Gaza – Serangan Israel kembali menyebabkan korban jiwa di Jalur Gaza, dengan sedikitnya tiga warga Palestina meninggal dunia dalam pelanggaran terbaru terhadap gencatan senjata yang rapuh dengan Hamas. Peristiwa ini terjadi sehari setelah Amerika Serikat mengumumkan dimulainya fase kedua rencana Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang Israel di wilayah Gaza yang diblokade.
Seorang anak perempuan berusia 10 tahun, seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun, dan seorang perempuan lanjut usia dilaporkan meninggal dunia akibat serangan Israel pada Jumat (16/01/2026). Insiden ini terjadi saat anggota komite teknokrat Palestina yang direncanakan untuk mengelola Gaza menggelar pertemuan perdana di Kairo guna mempersiapkan pelaksanaan fase kedua rencana perdamaian tersebut.
Kantor berita Palestina, Wafa, melaporkan bahwa pasukan Israel menembak Mohammad Raed al-Barawi (16) di Beit Lahiya, Gaza utara. Remaja tersebut meninggal dunia seketika setelah terkena tembakan di kepala, menurut laporan tersebut.
Sebelumnya, Wafa juga melaporkan meninggal dunianya Sabah Ahmed Ali Abu Jamea (62), yang ditembak oleh pasukan Israel dari kendaraan militer di sebelah barat Khan Younis, ketika militer melakukan operasi pembongkaran besar-besaran di wilayah selatan Gaza.
Al Jazeera juga memperoleh informasi bahwa seorang anak perempuan berusia 10 tahun terkena serangan bom dari pesawat nirawak Israel di Beit Lahiya dan meninggal dunia tak lama setelah tiba di Rumah Sakit Al-Shifa dalam kondisi kritis.
Dalam kurun 24 jam hingga Jumat sore, sedikitnya 15 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia. Enam di antaranya akibat pengeboman dua rumah milik keluarga al-Hawli dan al-Jarou di Deir el-Balah, Gaza tengah, pada Kamis malam. Korban jiwa termasuk seorang remaja berusia 16 tahun.
Israel pada hari yang sama mengumumkan telah membunuh Muhammad al-Hawli, seorang komandan Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, serta menyatakan telah menyerang “sejumlah target” di seluruh Jalur Gaza.
Pada Jumat, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan kelompoknya menilai Israel telah melakukan “pelanggaran baru” terhadap perjanjian gencatan senjata dengan melanjutkan serangan di Gaza.
Menurut otoritas Gaza, sedikitnya 463 warga Palestina telah meninggal dunia sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober. Sementara itu, Israel melaporkan tiga tentaranya meninggal dunia dalam periode yang sama.
Tujuh Tahun untuk Membersihkan Puing
Di tengah berlanjutnya korban jiwa di Gaza, komite teknokrat Palestina yang direncanakan akan mengelola wilayah tersebut sebagai bagian dari rencana perdamaian bertahap Presiden Trump menggelar pertemuan pertama di Kairo.
“Rakyat Palestina menaruh harapan besar pada pembentukan dan kerja komite ini untuk menyelamatkan mereka,” ujar Ali Shaath, seorang insinyur dan mantan wakil menteri Otoritas Palestina, kepada media pemerintah Mesir Al-Qahera News.
Komite Nasional untuk Administrasi Gaza akan menjalankan urusan sehari-hari di bawah pengawasan “dewan perdamaian” yang dipimpin Amerika Serikat, yang diperkirakan akan dipimpin oleh diplomat dan politisi Bulgaria, Nickolay Mladenov.
Shaath menyatakan optimisme bahwa proses rekonstruksi dan pemulihan dapat berlangsung sekitar tiga tahun. Namun, Program Pembangunan PBB (UNDP) memperkirakan dibutuhkan setidaknya tujuh tahun hanya untuk membersihkan puing-puing, itu pun dengan pasokan bahan bakar dan alat berat tanpa hambatan—sesuatu yang dinilai sulit terwujud selama Israel masih menguasai lebih dari 50 persen wilayah Gaza di balik apa yang disebut sebagai “garis kuning”.
Minim Kejelasan
Memasuki fase kedua rencana tersebut, masih terdapat ketidakjelasan terkait waktu dan sejauh mana penarikan pasukan Israel dari Gaza akan dilakukan.
Belum jelas pula bagaimana proses pelucutan senjata Hamas—salah satu poin utama rencana tersebut—akan dijalankan. Kelompok tersebut sejauh ini menolak untuk meletakkan senjata.
Meski demikian, Hamas menyambut pembentukan komite teknokrat tersebut dan menyebutnya sebagai “langkah ke arah yang benar”, serta menyatakan kesiapan untuk menyerahkan pengelolaan administrasi Gaza.
Sultan Barakat, profesor kebijakan publik di Universitas Hamad Bin Khalifa, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa persetujuan Hamas menunjukkan adanya upaya meredam perbedaan lama dengan Otoritas Palestina.
Presiden Trump tetap mengambil sikap keras terkait pelucutan senjata Hamas. Ia memperingatkan kelompok tersebut agar melakukannya “dengan cara mudah atau cara sulit”, serta menuntut agar sisa-sisa sandera Israel terakhir segera dikembalikan.
Melaporkan dari Kota Gaza, koresponden Al Jazeera Tareq Abu Azzoum mengatakan warga Gaza—ratusan ribu di antaranya hidup di tempat penampungan darurat yang rapuh di tengah musim dingin—memiliki sedikit harapan bahwa rencana politik akan menghadirkan perubahan nyata.
“Bagi sebagian besar warga di sini, janji-janji tentang fase kedua gencatan senjata terasa jauh dan abstrak, sementara kebutuhan akan makanan, tempat tinggal, air, dan keamanan tetap menjadi persoalan paling mendesak,” ujarnya.
sumber : Al Jazeera





