BEIRUT – Kabar duka datang dari misi perdamaian Indonesia di Lebanon. Seorang prajurit TNI dilaporkan gugur dalam serangan yang menghantam markas Pasukan Sementara PBB (UNIFIL) di wilayah selatan Lebanon pada Ahad. Sementara itu, satu prajurit lainnya mengalami luka berat dan kini dalam kondisi kritis.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, jenazah prajurit yang gugur masih berada di pos UNIFIL di Marjayoun dan belum dievakuasi. Adapun korban luka berat saat ini menjalani perawatan intensif di RS St George, Beirut.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Mabes TNI. Namun, Kementerian Luar Negeri telah mengonfirmasi insiden tersebut. Selain korban jiwa, tiga prajurit Indonesia lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, menyatakan Indonesia mengecam keras serangan tersebut dan mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh serta transparan.
“Serangan artileri tidak langsung mengenai posisi kontingen Indonesia yang berada di dekat Adchit al-Qusayr,” ujarnya.
Situasi Konflik di Lokasi
Serangan terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon selatan yang melibatkan militer Israel dan kelompok bersenjata di wilayah tersebut. Meski belum diketahui secara pasti pihak yang bertanggung jawab, serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dinilai tidak dapat dibenarkan.
Markas UNIFIL Indonesia di Aadshit al-Qusayr, distrik Marjayoun, dilaporkan terkena dampak serangan. Media lokal Lebanon menyebutkan adanya korban jiwa dan evakuasi korban luka menggunakan helikopter.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengonfirmasi bahwa sebuah proyektil meledak di dekat posisi pasukan PBB dan menyebabkan korban.
“Satu penjaga perdamaian tewas secara tragis, sementara satu lainnya mengalami luka serius,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa asal proyektil masih dalam penyelidikan.
Pola Serangan dan Dugaan Pelaku
UNIFIL mencatat sekitar 20 insiden penembakan sejak akhir Februari. Dari jumlah tersebut:
- 60% tidak diketahui asalnya
- 25% diduga berasal dari militer Israel
- 15% dari aktor non-negara di Lebanon, yang kemungkinan besar adalah Hizbullah
Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru tersebut.
Ketegangan Terus Meningkat
Markas besar UNIFIL di Naqoura juga dilaporkan beberapa kali terkena dampak serangan, termasuk tembakan dan pecahan proyektil. Bahkan, sebuah roket disebut menghantam area tersebut, diduga diluncurkan oleh kelompok bersenjata non-negara.
UNIFIL sendiri telah beroperasi di Lebanon sejak 1978 untuk memantau gencatan senjata antara Lebanon dan Israel. Mandatnya diperluas pasca konflik 2006 antara Israel dan Hizbullah melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Ancaman Krisis Kemanusiaan
Situasi di Lebanon semakin mengkhawatirkan. Sejak akhir Maret 2026, serangan udara dan pemboman telah menewaskan lebih dari 1.100 orang, termasuk anak-anak. Selain itu:
- Lebih dari 1,2 juta warga mengungsi
- Sekitar 3.400 orang mengalami luka-luka
Para ahli PBB memperingatkan bahwa kondisi ini berpotensi berkembang menjadi bencana kemanusiaan besar, terutama di wilayah Lebanon selatan yang menjadi pusat konflik.
sumber: Republika




