GAZA = Seorang anak Palestina menjadi korban jiwa setelah alat peledak yang ditinggalkan oleh pasukan Israel meledak di Gaza bagian selatan. Sementara itu, pasukan Israel terus melancarkan serangan di wilayah yang telah hancur akibat perang, menewaskan tiga warga sipil lainnya.
Rumah Sakit Nasser di Khan Younis mengumumkan bahwa seorang anak Palestina tewas pada Sabtu setelah alat peledak sisa pasukan Israel meledak di wilayah tersebut.
Pejabat kesehatan di Gaza dan PBB telah berulang kali memperingatkan bahwa bom-bom yang belum meledak yang ditinggalkan oleh Israel mengancam nyawa ribuan warga di seluruh Jalur Gaza.
Menurut Munir al-Bursh, “Setiap hari rumah sakit menerima anak-anak dengan luka mengerikan — tubuh robek, anggota badan terputus, dan wajah yang kehilangan bentuknya.”
Ia menambahkan bahwa pasukan pendudukan Israel menggunakan cara-cara keji, menyembunyikan bahan peledak di dalam boneka, mainan beruang, atau burung kecil untuk memancing anak-anak mendekat sebelum meledak.
Walikota Gaza sebelumnya mengatakan bahwa pembatasan Israel terhadap masuknya alat berat telah melumpuhkan upaya kota untuk membersihkan reruntuhan dan membangun kembali infrastruktur penting, sementara puluhan ribu ton bom sisa Israel masih tersebar dan membahayakan warga di seluruh Jalur Gaza.
Menyebutnya sebagai “bom waktu”, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina Mahmoud Basal mengatakan bahwa Israel menjatuhkan sedikitnya 200.000 ton bahan peledak di Gaza, dengan sekitar 70.000 ton di antaranya tidak meledak.
Banyak anak-anak menjadi korban karena mengira bom-bom itu adalah mainan.
Kepala Badan PBB untuk Pembersihan Ranjau (UNMAS), Luke David Irving, mengatakan bahwa 328 orang telah tewas atau terluka akibat bahan peledak yang belum meledak sejak Oktober 2023, dan memperkirakan bahwa 5–10% senjata yang ditembakkan ke Gaza gagal meledak, secara efektif mengubah Gaza menjadi ladang ranjau.
Puluhan ribu ton bom, termasuk ranjau darat, peluru mortir, dan bom besar yang mampu menghancurkan bangunan beton, masih terkubur di berbagai wilayah Gaza.
Basal mengatakan bahwa pembersihan bahan peledak ini bisa memakan waktu bertahun-tahun dan biaya jutaan dolar.
“Kami berbicara tentang sekitar 71.000 ton bahan peledak yang masih ada di Jalur Gaza,” ujar Basal.
“Bahan peledak ini dapat meledak kapan saja — saat disentuh anak-anak, atau ketika tim penyelamat berusaha mengevakuasi jenazah. Sedikit benturan saja bisa memicu ledakan besar.”
Serangan Israel Masih Berlanjut
Selain insiden tersebut, seorang warga Palestina tewas dalam serangan drone Israel terhadap sekelompok orang di kota Bani Suheila, timur Khan Younis, pada Ahad pagi.
Sumber lokal juga melaporkan bahwa seorang pria tewas di kamp pengungsi Bureij akibat tembakan artileri Israel, dan satu warga lainnya gugur di Gaza bagian utara pada Sabtu.
Pada Ahad pagi, seorang perempuan terluka setelah drone Israel menjatuhkan bom ke arah sekelompok warga yang sedang memeriksa kondisi rumah mereka di Bani Suheila.
Dalam beberapa hari terakhir, juga dilaporkan adanya operasi penghancuran rumah oleh pasukan Israel di bagian timur Jalur Gaza.
sumber: Quds News Network





