• Berita
  • Penyaluran
  • Donasi
Minggu, Februari 15, 2026
  • Login
Suara Langit Indonesia
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
Mari Berdonasi
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
No Result
View All Result
Suara Langit Indonesia
No Result
View All Result
Home Laporan Khusus

Satu Generasi yang Hilang di Gaza: Luka Fisik, Trauma Jiwa, dan Cacat Seumur Hidup

Suara Langit Indonesia by Suara Langit Indonesia
21 Oktober 2025
in Laporan Khusus
0
Satu Generasi yang Hilang di Gaza: Luka Fisik, Trauma Jiwa, dan Cacat Seumur Hidup

Jihad Mahmoud, seorang anak berusia **3 tahun, kehilangan kedua kakinya dan tiga jarinya akibat serangan Israel. (Foto: Hani Alshaer / Anadolu)

0
SHARES
11
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Di Gaza, masa kanak-kanak telah berubah menjadi medan perang.

Dalam keheningan rapuh setelah gencatan senjata, gema perang masih hidup di tubuh dan benak mereka. Tubuh-tubuh kecil membawa luka dari perang yang tak pernah mereka pilih. Sebagian anak tidur di samping kuburan yang menampung seluruh keluarga mereka. Yang lain terbangun di tengah malam dengan jeritan, kehilangan kaki, tangan, rumah, atau nama-nama orang yang mereka cintai.

Selama dua tahun, genosida Israel telah membentuk ulang makna hidup — dan kematian — bagi satu generasi penuh. Dunia mungkin belum memahami sepenuhnya skala kehancuran ini hingga setiap kesaksian dan angka terdokumentasi dengan jelas.

Serangan Israel meninggalkan luka dalam yang tak dapat disembuhkan bagi 2,4 juta penduduk Gaza, terutama anak-anak yang mencakup hampir separuh populasi. Penderitaan mereka bersifat fisik, psikologis, dan lintas generasi. Quds News Network berbicara dengan pejabat, tenaga medis, dan keluarga yang anak-anaknya mengalami cacat permanen. Kesaksian mereka mengungkap bagaimana serangan Israel — sering kali dengan senjata buatan AS — telah menghancurkan tubuh dan masa depan anak-anak, bahkan sebelum mereka lahir.


Tubuh Kecil yang Tersayat Luka

Ketika langit Gaza dipenuhi suara misil, pembantaian pun menyusul. Ribuan anak tewas. Sebagian lainnya selamat dengan tubuh cacat, amputasi, atau luka bakar.

Zaher Al-Wihaidi, Direktur Unit Informasi Kementerian Kesehatan, mengatakan sekitar 170.000 orang terluka, dan hampir 44.000 di antaranya adalah anak-anak. Sekitar 18 persen dari mereka berada dalam kondisi kritis dan membutuhkan rehabilitasi jangka panjang akibat amputasi, patah tulang, luka bakar, dan cedera otak.

“Rambutku tersangkut rantai ayunan,” katanya. “Saat ayunan berputar, kulit kepalaku ikut terkelupas bersama rambut.”

Hala Shukri Dahleez, 12 tahun, sedang bermain ayunan ketika misil Israel jatuh di dekatnya.

Ibunya mengatakan beberapa kali operasi gagal memperbaiki kulit kepala Hala. Infeksi semakin parah, membuat Hala terus menahan nyeri.

Al-Wihaidi mengonfirmasi lebih dari 5.000 warga Palestina mengalami amputasi, termasuk 1.200 anak-anak. Obaida Atwan, 15 tahun, kehilangan tangan kanan dan kakinya akibat serangan udara di Khan Younis.

“Sebelum perang, dia belajar dan bermain sepak bola,” ujar ayahnya. “Sekarang dia di kursi roda, belajar kembali bagaimana cara hidup.”

Obaida Atwan.

Anak-anak seperti Obaida membutuhkan kaki dan tangan prostetik, namun Gaza kekurangan peralatan medis dasar akibat blokade Israel.

Mohammad Abu Akar, anak lain yang diamputasi, terluka saat mengambil air bersama keluarganya. Ayahnya, Akram, mengenang saat itu:

“Dia terus bertanya, ‘Kapan kakiku akan tumbuh lagi?’”

Tanpa akses perawatan, Akram hanya bisa melihat harapan anaknya memudar.

