• Berita
  • Penyaluran
  • Donasi
Minggu, Februari 15, 2026
  • Login
Suara Langit Indonesia
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
Mari Berdonasi
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
No Result
View All Result
Suara Langit Indonesia
No Result
View All Result
Home Berita

Laporan Ungkap Rencana Israel Mengosongkan Gaza Lewat Kamp Pengungsian Massal

Suara Langit Indonesia by Suara Langit Indonesia
29 Januari 2026
in Berita
0
Laporan Ungkap Rencana Israel Mengosongkan Gaza Lewat Kamp Pengungsian Massal
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Gaza (QNN) – Israel dilaporkan telah menghancurkan bukti kejahatan perang dan genosida di Gaza bagian selatan untuk membangun sebuah kamp pengungsian massal bagi warga Palestina. Kamp tersebut akan dilengkapi dengan sistem pengawasan dan teknologi pengenalan wajah di pintu masuknya. Hal ini terungkap dalam sebuah laporan baru yang menyebutkan bahwa Israel bertujuan untuk mengurung warga Palestina serta memastikan jumlah penduduk yang keluar dari Gaza lebih banyak dibandingkan yang diizinkan masuk—sebuah tujuan lama yang diarahkan pada pengusiran warga Palestina dari tanah mereka.

Purnawirawan jenderal cadangan Israel, Brigadir Jenderal Amir Avivi, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kamp tersebut akan dibangun di wilayah Rafah, dengan keluar-masuk para penghuni dipantau langsung oleh personel Israel.

Avivi menyebutkan bahwa kamp itu akan digunakan untuk menampung warga Palestina yang ingin meninggalkan Gaza dan menyeberang ke Mesir, serta mereka yang memilih untuk tetap tinggal. Ia menggambarkan fasilitas tersebut sebagai “kamp besar yang terorganisasi” dan diperkirakan mampu menampung ratusan ribu orang.

Israel juga berencana membatasi jumlah warga Palestina yang diizinkan masuk ke Jalur Gaza melalui perlintasan Rafah dengan Mesir, sehingga jumlah orang yang diizinkan keluar akan lebih banyak dibandingkan yang diperbolehkan masuk.

Bagi warga Palestina di Gaza, perlintasan Rafah selama ini merupakan satu-satunya akses ke dunia luar.

Pasukan Israel menduduki sisi Palestina dari perlintasan tersebut pada Mei 2024, menghancurkan bangunan-bangunannya, menghentikan perjalanan, dan memicu krisis kemanusiaan yang parah, khususnya bagi para pasien. Israel juga mengerahkan pasukan di zona penyangga militer sepanjang Koridor Philadelphi, yang hingga kini masih mereka kuasai.

Fase pertama dari rencana gencatan senjata Gaza 20 poin yang diusulkan Trump—yang mulai berlaku pada Oktober untuk menghentikan perang genosida Israel di Gaza—menyerukan agar Israel mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dan membuka kembali “perlintasan Rafah.” Namun, Israel melanggar kesepakatan tersebut dengan tetap menutup perlintasan, menyebabkan ratusan warga sipil menjadi korban jiwa, serta menghalangi bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Tiga sumber yang mengetahui persoalan ini mengatakan kepada Reuters bahwa hingga kini belum jelas bagaimana Israel akan menerapkan pembatasan jumlah warga Palestina yang masuk ke Gaza atau kembali dari Mesir, maupun rasio keluar-masuk yang ingin dicapai.

Ketiga sumber tersebut juga menyebutkan bahwa Israel berencana mendirikan pos pemeriksaan militer di dalam Gaza dekat perbatasan, yang akan mewajibkan seluruh warga Palestina yang masuk atau keluar untuk melewatinya dan menjalani pemeriksaan keamanan oleh Israel.

Dua sumber lain yang mengonfirmasi rencana pos pemeriksaan militer tersebut mengatakan bahwa belum jelas bagaimana nasib individu yang dilarang melintas oleh Israel, terutama mereka yang masuk dari Mesir.

Para pejabat Israel berulang kali menyerukan pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza, pendudukan wilayah tersebut, serta pembangunan permukiman ilegal. Warga Palestina khawatir rencana-rencana ini bertujuan mengusir mereka secara permanen, atau mencegah mereka kembali meskipun kepergian hanya bersifat sementara.

Pada Juli lalu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan rencana pemindahan paksa seluruh penduduk Jalur Gaza ke sebuah “zona kemanusiaan” di atas reruntuhan sebagian wilayah Rafah. Para pakar dan kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa rencana tersebut mencerminkan upaya sistematis untuk mengosongkan Gaza dan menciptakan realitas demografis baru yang mendukung proyek kolonial guna menghapus keberadaan Palestina.

Euro-Med Monitor menyatakan, “Hal ini pada dasarnya merupakan pembentukan kamp konsentrasi massal tertutup, di mana penduduk akan ditahan secara paksa di luar kerangka hukum yang sah.”

Laporan-laporan tersebut muncul bersamaan dengan pengumuman Israel pekan ini mengenai rencana pembukaan kembali perlintasan Rafah dalam waktu dekat, menyusul pembebasan sandera Israel terakhir yang ditahan di Gaza. Jika mulai beroperasi, warga Palestina akan dapat keluar-masuk Jalur Gaza yang terkepung, namun mereka yang masuk akan menjalani pemeriksaan keamanan yang jauh lebih ketat, menurut Radio Angkatan Darat Israel.

