Pada hari pertama Idul Fitri, Israel mengubah Gaza menjadi tempat pemotongan hewan. Pesawat tempur membom rumah-rumah, kamp pengungsi, bahkan pekerja penyelamat. Setidaknya 76 orang Palestina menjadi korban jiwa, termasuk perempuan, dan anak-anak.
Ini bukan hanya hari perang biasa. Ini adalah bagian dari pola yang terus berulang. Pembunuhan pada hari raya telah menjadi ritual Israel, yang dirancang untuk menghancurkan semangat rakyat yang terjajah.
Pembantaian yang Direncanakan
Di antara korban, sebuah keluarga yang menjadi korban di sebuah kamp pengungsi di barat Khan Younis. Di Hamad City, utara Khan Younis, bom Israel menewaskan sembilan orang, termasuk anak-anak dan perempuan. Di Juhor al-Dik, enam lainnya menjadi korban jiwa dalam serangan udara lainnya. Rumah-rumah, yang sudah rusak disekitarnya, hancur dalam hitungan detik.
Bahkan korban yang sudah meninggal terus bertambah. Di al-Shuja’iya, timur Kota Gaza, serangan lainnya membunuh lebih banyak anak-anak. Dua orang Palestina lainnya menjadi korban jiwa di Abasan al-Kabira. Jenazah ditarik dari puing-puing sepanjang hari, tetapi tidak ada yang tersisa untuk meratapi mereka—karena kesedihan itu sendiri sudah menjadi terlalu konstan, terlalu melelahkan.
Menyerang Para Penyelamat
Tidak ada yang aman, bahkan mereka yang berusaha menyelamatkan nyawa. Di lingkungan Tel al-Sultan di Rafah, pekerja penyelamat telah menghilang lebih dari seminggu yang lalu. Pada pagi Idul Fitri, jenazah mereka ditemukan.
Pasukan Israel telah mengeksekusi 14 pekerja Palang Merah Palestina dan pekerja Pertahanan Sipil. Tangan mereka terikat, dada mereka penuh dengan peluru, dan tubuh mereka dibuang ke dalam lubang dalam untuk menyembunyikan bukti. Kementerian Kesehatan menyebutnya sebagai “eskalasi kejahatan perang.” Tapi apakah itu? Ataukah ini hanya langkah berikutnya dalam genosida di mana setiap batasan dimaksudkan untuk dilanggar?
Ilmu Perang Psikologis
Jurnalis Israel, Muna Al-Omari, menggambarkan filosofi di balik pembunuhan ini: “Israel tidak hanya membunuh—mereka membunuh secara metodis, dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana menghancurkan orang.”
Kata-katanya menggambarkan strategi di balik pembantaian saat Idul Fitri. Pembunuhan pada hari suci bukanlah kebetulan. Itu dirancang untuk membuat orang Palestina merasa bahwa tidak ada momen yang suci, tidak ada kesempatan yang aman. Tujuannya adalah psikologis: untuk menghancurkan gagasan bahwa ada kehidupan yang bisa ada di luar perang, di luar penjajahan.
Al-Omari menjelaskan dengan sederhana: “Ketika Anda membunuh anak-anak pada hari raya—anak-anak yang menderita kelaparan, yang tersenyum dengan sepasang sepatu baru atau gelang—Anda tidak hanya mengambil nyawa mereka. Anda mengambil makna kebahagiaan itu sendiri.”
Dari Gaza ke Al-Aqsa: Tidak Ada Ruang untuk Merayakan
Pembantaian di Gaza bukanlah satu-satunya pesan. Di ibu kota Palestina yang terjajah, Yerusalem, pasukan Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa pada pagi Idul Fitri. Polisi bersenjata lengkap mendorong melalui para jamaah, berdiri di antara mereka sebagai peringatan diam: “Kalian tidak akan merayakan dengan damai.”
Al-Omari meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya: “Tahun depan, mereka akan menembakkan gas air mata kepada para jamaah. Tahun setelahnya, lebih sedikit orang yang datang. Lalu, di masa depan, akses akan dibatasi, seperti Masjid Ibrahimi di Hebron.”
Ini bukan hanya tentang kekerasan. Ini tentang menghapus keberadaan Palestina, sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanya penjajahan.
Respons Hamas dan Dunia
Hamas mengutuk serangan-serangan ini, menekankan bahwa Israel menggunakan hari raya untuk meningkatkan pembantaian, mengetahui bahwa dunia akan berpaling. “Apa yang memungkinkan Netanyahu—si penjahat perang—terus menentang hukum internasional adalah diamnya dunia dan tidak adanya akuntabilitas,” kata gerakan perlawanan tersebut.
Al-Omari menggambarkan ini dengan lebih blak-blakan: “Israel tidak lagi menunggu kecaman karena mereka tahu tidak ada yang akan mengutuk. Mereka tidak lagi peduli dengan penampilan karena mereka tidak lagi membutuhkannya.”
Dan demikianlah, pembantaian terus berlanjut. Setiap tahun, setiap perang, setiap Idul Fitri.
Pesannya jelas: Bagi orang Palestina, tidak akan ada hari yang aman, tidak ada momen suci, tidak ada ruang untuk hidup damai. Kecuali dunia berhenti berpaling.
Sumber :
Quds News Network