Gaza – Keluarga-keluarga pengungsi Palestina di Gaza kembali terbangun dengan air hujan membanjiri tenda mereka, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Selimut, kasur, dan pakaian basah kuyup.
Ini menjadi musim dingin ketiga yang mereka jalani sejak dimulainya genosida dua tahun lalu oleh Israel.
Video dan foto yang beredar di media sosial pada Jumat dan Sabtu menunjukkan tenda-tenda pengungsi terendam banjir, dengan warga berusaha menguras air menggunakan ember, sementara sebagian lainnya berlindung dari hujan hanya dengan pakaian tipis.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan pihaknya menerima ratusan panggilan darurat dari warga yang terjebak di kamp pengungsian, namun “sumber daya benar-benar tidak ada.”
“Beberapa pusat penampungan kini tergenang hingga lebih dari 10 sentimeter. Kasur dan selimut basah semua. Tidak ada pilihan tersisa — karena semua pilihan telah dihancurkan Israel,” ujarnya.
Musim Dingin yang Tak Berujung
Petugas komunikasi dari lembaga Medical Aid for Palestinians (MAP) di Gaza, Mai Elawawda, menggambarkan Jumat itu sebagai “hari terberat sejak gencatan senjata.”
“Sejak pagi, hujan deras membanjiri tenda-tenda keluarga pengungsi dan sedikit barang yang masih mereka miliki. Tenda-tenda ini telah bertahan dua tahun, terbakar matahari, terkoyak serangan, dan kini runtuh oleh hujan pertama musim dingin,” katanya.
Dua rumah sakit utama di Kota Gaza juga dilaporkan terendam air hujan.
Mariam Abu Asr, warga pengungsi di kawasan Sheikh Redwan, mengatakan kepada Quds News Network:
“Selama dua hari dua malam, kami tidur di bawah hujan. Anak-anakku menggigil kedinginan. Kami tidak punya pakaian tebal, tidak cukup selimut. Dunia buta yang melihat tapi tak menolong.”
Sementara Nadeen Saeed menuturkan,
“Aku memeluk bayiku yang berusia satu tahun semalaman agar tetap hangat. Kami hanya punya satu selimut. Aku menangis karena dingin dan putus asa.”
Tiga Musim Dingin Berturut-Turut, Tanpa Atap dan Harapan
Pertahanan Sipil Gaza memperingatkan warga, terutama para pengungsi, untuk waspada terhadap banjir dan kerusakan akibat badai yang diprediksi berlangsung beberapa hari.
Departemen Meteorologi Palestina juga mengeluarkan peringatan banjir bandang di wilayah rendah Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Bagi 2,4 juta penduduk Gaza yang sebagian besar telah mengungsi, musim dingin kini identik dengan penderitaan baru.
Angin dingin, tenda robek, dan genangan air menjadi keseharian.
Farah Ashour (19), warga Tel al-Hawa, tidur setiap malam tanpa atap di atas kepalanya.
“Bagaimana kalau bom Israel jatuh lagi, meski ada gencatan senjata? Mereka kejam,” katanya.
“Musim dingin akan datang, tapi tak ada yang peduli dengan penderitaan kami.”
Farah dan keluarganya adalah bagian dari ribuan keluarga yang tinggal di tenda-tenda darurat.
“Tahun lalu, badai merobek tenda kami. Kami tidur di tanah terbuka,” kenangnya.
Sebulan Setelah Gencatan Senjata: Bantuan Masih Terblokir
Menurut UNRWA, hampir seluruh penduduk Gaza kini menjadi pengungsi.
Namun 81% bangunan di Gaza telah hancur atau rusak, membuat banyak keluarga tidak punya rumah untuk kembali.
Keluarga Farah kini tinggal di lantai dua rumah mereka yang hancur.
“Ada roket tak meledak di lantai atas,” katanya. “Tapi kami tidak punya pilihan lain.”
Meski gencatan senjata sudah berjalan sebulan, bantuan kemanusiaan masih sangat minim.
Badan pengungsi UNRWA dan Norwegian Refugee Council (NRC) menyebut bahwa Israel masih memblokir pengiriman tenda dan bahan bantuan penting.
NRC melaporkan bahwa Israel menolak 23 permintaan dari 9 lembaga kemanusiaan untuk membawa bahan tempat berlindung seperti tenda, kasur, selimut, dan peralatan dapur.
“Kami berpacu dengan waktu untuk melindungi keluarga dari dingin dan hujan,” kata Angelita Caredda, Direktur Regional NRC untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.
“Tapi hanya sebagian kecil bantuan yang berhasil masuk. Dunia harus bertindak cepat.”
93% Tenda di Gaza Tak Layak Huni
Menurut data badan koordinasi kemanusiaan PBB, 1,5 juta orang membutuhkan tenda baru dan bahan darurat, sementara 282.000 unit rumah telah rusak atau hancur.
Pemerintah Kota Gaza memperingatkan bahwa 93% tenda pengungsi telah roboh atau tidak layak dihuni.
“Jika bantuan tak segera tiba, sistem air dan sanitasi akan benar-benar kolaps,” bunyi pernyataan resmi.
Badan amal Muslims In Need (MIN) yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengirim tenda karena Israel menolak izin lembaga kemanusiaan.
“Hampir semua orang di Kota Gaza kini hidup di tenda — bahkan di jalanan tanpa perlindungan apa pun,” kata perwakilan MIN.
“Kami ingin kirim tenda sebelum musim dingin, tapi tak bisa. Kondisinya sangat menyedihkan.”
“Orang Gaza Membenci Musim Dingin”
Aya Sada, pengungsi di kamp Deir al-Balah, berkata lirih:
“Apa yang bisa membuat kami hangat malam ini? Kami hanya punya satu selimut untuk seluruh keluarga.”
Musim dingin membawa ketakutan baru bagi anak-anak Gaza — bukan hanya karena dingin dan banjir, tapi karena tak ada tempat untuk berlindung lagi.
Sumber : Quds News Network





