Sudah 46 hari lebih sejak kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Donald Trump ditandatangani. Ketika diumumkan, rakyat Palestina sempat merasakan sedikit kelegaan setelah dua tahun dihantam pengeboman tanpa henti, kelaparan, pengusiran paksa, dan berbagai bentuk kekerasan lainnya dari Israel.
Namun, hampir seketika setelah apa yang disebut sebagai gencatan senjata itu diumumkan—sementara Donald Trump bersorak menyebutnya sebagai “fajar bersejarah bagi Timur Tengah”—Israel kembali melancarkan serangan ke Jalur Gaza, melanggar gencatan senjata lebih dari 490 kali dalam 44 hari, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza pada Sabtu lalu, dan menewaskan 342 warga sipil.
Serangan terbaru terjadi pada Kamis, menewaskan 32 warga Palestina dalam serangan di berbagai wilayah Gaza. Satu keluarga di Kamp Nuseirat, Gaza tengah, lenyap dari daftar sipil setelah rumah mereka dihantam serangan.
Hari itu sebenarnya hari biasa, tidak berbeda dari hari-hari setelah dua tahun genosida. Warga Gaza sibuk mencari makanan dan air; sebagian memperbaiki tenda lusuh mereka, sementara lainnya masih berkabung atas kehilangan keluarga dalam serangan-serangan sebelumnya. Namun sekali lagi, Israel menghancurkan secercah normalitas yang rapuh itu.
Pelanggaran Israel tidak berhenti pada serangan langsung; Israel terus menggunakan kelaparan sebagai senjata perang terhadap rakyat Palestina, bahkan setelah mereka melalui dua tahun kelaparan parah. Menurut Program Pangan Dunia (WFP), hanya setengah dari bantuan pangan yang dibutuhkan yang saat ini masuk ke Gaza, sementara warga Palestina mengatakan total bantuan yang masuk hanya seperempat dari yang dijanjikan dalam gencatan senjata. Israel juga mencegah masuknya makanan bergizi seperti daging, susu, dan sayur-mayur, serta obat-obatan, tenda, dan peralatan lain yang diperlukan untuk bertahan hidup—namun pada saat yang sama membanjiri pasar dengan makanan olahan tinggi kalori.
Trump mengatakan kepada seorang jurnalis Palestina pekan lalu bahwa “banyak kemajuan sedang terjadi,” dan bahwa rakyat Palestina “menyukainya” serta “keadaan mereka membaik.”
Namun bagi warga Gaza, gencatan senjata yang dirancang Trump hanyalah kedok untuk melanjutkan pengusiran, genosida, dan upaya penghapusan bangsa Palestina. Jarak antara kata-kata Trump dan kenyataan di lapangan tidak bisa lebih jauh. Anak-anak Gaza terus meninggal akibat malnutrisi dan penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Keluarga-keluarga terjebak di tempat penampungan yang sesak tanpa air bersih atau listrik. Sekolah, rumah sakit, dan pasar hancur menjadi puing, sementara media internasional tetap banyak bungkam, memperkuat narasi palsu tentang “kemajuan” yang dijadikan propaganda Trump.
Meski demikian, Israel tetap menerima dukungan diplomatik, finansial, dan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya—terbaru adalah pengesahan Resolusi 2803 oleh Dewan Keamanan PBB pada 17 November, dalam apa yang disebut banyak pihak sebagai “hari yang memalukan,” yang mendukung rencana 20 poin Trump untuk Gaza—rencana yang dianggap rakyat Palestina sebagai upaya untuk mencabut hak mereka mengatur diri sendiri. Sikap permisif komunitas internasional membuat pelanggaran ini terus berlangsung, meninggalkan warga Gaza dalam kondisi ketakutan, kelaparan, dan penindasan tanpa akhir.
Gencatan senjata yang dulu dipandang sebagai tali penyelamat, kini berubah menjadi alat untuk melegitimasi genosida dan pengusiran sistematis yang berkelanjutan. Bagi rakyat Palestina, “fajar bersejarah” yang digembar-gemborkan Trump tidak lebih dari satu hari lagi di bawah pengepungan. (Nour Dawoud/Gaza Quds Network)





