• Berita
  • Penyaluran
  • Donasi
Minggu, Februari 15, 2026
  • Login
Suara Langit Indonesia
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
Mari Berdonasi
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
No Result
View All Result
Suara Langit Indonesia
No Result
View All Result
Home Berita

Gencatan Senjata atau Tidak, Blokade Medis Israel Terus Merenggut Nyawa di Gaza

Suara Langit Indonesia by Suara Langit Indonesia
21 Desember 2025
in Berita
0
Gencatan Senjata atau Tidak, Blokade Medis Israel Terus Merenggut Nyawa di Gaza
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Di jantung Jalur Gaza, ketika daya tahan manusia didorong hingga batas paling ekstrem, rumah sakit—yang dahulu menjadi tempat perlindungan dan penyembuhan—kini berubah menjadi simbol krisis kesehatan yang akut. Tempat tidur pasien penuh sesak, ruang operasi hanya berfungsi dengan kapasitas terbatas, dan para dokter serta perawat berjuang di garis depan pertempuran yang nyaris mustahil dimenangkan. Setiap jam menjadi ujian ketangguhan mereka.

Blokade Medis Mencekik Para Penyintas Gaza

Israel menerapkan kebijakan sistematis yang membatasi masuknya obat-obatan esensial dan peralatan medis ke Gaza. Blokade ini tidak sekadar mengancam nyawa, tetapi juga memperparah penderitaan sehari-hari serta menjadikan layanan kesehatan sebagai alat tekanan psikologis dan politik. Kekurangan ini bukanlah kebetulan. Selama bertahun-tahun, kondisi tersebut merupakan mekanisme yang disengaja dan terkelola dengan baik, mengubah penyakit menjadi medan pertempuran.

Sejak pecahnya perang genosida Israel, sektor kesehatan Gaza menghadapi kekurangan parah. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa 84 persen obat-obatan penting tidak tersedia. Direktur farmasi Rumah Sakit Al-Shifa mengatakan kepada QNN bahwa obat bius dan kain kasa berada pada tingkat yang sangat kritis. Metode alternatif terpaksa digunakan, khususnya dalam proses persalinan, yang meningkatkan risiko kecacatan seumur hidup pada anak-anak.

Pasien Penyakit Kronis Paling Terdampak Akibat Kelangkaan Alat Medis

Pasien cuci darah menghadapi risiko kematian akibat kekurangan kalsium yang mengancam jiwa. Penderita penyakit Wilson tidak dapat mengakses zinc, yang penting untuk mengurangi penumpukan tembaga beracun dalam tubuh. Kalaupun tersedia, harganya sangat mahal dan tidak terjangkau. Anak-anak penderita diabetes kesulitan mengendalikan kadar gula darah di tengah kondisi yang menyerupai kelaparan, bahkan ketika roti pun sulit diperoleh.

Perawatan kanker juga berada dalam kondisi krisis. Rumah Sakit Al-Shifa tidak memiliki protokol kemoterapi standar. Selain itu, penyerbuan tentara Israel pada Maret 2024 merusak mesin CT scan rumah sakit tersebut, memaksa pasien mencari layanan ke fasilitas lain.

Zaher Al-Wahidi, Direktur Unit Informasi dan Data Gaza, melaporkan kekurangan serius: 52 persen alat medis, 71 persen bahan habis pakai medis, dan 70 persen peralatan laboratorium tidak tersedia. Untuk pasien penyakit kronis—seperti diabetes, penyakit jantung, dan gagal ginjal—sebanyak 56 persen tidak dapat mengakses obat-obatan mereka secara rutin.

Mesin MRI sama sekali tidak tersedia. Jumlah CT scan berkurang dari 17 unit menjadi hanya 7 unit. Alat rontgen menyusut dari 75 unit menjadi 22 unit. Lebih dari 55 persen perangkat laboratorium hancur. Pemeriksaan darah dan kimia dihentikan, sementara layanan diagnostik di tingkat perawatan primer lumpuh.

Dr. Nasser Radwan, Kepala Bedah, mengatakan kepada QNN bahwa pasien dengan tumor, perdarahan saluran pencernaan, serangan jantung, dan gagal ginjal merupakan kelompok paling rentan. Kekurangan kateter, ring jantung, nutrisi intravena, serta obat kanker membuat sebagian pasien tidak memiliki harapan selain doa.

Paradoks Prioritas

Di tengah pemblokiran kebutuhan medis, Gaza justru dibanjiri perangkat elektronik dan ponsel pintar. Direktur Kementerian Kesehatan, Dr. Munir Al-Barsh, mengatakan, “Israel membanjiri Gaza dengan barang-barang mewah, sementara pada saat yang sama memblokir obat-obatan esensial, cairan infus, antibiotik, mesin dialisis, dan perlengkapan bedah.”

Sementara itu, sekitar 19.500 pasien masih menunggu izin untuk berobat ke luar negeri. Setiap bulan, hanya 50 hingga 100 orang yang diizinkan keluar. Hingga kini, 1.122 pasien meninggal dunia akibat pembatasan perjalanan—termasuk 155 anak-anak, 166 perempuan, dan 300 lansia. Di antara mereka yang menunggu terdapat 500 anak dengan kebutuhan medis mendesak.

