Gaza, Palestina – Pada Sabtu pagi, warga Palestina di Gaza berbondong-bondong turun ke jalan dan memenuhi pasar-pasar di seluruh wilayah yang dilanda perang tersebut. Mereka bergegas membeli persediaan makanan pada jam-jam pertama dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Abu Ahmed Sada mengatakan kepada Quds News Network bahwa warga berusaha membeli gula, tepung, minyak goreng, dan ragi.
“Rak-rak toko cepat kosong karena orang-orang mengambil apa pun yang bisa mereka temukan,” ujarnya.
Ketika ditanya mengapa warga menimbun makanan, Sada menjelaskan bahwa rakyat Gaza masih dihantui oleh ancaman kelaparan yang disebabkan oleh kebijakan Israel.
“Kelaparan yang dibuat oleh Israel masih menghantui warga Gaza. Setelah perang genosida, kami takut pada apa pun yang berkaitan dengan Israel. Kembalinya kelaparan adalah hal yang paling kami takuti, bahkan lebih dari pemboman,” katanya.
Kekhawatiran itu beralasan, karena Gaza tetap menjadi sasaran serangan Israel di tengah konflik yang lebih luas dengan Iran.
Israel Tutup Semua Perlintasan
Israel menutup seluruh perlintasan menuju Jalur Gaza pada Sabtu, yang merupakan jalur vital bagi masuknya bantuan kemanusiaan dan evakuasi medis bagi pasien yang membutuhkan perawatan di luar wilayah tersebut.
Penutupan itu juga mencakup perlintasan Rafah antara Gaza dan Mesir, yang baru dibuka kembali pada awal Februari untuk memungkinkan sebagian kecil warga Palestina melintas, termasuk pasien yang membutuhkan perawatan medis mendesak.
Dalam laporan Februari, Human Rights Watch menyatakan bahwa pembatasan bantuan oleh Israel terus menyebabkan kekurangan obat-obatan, peralatan rekonstruksi, makanan, dan air di Gaza.
Sementara itu, otoritas Israel melalui COGAT mengklaim bahwa makanan yang telah dikirim ke Gaza sejak awal gencatan senjata cukup untuk memenuhi empat kali kebutuhan penduduk, meskipun tanpa memberikan bukti.
Israel juga mengumumkan penundaan rotasi staf kemanusiaan yang akan masuk ke Gaza, yang menimbulkan kekhawatiran bagi organisasi bantuan yang sudah kesulitan mempertahankan operasional mereka.
Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail Ibrahim al-Thawabta, mengatakan bahwa Jalur Gaza menghadapi indikasi krisis kemanusiaan yang semakin memburuk jika pembatasan bantuan terus berlanjut.
“Tanggung jawab untuk mencegah krisis ini berada pada kekuatan pendudukan yang membatasi pasokan kemanusiaan secara jelas melanggar hukum humaniter internasional,” ujarnya.
Bantuan Jauh dari Ketentuan Gencatan Senjata
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober, Israel masih membatasi secara ketat masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Dalam perjanjian gencatan senjata disebutkan bahwa bantuan penuh akan segera dikirimkan ke Jalur Gaza. Namun kenyataannya sangat berbeda.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sejak 10 Oktober 2025 hingga 10 Februari 2026 hanya 31.178 truk bantuan yang masuk dari total 72.000 truk yang dijadwalkan, atau sekitar 43 persen dari jumlah yang seharusnya.
Para sopir truk juga melaporkan bahwa pemeriksaan Israel menyebabkan keterlambatan besar dalam distribusi bantuan.
Selain itu, Israel memblokir masuknya sejumlah bahan makanan bergizi penting seperti daging, produk susu, dan sayuran. Sebaliknya, makanan dengan nilai gizi rendah seperti makanan ringan, cokelat, keripik, dan minuman ringan diizinkan masuk.
Pemerintah Israel juga mengumumkan akan melarang 37 organisasi bantuan beroperasi di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur mulai 1 Maret, langkah yang dinilai dapat membawa dampak besar bagi warga Palestina.
Lebih dari dua juta penduduk Gaza kini sangat bergantung pada organisasi bantuan untuk mendapatkan makanan, air, layanan kesehatan, dan tempat berlindung setelah perang selama lebih dari dua tahun menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut.
Pada Senin malam, otoritas Israel menyatakan akan membuka kembali perlintasan Kerem Abu Salem untuk memungkinkan masuknya bantuan secara bertahap, setelah sebelumnya ditutup pada Sabtu.
Warga Gaza Takut Kelaparan Kembali
Meski perlintasan ditutup, warga Gaza tetap berbondong-bondong menuju pasar untuk membeli persediaan makanan.
Sebagai kekuatan pendudukan di Gaza, Israel memiliki kewajiban hukum untuk memastikan ketersediaan makanan bagi warga sipil. Kewajiban tersebut tidak berubah meskipun terjadi perang dengan Iran, kata Jan Egeland, kepala Norwegian Refugee Council.
“Dapur komunitas sudah mulai tutup dan harga barang-barang pokok mulai naik,” tulisnya di platform X.
Menurut para ahli yang didukung PBB, hampir empat dari lima warga Palestina di Gaza menghadapi ketidakamanan pangan akut.
Madline Madi, seorang ibu berusia 30 tahun dengan tiga anak, mengatakan ia tidak memiliki cukup uang untuk menimbun makanan sebelum harga naik.
“Saya tidak ingin kembali mengalami kelaparan atau tidak mampu memberi makan anak-anak saya selama berhari-hari,” katanya.
Sekretaris Kamar Industri dan Perdagangan Gaza Utara, Bahaa Al-Amawi, mengatakan bahwa sistem kontrol Israel dan kehancuran gudang penyimpanan membuat Gaza tidak memiliki stok pangan strategis.
“Sejak gencatan senjata dimulai, tidak ada cadangan strategis dan kami tidak dapat membuatnya dalam kondisi saat ini,” ujarnya.
“Begitu penutupan diumumkan, warga langsung mengalami krisis psikologis karena pengalaman kelaparan sebelumnya, ditambah krisis perdagangan akibat tidak adanya stok cadangan.”
Pembunuhan Berlanjut dan Bahan Bakar Menipis
Para pejabat di Gaza juga memperingatkan bahwa wilayah tersebut kini hampir kehabisan bahan bakar karena Israel memblokir masuknya pasokan energi.
Sementara itu, Israel terus melanggar gencatan senjata melalui serangan udara, artileri, dan penembakan langsung yang menewaskan warga Palestina.
Sedikitnya enam orang telah terbunuh sejak Sabtu akibat serangan Israel di berbagai wilayah Gaza.
Madline Madi mengatakan bahwa ketika perhatian dunia tertuju pada konflik dengan Iran, Israel tetap melakukan kejahatan perang di Gaza.
“Israel terus melakukan kejahatan perang di Gaza sementara dunia tetap diam,” katanya. “Kami seperti tidak pernah ada bagi mereka.”
sumber: Quds News Network