Mohammad Abu Akar

Dima Abu Shakian, 11 tahun, diselamatkan dari reruntuhan setelah delapan jam. Ia terbangun dari koma tiga minggu dengan luka bakar, patah tulang, dan jari kaki hilang — serta kehilangan seluruh keluarganya.

“Yang aku harap, suatu hari dia bisa berjalan lagi,” kata bibinya.

Dima Abu Shakian (11 tahun).

Beberapa anak terluka berhasil dievakuasi keluar Gaza dan mendapat prostetik. Tapi lebih dari 1.200 lainnya masih terjebak, menunggu penyeberangan dibuka. Pemulihan mereka menggantung di antara hidup dan mati.


Luka Gizi Buruk

Sejak awal kampanye genosida Israel dan penutupan perbatasan, Gaza terjerumus ke dalam kelaparan. Makanan menjadi kenangan. Banyak keluarga hidup hanya dari lentil, jika ada.

Menurut Kementerian Kesehatan, 650.000 anak berisiko meninggal karena malnutrisi, termasuk 40.000 bayi tanpa susu formula. Lebih dari 5.200 anak membutuhkan evakuasi medis segera.

Ruba Omar, petugas kesehatan masyarakat di Ard El-Insan, mengatakan bahkan anak dengan alergi gandum kini meninggal karena tak ada tepung jagung sebagai pengganti.

“Kami mencatat tiga kematian hanya karena alergi gandum,” ujarnya.

Huda Abu Al-Naja, 8 tahun, meninggal akibat malnutrisi akut setelah tujuh bulan menunggu perbatasan Rafah dibuka. Sebelum perang, berat badannya 30 kilogram. Setelah blokade, rambutnya rontok, kulitnya mengelupas, hingga akhirnya ia menyerah dalam penantian.

Huda Abu Al-Naja, 8 tahun

Seleen Wadi, balita di bawah dua tahun, kini menderita gizi buruk parah dengan kekurangan protein. Tubuhnya bengkak dan lemah.

“Aku berdoa dia sembuh, jika saja kami bisa mendapat makanan, air mineral, daging, dan telur,” ujar ibunya.

Menurut data rumah sakit Nasser, 453 anak meninggal akibat kelaparan, dan 80% populasi Gaza kini tidak lagi divaksinasi. Anak-anak menghadapi ancaman ganda: lapar dan penyakit.

Seleen Wadi

Jejak Luka Sejak dalam Kandungan

Bahkan bayi yang belum lahir tak luput dari dampak perang.

Dr. Ziad Abu Taha, dokter kandungan di Rumah Sakit Nasser, mengatakan pengeboman, blokade, dan pengungsian telah menyebabkan lonjakan keguguran, kelahiran prematur, dan cacat lahir. Pada 2025 saja, 400 kasus cacat janin tercatat.

Zat kimia beracun dari senjata Israel menyebabkan anemia dan gangguan pertumbuhan janin. Bayi lahir dengan cacat otak, jantung, hingga tanpa tengkorak sempurna.

Bidan Dina Qeshta dari Rumah Sakit Lapangan Palang Merah di Khan Younis mengatakan bahwa penghancuran satu-satunya pusat IVF dan fertilitas di Gaza oleh Israel telah membuat banyak perempuan kehilangan akses terhadap layanan reproduksi.

“Pemadaman listrik dan inkubator yang penuh memaksa para perempuan melahirkan di dalam tenda,” ujarnya. “Banyak dari mereka meninggal sebelum sempat mencapai rumah sakit.”

Sementara itu, sumber medis melaporkan peningkatan tajam kasus cacat lahir pada janin, yang dikaitkan dengan paparan gas beracun dan radiasi akibat pengeboman Israel.

Menurut Dr. Mohammed Abu Afash, Direktur Bantuan Medis di Gaza City dan Gaza Utara, tingkat cacat janin kini melampaui 25 persen — angka yang ia sebut “mengkhawatirkan, berbahaya, dan belum pernah terjadi sebelumnya.”

Ia mengungkapkan kasus-kasus mengejutkan, termasuk janin yang lahir dengan setengah tengkorak, serta bayi yang menderita cacat mata, gangguan pernapasan, dan kehilangan anggota tubuh. Selain itu, terjadi lonjakan keguguran din dan kelahiran prematur.

