Gaza City, Palestina – Seorang warga Palestina menjadi korban jiwa, sementara dua lainnya mengalami luka-luka, dalam serangan Israel yang menargetkan kerumunan warga sipil di kawasan Wadi Gaza, Jalur Gaza bagian tengah, pada Minggu pagi. Serangan ini merupakan bagian dari pelanggaran harian Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Serangan tersebut terjadi setelah dua hari eskalasi mematikan, di mana pasukan Israel dilaporkan menyebabkan 37 warga Palestina menjadi korban jiwa dalam serangan terhadap tempat penampungan, tenda-tenda pengungsi, pusat kepolisian, serta apartemen hunian.
Sumber medis di Al-Aqsa Martyrs Hospital menyampaikan kepada Anadolu bahwa satu warga Palestina menjadi korban jiwa dan dua lainnya terluka akibat serangan Israel di wilayah Wadi Gaza.
Saksi mata mengatakan sebuah drone Israel menargetkan kerumunan warga sipil di utara Wadi Gaza dengan setidaknya satu rudal. Kawasan tersebut sebelumnya telah dievakuasi oleh militer Israel sesuai ketentuan gencatan senjata.
Dalam insiden terpisah, para saksi melaporkan bahwa militer Israel melakukan operasi pembongkaran bangunan di wilayah penempatan dan kendalinya di timur laut Gaza City, disertai tembakan senjata berat dari kendaraan militer dan alat berat.
Kendaraan militer Israel juga dilaporkan melepaskan tembakan di sebelah barat Rafah serta di timur Kamp Pengungsi Bureij, yang berada di bawah kendali militer Israel. Sementara itu, angkatan laut Israel menembaki perairan lepas pantai Gaza utara.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak 11 Oktober 2025, pasukan Israel telah menyebabkan sekitar 509 warga Palestina menjadi korban jiwa dan 1.405 lainnya mengalami luka-luka, meski gencatan senjata telah diberlakukan.
Kesepakatan tersebut mengakhiri perang Israel selama dua tahun yang menyebabkan hampir 71.800 warga Palestina menjadi korban jiwa dan lebih dari 171.400 orang terluka. Serangan tersebut juga menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza, dengan perkiraan biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS, menurut estimasi United Nations.
Sumber: Anadolu





