• Berita
  • Penyaluran
  • Donasi
Selasa, Maret 17, 2026
  • Login
Suara Langit Indonesia
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
Mari Berdonasi
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
No Result
View All Result
Suara Langit Indonesia
No Result
View All Result
Home Berita

Tanpa Sukacita Ramadan, Keluarga Gaza Bertahan di Sekolah Pengungsian

Suara Langit Indonesia by Suara Langit Indonesia
21 Februari 2026
in Berita
0
Tanpa Sukacita Ramadan, Keluarga Gaza Bertahan di Sekolah Pengungsian
0
SHARES
16
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Gaza City – Bulan suci Ramadan tahun ini kembali dilalui tanpa sukacita bagi banyak keluarga di Jalur Gaza. Di antara mereka adalah Nisreen Nassar, yang bersama suami dan tujuh anaknya masih bertahan hidup di sebuah sekolah yang dijadikan tempat penampungan darurat di Gaza utara.

Menjelang waktu berbuka puasa pada Kamis sore, Nisreen membungkuk di atas oven daruratnya, membakar kayu dan potongan plastik demi memanggang roti agar keluarganya dapat berbuka (iftar).

Empat bulan setelah “gencatan senjata” yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada Oktober, ia tak pernah membayangkan harus menjalani Ramadan di sekolah kosong, memasak dengan api terbuka di tengah reruntuhan kota.

“Persiapan dan harapan kami untuk Ramadan kali ini adalah lebih baik daripada Ramadan-Ramadan sebelumnya selama perang. Namun sayangnya, justru lebih buruk,” ujar Nisreen kepada Al Jazeera melalui laporan jurnalis Hani Mahmoud dari Gaza City.


Hidup dari Bantuan, Bertahan Tanpa Kepastian

Keluarga Nassar adalah satu dari ribuan keluarga Palestina yang masih tinggal di sekolah-sekolah dan tempat penampungan darurat di Gaza utara. Mereka sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk kebutuhan dasar.

Kelangkaan gas membuat mereka hampir tidak mampu menyiapkan makanan untuk berbuka. Oven tradisional berbahan kayu dan plastik menjadi satu-satunya pilihan.

Sebelum perang genosida Israel dimulai pada Oktober 2023, Nisreen, suaminya Thaer, dan ketujuh anak mereka tinggal di Beit Hanoon, wilayah timur laut Gaza. Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 72.000 warga Palestina telah menjadi korban jiwa sejak perang tersebut dimulai.

Sejak itu, keluarga Nassar telah beberapa kali mengungsi—dari Beit Hanoon ke Rafah dan Khan Younis di selatan—sebelum akhirnya kembali ke Gaza utara dan menetap di sekolah pengungsian.

Kini mereka masih menunggu keputusan yang memungkinkan kembali ke rumah, atau setidaknya ke sisa bangunan yang masih berdiri.

Ramadan kali ini menjadi Ramadan ketiga yang mereka jalani di pengungsian.


Anak-Anak Tumbuh dalam Ketakutan

Di ruang kelas yang disulap menjadi tempat tinggal, anak-anak keluarga Nassar tidak tidur di ranjang, melainkan langsung di lantai. Harta benda mereka hanya beberapa tas pakaian dan selimut tipis.

Thaer mengatakan anak-anaknya takut keluar akibat tembakan pasukan Israel yang terus terjadi, meski gencatan senjata berlaku.

“Anak-anak saya hidup dalam ketakutan, baik saat keluar ke jalan maupun ketika tetap di tempat penampungan ini. Dulu mereka bisa bermain bola, pergi ke sekolah, lalu pulang ke rumah.”

Serangan dan pelanggaran gencatan senjata masih terjadi di berbagai wilayah Gaza, membuat warga sipil terus hidup dalam kecemasan.


Ramadan di Tengah Keteguhan

Meski tanpa rumah, tanpa kepastian, dan tanpa rasa aman, warga Palestina tetap menjalankan ibadah Ramadan dengan keteguhan.

Menurut laporan dari Gaza City, bagi banyak keluarga yang berlindung di sekolah tersebut, momen berbuka puasa bukan sekadar makan malam sederhana, melainkan simbol ketahanan spiritual.

“Iftar adalah perayaan keteguhan yang tidak dapat dipatahkan oleh genosida Israel dan masa depan yang masih jauh dari pasti,” demikian laporan tersebut.

Di tengah reruntuhan dan pengungsian, Ramadan tetap menjadi pengingat iman—meski tanpa cahaya, tanpa listrik, dan tanpa rumah untuk kembali.


Sumber: QNN / Al Jazeera

Tags: GazaPalestina
Previous Post

“Kembali dari Neraka”: Jurnalis Palestina di Penjara Israel Ungkap Penyiksaan, Kekerasan Seksual, dan Kelaparan

Next Post

Laporan: Israel Terbitkan 22.000 Izin bagi Permukim, Hanya 66 untuk Warga Palestina

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia

Related Posts

Kekerasan Israel Berlanjut, 16 Warga Palestina Gugur dalam Satu Hari
Berita

Kekerasan Israel Berlanjut, 16 Warga Palestina Gugur dalam Satu Hari

17 Maret 2026
Untuk Pertama Kalinya, Masjid Al-Aqsa Kosong pada Malam Lailatul Qadar di Tengah Penutupan oleh Israel
Berita

Untuk Pertama Kalinya, Masjid Al-Aqsa Kosong pada Malam Lailatul Qadar di Tengah Penutupan oleh Israel

17 Maret 2026
Israel Larang Warga Palestina Masuk dan Salat di Masjid Al-Aqsa pada Jumat Terakhir Ramadan
Berita

Israel Larang Warga Palestina Masuk dan Salat di Masjid Al-Aqsa pada Jumat Terakhir Ramadan

14 Maret 2026
Next Post
Laporan: Israel Terbitkan 22.000 Izin bagi Permukim, Hanya 66 untuk Warga Palestina

Laporan: Israel Terbitkan 22.000 Izin bagi Permukim, Hanya 66 untuk Warga Palestina

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Kekerasan Israel Berlanjut, 16 Warga Palestina Gugur dalam Satu Hari
  • Untuk Pertama Kalinya, Masjid Al-Aqsa Kosong pada Malam Lailatul Qadar di Tengah Penutupan oleh Israel
  • Israel Larang Warga Palestina Masuk dan Salat di Masjid Al-Aqsa pada Jumat Terakhir Ramadan
  • Yayasan Suara Langit Indonesia Gelar Program Berbagi Iftor Ramadhan untuk Para Penghafal Al-Qur’an
  • Tragedi Gaza: 12.000 Perempuan Palestina Gugur, 9.000 di Antaranya adalah Ibu

Kategori

  • Berita
  • Laporan Khusus
  • Penyaluran
  • Uncategorized

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia (SLI) adalah lembaga kemanusiaan yang resmi berdiri dan berbadan hukum pada tanggal 5 Januari 2020. SLI menyelenggarakan berbagai kegiatan kemanusiaan dengan pendekatan dakwah, sosial, pendidikan, dan bantuan darurat.

Rekening Donasi

•BNI 2444266609
•BSI 7236-30881-7
•MANDIRI 170-00-1300772-3
A.N. Yayasan Suara Langit Indonesia

Konfirmasi transfer

• Admin SLI:‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪ 0813 3946 8790
‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬(Whatsapp)

Ikuti Kami

Dana yang didonasikan melalui Suara Langit Indonesia sepenuhnya sah, halal, serta tidak terkait pencucian uang, terorisme, atau tindak kejahatan lainnya.

  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In