Anak-anak menghadapi ancaman ganda: lapar dan penyakit.

Jejak Luka Sejak dalam Kandungan
Bahkan bayi yang belum lahir tak luput dari dampak perang.
Dr. Ziad Abu Taha, dokter kandungan di Rumah Sakit Nasser, mengatakan pengeboman, blokade, dan pengungsian telah menyebabkan lonjakan keguguran, kelahiran prematur, dan cacat lahir. Pada 2025 saja, 400 kasus cacat janin tercatat.
Zat kimia beracun dari senjata Israel menyebabkan anemia dan gangguan pertumbuhan janin. Bayi lahir dengan cacat otak, jantung, hingga tanpa tengkorak sempurna.
Bidan Dina Qeshta dari Rumah Sakit Lapangan Palang Merah di Khan Younis mengatakan bahwa penghancuran satu-satunya pusat IVF dan fertilitas di Gaza oleh Israel telah membuat banyak perempuan kehilangan akses terhadap layanan reproduksi.
“Pemadaman listrik dan inkubator yang penuh memaksa para perempuan melahirkan di dalam tenda,” ujarnya. “Banyak dari mereka meninggal sebelum sempat mencapai rumah sakit.”
Sementara itu, sumber medis melaporkan peningkatan tajam kasus cacat lahir pada janin, yang dikaitkan dengan paparan gas beracun dan radiasi akibat pengeboman Israel.
Menurut Dr. Mohammed Abu Afash, Direktur Bantuan Medis di Gaza City dan Gaza Utara, tingkat cacat janin kini melampaui 25 persen — angka yang ia sebut “mengkhawatirkan, berbahaya, dan belum pernah terjadi sebelumnya.”
Ia mengungkapkan kasus-kasus mengejutkan, termasuk janin yang lahir dengan setengah tengkorak, serta bayi yang menderita cacat mata, gangguan pernapasan, dan kehilangan anggota tubuh. Selain itu, terjadi lonjakan keguguran din dan kelahiran prematur.
Abu Afash memperingatkan ancaman serius terhadap 150.000 ibu hamil di Jalur Gaza akibat paparan bahan kimia beracun dan lemahnya sistem kekebalan tubuh. Ia juga mencatat bahwa peralatan diagnostik untuk mendeteksi cacat janin dini kini tidak tersedia karena laboratorium dan klinik dihancurkan serta pasokan medis diblokade oleh Israel.
Sementara itu, Dr. Marwan Al-Hams, Direktur Jenderal Rumah Sakit Gaza, menyatakan bahwa tingkat cacat janin kini jauh melebihi rata-rata global, yakni sekitar 200 kasus per 1.000 kelahiran, dibandingkan rata-rata 40 kasus menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 55.000 bayi lahir selama 18 bulan terakhir, termasuk 144 kasus cacat lahir yang terdokumentasi.
Menurut Dr. Munir Al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, cacat-cacat ini sangat mungkin terkait dengan senjata baru Israel yang diuji langsung terhadap warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Dari amputasi hingga kelaparan, dari cacat lahir hingga trauma yang tak kunjung sembuh, anak-anak Gaza memikul beban paling berat dari genosida Israel.
Penderitaan mereka tidak berakhir dengan gencatan senjata rapuh itu — justru, itulah kini menjadi kehidupan mereka yang baru.
ditulis oleh : Enas Wajeeh (Quds News Network)