Abu Afash memperingatkan ancaman serius terhadap 150.000 ibu hamil di Jalur Gaza akibat paparan bahan kimia beracun dan lemahnya sistem kekebalan tubuh. Ia juga mencatat bahwa peralatan diagnostik untuk mendeteksi cacat janin dini kini tidak tersedia karena laboratorium dan klinik dihancurkan serta pasokan medis diblokade oleh Israel.

Sementara itu, Dr. Marwan Al-Hams, Direktur Jenderal Rumah Sakit Gaza, menyatakan bahwa tingkat cacat janin kini jauh melebihi rata-rata global, yakni sekitar 200 kasus per 1.000 kelahiran, dibandingkan rata-rata 40 kasus menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 55.000 bayi lahir selama 18 bulan terakhir, termasuk 144 kasus cacat lahir yang terdokumentasi.

Menurut Dr. Munir Al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, cacat-cacat ini sangat mungkin terkait dengan senjata baru Israel yang diuji langsung terhadap warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

Dari amputasi hingga kelaparan, dari cacat lahir hingga trauma yang tak kunjung sembuh, anak-anak Gaza memikul beban paling berat dari genosida Israel.
Penderitaan mereka tidak berakhir dengan gencatan senjata rapuh itu — justru, itulah kini menjadi kehidupan mereka yang baru.

ditulis oleh : Enas Wajeeh (Quds News Network)

Tags: GazaPalestina
Previous Post

Israel Langgar Gencatan Senjata: 42 Warga Gaza Syahid dalam Serangan Hari Minggu

Next Post

Jumlah Korban Syahid di Gaza Terus Bertambah, Puluhan Jenazah Dimakamkan Tanpa Dikenali

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia

Related Posts

Sudah Berapa Kali Israel Melanggar Gencatan Senjata di Gaza dalam Empat Bulan?
Laporan Khusus

Sudah Berapa Kali Israel Melanggar Gencatan Senjata di Gaza dalam Empat Bulan?

11 Februari 2026
Lahir sebagai Pengungsi, Dikenang sebagai Simbol: Siapakah Abu Obeida?
Laporan Khusus

Lahir sebagai Pengungsi, Dikenang sebagai Simbol: Siapakah Abu Obeida?

2 Januari 2026
Gencatan Senjata Gaza? Data Menunjukkan Jawabannya: Tidak
Laporan Khusus

Gencatan Senjata Gaza? Data Menunjukkan Jawabannya: Tidak

27 November 2025
Next Post
Jumlah Korban Syahid di Gaza Terus Bertambah, Puluhan Jenazah Dimakamkan Tanpa Dikenali

Jumlah Korban Syahid di Gaza Terus Bertambah, Puluhan Jenazah Dimakamkan Tanpa Dikenali

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • PBB: Israel Blokir Sejumlah Misi Kemanusiaan di Gaza
  • Sudah Berapa Kali Israel Melanggar Gencatan Senjata di Gaza dalam Empat Bulan?
  • Tujuh Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Serangan Israel di Gaza, Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut
  • UNICEF: 37 Anak Palestina Menjadi Korban Jiwa di Gaza Sejak Awal Tahun, Gencatan Senjata Gagal Lindungi Warga Sipil
  • Suara Langit Indonesia Tebar Manfaat Lewat Bakti Sosial di Gunung Kidul

Kategori

  • Berita
  • Laporan Khusus
  • Penyaluran
  • Uncategorized

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia (SLI) adalah lembaga kemanusiaan yang resmi berdiri dan berbadan hukum pada tanggal 5 Januari 2020. SLI menyelenggarakan berbagai kegiatan kemanusiaan dengan pendekatan dakwah, sosial, pendidikan, dan bantuan darurat.

Rekening Donasi

•BNI 2444266609
•BSI 7236-30881-7
•MANDIRI 170-00-1300772-3
A.N. Yayasan Suara Langit Indonesia

Konfirmasi transfer

• Admin SLI:‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪ 0813 3946 8790
‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬(Whatsapp)

Ikuti Kami

Dana yang didonasikan melalui Suara Langit Indonesia sepenuhnya sah, halal, serta tidak terkait pencucian uang, terorisme, atau tindak kejahatan lainnya.

  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In