Gaza City – Bulan suci Ramadan tahun ini kembali dilalui tanpa sukacita bagi banyak keluarga di Jalur Gaza. Di antara mereka adalah Nisreen Nassar, yang bersama suami dan tujuh anaknya masih bertahan hidup di sebuah sekolah yang dijadikan tempat penampungan darurat di Gaza utara.
Menjelang waktu berbuka puasa pada Kamis sore, Nisreen membungkuk di atas oven daruratnya, membakar kayu dan potongan plastik demi memanggang roti agar keluarganya dapat berbuka (iftar).
Empat bulan setelah “gencatan senjata” yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada Oktober, ia tak pernah membayangkan harus menjalani Ramadan di sekolah kosong, memasak dengan api terbuka di tengah reruntuhan kota.
“Persiapan dan harapan kami untuk Ramadan kali ini adalah lebih baik daripada Ramadan-Ramadan sebelumnya selama perang. Namun sayangnya, justru lebih buruk,” ujar Nisreen kepada Al Jazeera melalui laporan jurnalis Hani Mahmoud dari Gaza City.
Hidup dari Bantuan, Bertahan Tanpa Kepastian
Keluarga Nassar adalah satu dari ribuan keluarga Palestina yang masih tinggal di sekolah-sekolah dan tempat penampungan darurat di Gaza utara. Mereka sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk kebutuhan dasar.
Kelangkaan gas membuat mereka hampir tidak mampu menyiapkan makanan untuk berbuka. Oven tradisional berbahan kayu dan plastik menjadi satu-satunya pilihan.
Sebelum perang genosida Israel dimulai pada Oktober 2023, Nisreen, suaminya Thaer, dan ketujuh anak mereka tinggal di Beit Hanoon, wilayah timur laut Gaza. Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 72.000 warga Palestina telah menjadi korban jiwa sejak perang tersebut dimulai.
Sejak itu, keluarga Nassar telah beberapa kali mengungsi—dari Beit Hanoon ke Rafah dan Khan Younis di selatan—sebelum akhirnya kembali ke Gaza utara dan menetap di sekolah pengungsian.
Kini mereka masih menunggu keputusan yang memungkinkan kembali ke rumah, atau setidaknya ke sisa bangunan yang masih berdiri.
Ramadan kali ini menjadi Ramadan ketiga yang mereka jalani di pengungsian.
Anak-Anak Tumbuh dalam Ketakutan
Di ruang kelas yang disulap menjadi tempat tinggal, anak-anak keluarga Nassar tidak tidur di ranjang, melainkan langsung di lantai. Harta benda mereka hanya beberapa tas pakaian dan selimut tipis.
Thaer mengatakan anak-anaknya takut keluar akibat tembakan pasukan Israel yang terus terjadi, meski gencatan senjata berlaku.
“Anak-anak saya hidup dalam ketakutan, baik saat keluar ke jalan maupun ketika tetap di tempat penampungan ini. Dulu mereka bisa bermain bola, pergi ke sekolah, lalu pulang ke rumah.”
Serangan dan pelanggaran gencatan senjata masih terjadi di berbagai wilayah Gaza, membuat warga sipil terus hidup dalam kecemasan.
Ramadan di Tengah Keteguhan
Meski tanpa rumah, tanpa kepastian, dan tanpa rasa aman, warga Palestina tetap menjalankan ibadah Ramadan dengan keteguhan.
Menurut laporan dari Gaza City, bagi banyak keluarga yang berlindung di sekolah tersebut, momen berbuka puasa bukan sekadar makan malam sederhana, melainkan simbol ketahanan spiritual.
“Iftar adalah perayaan keteguhan yang tidak dapat dipatahkan oleh genosida Israel dan masa depan yang masih jauh dari pasti,” demikian laporan tersebut.
Di tengah reruntuhan dan pengungsian, Ramadan tetap menjadi pengingat iman—meski tanpa cahaya, tanpa listrik, dan tanpa rumah untuk kembali.
Sumber: QNN / Al Jazeera





