Gaza (QNN) – Hanya beberapa meter dari balok beton bercat kuning yang dipasang militer Israel untuk menandai garis penempatan ulang terbaru mereka, Shimaa Ali tengah menyiapkan sarapan bagi keluarganya: suami, dua anaknya—Amer dan Tala—serta kucing peliharaan mereka, Zomorroda.
Tiba-tiba, tank-tank Israel mendekat. Dalam hitungan detik, tembakan dilepaskan secara acak dan intens ke bangunan-bangunan yang tersisa setelah dua tahun genosida.
Anak-anaknya berteriak ketakutan saat tank-tank berhenti tak jauh dari rumah mereka yang telah rusak parah. Peluru menembus dinding dan lembaran plastik yang mereka pasang sebagai perlindungan.
“Ini bukan pertama kalinya, dan bukan yang terakhir,” ujar Shimaa kepada Quds News Network dari rumahnya di Kamp Al-Maghazi, Gaza tengah, yang berada dekat apa yang disebut sebagai “Garis Kuning.”
Karena tangga rumah mereka hancur akibat serangan sebelumnya, keluarga itu bahkan tidak memiliki akses aman untuk turun ke lantai bawah.
“Dalam satu menit pasukan sudah berada di dekat kami, dan dalam lima menit kami harus keluar dari rumah sementara peluru hampir mengenai kami,” katanya.
Shimaa menyebut situasi itu seperti “permainan lari atau mati—jika tidak lari, atau tidak sempat, Anda pasti akan menjadi korban jiwa.”
Ia mengatakan pasukan Israel mengetahui keluarganya berada di dalam rumah. “Ketika kami keluar, mereka berhenti menembak. Saat kami di dalam, mereka menembak intensif,” ujarnya. Bahkan sebuah drone quadcopter pernah memerintahkan mereka keluar, namun tanpa memberi waktu untuk mengungsi sementara tembakan tetap diarahkan.
Apa Itu “Garis Kuning”?
Pada 10 Oktober 2025, pasukan Israel menyelesaikan fase pertama penarikan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata ke apa yang disebut “Garis Kuning”, yakni garis demarkasi non-fisik yang memisahkan pasukan pendudukan Israel dari sebagian wilayah Gaza—sementara sekitar 53 persen wilayah tetap berada di bawah kontrol militer Israel.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan siapa pun yang berada di luar garis tersebut akan menjadi sasaran tanpa peringatan.
Menurut peta yang diajukan dalam rencana gencatan senjata 20 poin Presiden AS Donald Trump, garis ini membentang dari selatan Gaza utara hingga pinggiran Rafah di selatan.
Militer Israel memasang balok beton dengan tiang bercat kuning setinggi 3,5 meter setiap 200 meter untuk menandai batas imajiner tersebut—batas antara hidup dan mati bagi warga Palestina.
Garis ini membagi Gaza menjadi dua zona: wilayah timur di bawah kendali militer Israel dan wilayah barat tempat warga Palestina tinggal dalam ancaman serangan terus-menerus.
Hidup di Bawah Ancaman
Di sekitar rumah Shimaa, suara drone terus berdengung. Tank-tank berjaga di dekat penghalang beton kuning.
Tala mengatakan mereka sering terbangun pukul 6 pagi oleh suara tembakan harian. Pada malam hari, keluarga itu takut menyalakan lampu karena khawatir menjadi sasaran.
“Tidak ada rasa aman di Gaza,” kata Shimaa.
Amer, 13 tahun, mengatakan hidup dekat garis itu seperti permainan dengan aturan bertahan hidup. “Kami tahu bagian rumah mana yang harus dihindari, di mana harus bersembunyi, dan kapan aman ke kamar mandi atau mandi cepat, jika sempat,” katanya.
Foto yang diperoleh Quds News Network menunjukkan puluhan lubang peluru di dinding rumah mereka.
Shimaa mengatakan kondisi ini memicu kecemasan dan trauma mendalam pada anak-anaknya. Amer bahkan mengalami nyeri telinga akibat ledakan dan tembakan yang terus-menerus.
Tala mengaku sulit berkonsentrasi di sekolah. “Saya tidur dalam ketakutan dan bangun bersyukur masih hidup. Saya kelelahan setiap hari,” katanya.
Tangki air rumah mereka rusak akibat kebakaran. Kini mereka tidak memiliki air maupun listrik.
Keluarga itu selalu siap mengungsi. Barang-barang mereka sudah dikemas dalam tas. “Jika tank mendekat, kami langsung lari,” kata Tala. “Kami hanya menghabiskan empat hari di rumah, sisanya berlindung di tempat lain.”
Amer menambahkan, “Kami bahkan tidak memasak. Hanya makan roti atau makanan cepat, karena berisiko.”
Bahkan kucing mereka, Zomorroda, tampaknya merasakan kedatangan tank sebelum terdengar jelas—mulai gelisah dan menatap tajam ke arah timur.
Pelanggaran Gencatan Senjata Berlanjut
Sejak kesepakatan gencatan senjata ditandatangani pada 10 Oktober, Israel telah melanggarnya lebih dari 1.620 kali, termasuk melalui serangan udara, penembakan, penghancuran rumah, dan penculikan.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 600 warga Palestina menjadi korban jiwa dan sekitar 1.600 lainnya luka-luka sejak gencatan senjata dimulai. Di antara korban terdapat 292 anak-anak, perempuan, dan lansia, dan 99 persen korban merupakan warga sipil.
Secara keseluruhan, lebih dari 72.000 warga Palestina telah menjadi korban jiwa sejak perang genosida Israel dimulai pada Oktober 2023.
Israel juga terus membatasi masuknya bantuan penting, termasuk material hunian, obat-obatan, dan bahan bakar.
Amer menutup dengan kalimat sederhana:
“Ini tidak adil. Ini bukan kehidupan. Perang belum berakhir, dan Israel berbohong kepada dunia.”
Sumber: QNN