Dampak kemanusiaan dari runtuhnya sistem kesehatan Gaza tampak jelas dalam kehidupan para pasien. E.A., seorang perempuan berusia 40-an yang hidup dengan diabetes kronis, mengalami penurunan kesehatan secara perlahan namun menghancurkan. Sebelum genosida, ia dapat mengelola penyakitnya dengan obat rutin dan tetes mata untuk mencegah komplikasi. Namun seiring memburuknya situasi, obat-obatan tersebut menjadi langka dan sangat mahal. Penglihatannya terus menurun hingga akhirnya ia kehilangan penglihatan sepenuhnya—sebuah gambaran nyata bagaimana kelangkaan pasokan medis dasar mengubah penyakit yang dapat dikelola menjadi disabilitas permanen.

“Sebelum perang, saya masih bisa melihat sedikit, cukup untuk berusaha mandiri,” katanya kepada QNN. “Namun kemudian saya kehilangan penglihatan sepenuhnya. Saya tidak bisa melangkah dua langkah tanpa dibimbing oleh salah satu anak perempuan saya.”

Kisah serupa dialami Um Isaaq, pasien ginjal kronis yang berulang kali mengungsi dari Gaza utara ke Gaza selatan. Ia kerap harus berjalan jauh hanya untuk mencapai rumah sakit, menyusuri jalanan yang berbahaya akibat genosida Israel yang terus berlangsung. Ketika akhirnya tiba, kepadatan pasien dan kelangkaan peralatan menyebabkan jadwal cuci darah tertunda hingga satu minggu atau lebih, memicu penumpukan racun berbahaya dalam tubuhnya. Kelangkaan obat-obatan esensial dan terapi penguat darah semakin memperburuk kondisinya. Pada akhirnya, kombinasi pengungsian, keterlambatan perawatan, dan kekurangan obat merenggut nyawanya.

Kisah-kisah ini bukanlah kasus terpisah. Mereka mewakili ribuan warga Gaza yang hidupnya terancam hanya karena obat-obatan dan peralatan medis yang mereka butuhkan tidak dapat menjangkau mereka. Bagi banyak orang, hak atas layanan kesehatan—yang dahulu dianggap wajar—kini berubah menjadi mimpi yang tak terjangkau.

Sistem kesehatan Gaza yang sudah rapuh kini dijadikan senjata oleh Israel. Dengan mengendalikan aliran obat-obatan dan peralatan medis, Israel mengubah hak asasi manusia paling mendasar—akses terhadap pengobatan—menjadi angan-angan yang jauh. Penderitaan ini bukanlah dampak sampingan, melainkan strategi yang diperhitungkan untuk mengendalikan warga sipil, menciptakan ketakutan, frustrasi, dan keputusasaan yang terus-menerus.

Sumber: Quds News Network

Tags: GazaPalestina
Previous Post

Suara Langit Indonesia Gelar Layanan Pengobatan Gratis di Sukoharjo

Next Post

Update Banjir Sumatera: Korban Meninggal Tembus 1.135 Jiwa, Ratusan Ribu Warga Masih di Pengungsian

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia

Related Posts

Tujuh Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Serangan Israel di Gaza, Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut
Berita

Tujuh Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Serangan Israel di Gaza, Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut

11 Februari 2026
UNICEF: 37 Anak Palestina Menjadi Korban Jiwa di Gaza Sejak Awal Tahun, Gencatan Senjata Gagal Lindungi Warga Sipil
Berita

UNICEF: 37 Anak Palestina Menjadi Korban Jiwa di Gaza Sejak Awal Tahun, Gencatan Senjata Gagal Lindungi Warga Sipil

8 Februari 2026
Genosida Berlanjut: Serangan Israel Sebabkan 31 Warga Palestina Syahid, Kantor Polisi dan Tenda Pengungsi Diserang
Berita

Genosida Berlanjut: Serangan Israel Sebabkan 31 Warga Palestina Syahid, Kantor Polisi dan Tenda Pengungsi Diserang

1 Februari 2026
Next Post
Update Banjir Sumatera: Korban Meninggal Tembus 1.135 Jiwa, Ratusan Ribu Warga Masih di Pengungsian

Update Banjir Sumatera: Korban Meninggal Tembus 1.135 Jiwa, Ratusan Ribu Warga Masih di Pengungsian

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • PBB: Israel Blokir Sejumlah Misi Kemanusiaan di Gaza
  • Sudah Berapa Kali Israel Melanggar Gencatan Senjata di Gaza dalam Empat Bulan?
  • Tujuh Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Serangan Israel di Gaza, Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut
  • UNICEF: 37 Anak Palestina Menjadi Korban Jiwa di Gaza Sejak Awal Tahun, Gencatan Senjata Gagal Lindungi Warga Sipil
  • Suara Langit Indonesia Tebar Manfaat Lewat Bakti Sosial di Gunung Kidul

Kategori

  • Berita
  • Laporan Khusus
  • Penyaluran
  • Uncategorized

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia (SLI) adalah lembaga kemanusiaan yang resmi berdiri dan berbadan hukum pada tanggal 5 Januari 2020. SLI menyelenggarakan berbagai kegiatan kemanusiaan dengan pendekatan dakwah, sosial, pendidikan, dan bantuan darurat.

Rekening Donasi

•BNI 2444266609
•BSI 7236-30881-7
•MANDIRI 170-00-1300772-3
A.N. Yayasan Suara Langit Indonesia

Konfirmasi transfer

• Admin SLI:‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪ 0813 3946 8790
‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬(Whatsapp)

Ikuti Kami

Dana yang didonasikan melalui Suara Langit Indonesia sepenuhnya sah, halal, serta tidak terkait pencucian uang, terorisme, atau tindak kejahatan lainnya.

  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In