MEDAN/BANDA ACEH (2/12/2025) – Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu oleh cuaca ekstrem dan siklon tropis melanda tiga provinsi sekaligus di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga Selasa dini hari, data gabungan dari tim SAR dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia terus bertambah mencapai 442 jiwa, sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.
Situasi Terkini di Tiga Provinsi
Bencana yang terjadi sejak akhir November 2025 ini telah melumpuhkan aktivitas ekonomi dan infrastruktur vital di berbagai kabupaten.
1. Sumatera Utara: Wilayah Terdampak Terparah Provinsi Sumatera Utara menjadi wilayah dengan dampak kerusakan paling masif. Berdasarkan data terbaru per 1 Desember 2025:
- Korban Jiwa: Tercatat sedikitnya 217 orang meninggal dunia di wilayah ini.
- Wilayah Kritis: Kabupaten Deli Serdang, Karo, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga mengalami kerusakan parah. Longsor besar menutup akses jalan nasional Tarutung–Sibolga dan Medan–Berastagi, membuat distribusi bantuan sempat terhambat.
- Pengungsi: Lebih dari 6.000 warga di Tapanuli Tengah dan sekitarnya terpaksa mengungsi di tenda darurat dan fasilitas umum.
2. Aceh: Banjir Meluas di Pantai Barat Selatan Di Provinsi Aceh, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan sungai-sungai besar meluap.
- Evakuasi Massal: Basarnas melaporkan telah mengevakuasi lebih dari 1.000 warga yang terjebak banjir di Aceh Utara dan Pidie Jaya.
- Wilayah Terisolir: Kabupaten Aceh Singkil dan Aceh Selatan mengalami banjir parah yang memutus akses jalan antarkabupaten. Bantuan logistik di beberapa titik terpaksa disalurkan menggunakan helikopter karena akses darat lumpuh total.
3. Sumatera Barat: Desa Terisolasi Di Sumatera Barat, longsor menimbun beberapa desa di perbukitan, menyulitkan tim SAR untuk menjangkau titik nol bencana. Sebanyak 128 orang dilaporkan meninggal dunia di provinsi ini, dengan fokus pencarian saat ini berada di desa-desa yang terisolasi akibat jalan putus.
Respons Pemerintah dan Operasi Penyelamatan
Kepala Basarnas dan Kepala BNPB telah terjun langsung ke lokasi untuk memimpin operasi tanggap darurat. Pemerintah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana untuk mempercepat penanganan.
- Pengerahan Personel: Sebanyak 165 personel tambahan diterjunkan khusus untuk memperkuat operasi di Aceh, sementara ratusan personel gabungan TNI-Polri dan relawan dikerahkan di Sumatera Utara dan Barat.
- Alutsista: Operasi pencarian dan evakuasi didukung oleh helikopter, kapal, perahu karet, hingga drone pendeteksi panas (thermal) untuk mencari korban yang tertimbun material longsor.
- Tantangan: Medan yang berat dan cuaca yang masih tidak menentu menjadi kendala utama. Alat berat terus bekerja 24 jam untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsor sepanjang puluhan kilometer, terutama di jalur Tarutung-Sibolga yang baru berhasil ditembus sebagian pada Senin kemarin.
Pernyataan Resmi
Dalam keterangan persnya di Jakarta, pihak BNPB menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah Pencarian dan Penyelamatan (SAR) serta pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi.
“Prioritas kami adalah menyelamatkan nyawa yang masih bisa diselamatkan dan membuka akses ke wilayah terisolir. Logistik, obat-obatan, dan air bersih terus kami dorong masuk,” ujar perwakilan BNPB dalam konferensi pers, Senin (1/12).
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan mengingat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi hingga beberapa hari ke depan.