Seluruh pelintas diwajibkan memperoleh persetujuan dari Mesir, sementara mereka yang memasuki Gaza akan menjalani pemeriksaan keamanan intensif oleh Israel.

Situs berita Israel Walla mengutip seorang pejabat militer Israel yang mengatakan bahwa perlintasan Rafah akan dibuka dua arah pada hari Minggu.

Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah pendudukan Israel, meskipun komunitas internasional terus mendesak agar perlintasan penting tersebut akhirnya dibuka untuk pergerakan manusia dan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Laporan mengenai rencana kamp pengungsian massal di Rafah ini muncul di tengah upaya Israel menghancurkan bukti kejahatan perang dan genosida di kota Gaza selatan melalui pembersihan puing-puing dan perataan tanah. Langkah ini juga menghalangi upaya pemulihan jenazah korban. Militer Israel mengonfirmasi bahwa setidaknya 70 persen proses pembersihan puing di kota tersebut telah selesai.

Euro-Med memperingatkan bahwa operasi ini terus berlangsung meskipun terdapat indikasi kuat bahwa ratusan jenazah masih terkubur di bawah rumah-rumah, jalanan, dan lahan pertanian yang hancur. Penggunaan alat berat berisiko merusak sisa-sisa jasad, menghapus lokasi keberadaannya, serta membuat proses pemulihan dan identifikasi menjadi mustahil.

Kelompok tersebut juga menyatakan telah mendokumentasikan pengeboman rumah-rumah saat penghuninya masih berada di dalam, serta serangan terhadap warga sipil yang berusaha melarikan diri. Tim penyelamat tidak dapat menjangkau banyak korban akibat kendali militer Israel dan akses yang diblokade. Pembersihan puing-puing saat ini, menurut mereka, memperpanjang penghalangan tersebut dan meningkatkan risiko penghapusan bukti terkait nasib para korban.

Euro-Med juga memperingatkan bahwa penggunaan alat berat dapat menghancurkan atau mencampur sisa-sisa jasad dengan puing-puing yang kemudian dipindahkan ke lokasi tak dikenal atau tempat pembuangan akhir. Hal ini dinilai melanggar martabat korban yang meninggal dunia serta hak keluarga untuk mengetahui, berduka, dan memakamkan orang-orang tercinta mereka.


Tags: GazaPalestina
Previous Post

Yayasan Suara Langit Indonesia Gelar Pengobatan Gratis untuk Warga Ngargoyoso

Next Post

Israel Akui Sekitar 71.000 Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Genosida Gaza, Terima Data Kementerian Kesehatan Palestina

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia

Related Posts

Tujuh Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Serangan Israel di Gaza, Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut
Berita

Tujuh Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Serangan Israel di Gaza, Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut

11 Februari 2026
UNICEF: 37 Anak Palestina Menjadi Korban Jiwa di Gaza Sejak Awal Tahun, Gencatan Senjata Gagal Lindungi Warga Sipil
Berita

UNICEF: 37 Anak Palestina Menjadi Korban Jiwa di Gaza Sejak Awal Tahun, Gencatan Senjata Gagal Lindungi Warga Sipil

8 Februari 2026
Genosida Berlanjut: Serangan Israel Sebabkan 31 Warga Palestina Syahid, Kantor Polisi dan Tenda Pengungsi Diserang
Berita

Genosida Berlanjut: Serangan Israel Sebabkan 31 Warga Palestina Syahid, Kantor Polisi dan Tenda Pengungsi Diserang

1 Februari 2026
Next Post
Israel Akui Sekitar 71.000 Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Genosida Gaza, Terima Data Kementerian Kesehatan Palestina

Israel Akui Sekitar 71.000 Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Genosida Gaza, Terima Data Kementerian Kesehatan Palestina

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • PBB: Israel Blokir Sejumlah Misi Kemanusiaan di Gaza
  • Sudah Berapa Kali Israel Melanggar Gencatan Senjata di Gaza dalam Empat Bulan?
  • Tujuh Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Serangan Israel di Gaza, Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut
  • UNICEF: 37 Anak Palestina Menjadi Korban Jiwa di Gaza Sejak Awal Tahun, Gencatan Senjata Gagal Lindungi Warga Sipil
  • Suara Langit Indonesia Tebar Manfaat Lewat Bakti Sosial di Gunung Kidul

Kategori

  • Berita
  • Laporan Khusus
  • Penyaluran
  • Uncategorized

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia (SLI) adalah lembaga kemanusiaan yang resmi berdiri dan berbadan hukum pada tanggal 5 Januari 2020. SLI menyelenggarakan berbagai kegiatan kemanusiaan dengan pendekatan dakwah, sosial, pendidikan, dan bantuan darurat.

Rekening Donasi

•BNI 2444266609
•BSI 7236-30881-7
•MANDIRI 170-00-1300772-3
A.N. Yayasan Suara Langit Indonesia

Konfirmasi transfer

• Admin SLI:‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪ 0813 3946 8790
‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬(Whatsapp)

Ikuti Kami

Dana yang didonasikan melalui Suara Langit Indonesia sepenuhnya sah, halal, serta tidak terkait pencucian uang, terorisme, atau tindak kejahatan lainnya.

  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In