Gaza (QNN) – Sedikitnya tiga jurnalis Palestina yang bekerja untuk Komite Mesir untuk Bantuan Gaza menjadi korban jiwa pada Rabu saat sedang menjalankan tugas di Gaza bagian tengah, setelah serangan Israel secara sengaja menargetkan sebuah kendaraan milik komite tersebut.
Ketiga jurnalis tersebut diidentifikasi bernama Mohammed Qeshta, Abd al-Rauf Shaath, dan Anas Gneim. Salah satu korban, Shaath, diketahui baru saja menikah beberapa hari sebelumnya.
Militer Israel mengklaim mencurigai ketiganya tengah mengumpulkan informasi dan intelijen mengenai pasukan Israel, sehingga memutuskan untuk menargetkan mereka.
Namun, pada kenyataannya, ketiga jurnalis tersebut sedang merekam aktivitas kerja Komite Mesir untuk Bantuan Gaza dengan menggunakan sebuah drone.
Menurut laporan Forbidden Stories tahun lalu, sejak Oktober 2023 jurnalis Palestina dilarang merekam Gaza dari udara. Dengan tidak adanya aturan keterlibatan yang jelas, pasukan Israel menganggap jurnalis yang melakukan pengambilan gambar menggunakan drone sebagai target yang sah.
Terkait penggunaan drone, Michael Ofer-Ziv, seorang tentara Israel yang bertugas di perbatasan Gaza, mengatakan bahwa “suasana umum” di ruang kendali perang sudah sangat jelas. “Jika kami melihat seseorang mengoperasikan drone, dan drone itu bukan milik kami, maka idenya adalah menembak drone tersebut beserta orang yang menggunakannya, tanpa banyak pertanyaan,” ujarnya kepada Forbidden Stories. Namun, ketiga jurnalis yang menjadi korban jiwa tersebut tidak berada di zona pertempuran.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa dari sedikit jurnalis yang menggunakan drone untuk mendokumentasikan kehancuran akibat pendudukan Israel di Gaza, setidaknya lima orang telah menjadi korban jiwa atau mengalami luka serius akibat serangan yang disengaja.
Sumber: QNN





