Gaza – Sabtu (2/8) Seorang pejabat kemanusiaan dari organisasi Médecins Sans Frontières (MSF) menuduh Israel melakukan “rekayasa kekacauan dan pembantaian” di Jalur Gaza. Tuduhan ini mencuat seiring terus berlanjutnya blokade bantuan kemanusiaan dan penembakan terhadap warga Palestina yang kelaparan saat mencoba mencari bantuan pangan.
Koordinator proyek MSF untuk Gaza, Caroline Willemen, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa krisis pangan di wilayah yang terkepung itu masih berada pada tingkat yang sangat kritis. Meskipun jumlah bantuan yang masuk meningkat dalam beberapa hari terakhir, hal itu belum mampu mengatasi kondisi darurat yang ada.
“Tidak ada tanda-tanda bahwa bantuan akan datang secara konsisten dalam jumlah yang cukup. Akibatnya, setiap hari warga mempertaruhkan nyawa mereka dalam pencarian makanan yang putus asa,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan Gaza pada Jumat melaporkan tiga kematian terbaru akibat kelaparan dan malnutrisi, termasuk dua anak-anak. Sejak perang Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023, total kematian akibat kelaparan telah mencapai 162 jiwa, dengan 92 di antaranya adalah anak-anak.
Sementara itu, lebih dari 80 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel pada hari yang sama. Dari jumlah tersebut, 49 orang terbunuh dan lebih dari 270 lainnya terluka saat sedang mengantre bantuan, menurut sumber medis kepada Al Jazeera.
Kecaman terhadap kebijakan kelaparan Israel di Gaza terus meningkat. Sistem pemantau kelaparan global bahkan memperingatkan bahwa skenario terburuk kelaparan massal kini tengah berlangsung.
Meskipun Israel mengizinkan pengiriman bantuan melalui udara dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pejabat tinggi PBB menilai langkah itu tidak efisien, mahal, dan berbahaya. Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, melalui platform X mengatakan, “Jika ada kemauan politik untuk mengizinkan airdrop yang mahal dan tidak efisien, maka harusnya ada kemauan yang sama untuk membuka jalur darat.”
“Ketika warga Gaza sekarat karena kelaparan, satu-satunya cara efektif untuk mengatasinya adalah membanjiri Gaza dengan bantuan,” tegasnya.
Hal senada disampaikan oleh Olga Cherevko dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA). Ia menyebut bahwa meski bantuan sedikit meningkat, jumlahnya masih sangat jauh dari kebutuhan. “Kenaikan itu bahkan belum menyentuh permukaan kebutuhan di lapangan,” katanya dari Deir el-Balah, Gaza tengah.

Tragedi Harian di Titik Distribusi Bantuan
Warga Gaza terus menghadapi risiko kematian setiap kali mendekati lokasi distribusi bantuan yang dikelola oleh GHF, sebuah lembaga yang mendapat dukungan dari Israel dan Amerika Serikat.
Ibrahim Mekki, warga kamp pengungsi Nuseirat, menceritakan bahwa ia harus menunggu lebih dari enam jam dan menghadapi risiko ditembak hanya untuk mendapatkan beberapa kantong pasta. “Ini seperti jebakan. Dibiarkan bergerak sedikit, lalu ditembaki,” ujarnya.
Kantor HAM PBB melaporkan bahwa sejak Mei, setidaknya 1.373 warga Palestina tewas saat mencoba mengakses bantuan di Gaza. Dari jumlah itu, 859 orang terbunuh di dekat titik distribusi GHF dan 514 lainnya tewas di sepanjang jalur konvoi bantuan. “Sebagian besar dari mereka dibunuh oleh militer Israel,” kata laporan tersebut.
Caroline Willemen dari MSF juga menyoroti insiden memilukan pada awal pekan ini, saat pasukan Israel menembaki warga yang mencoba mengakses truk bantuan di dekat perlintasan Zikim, Gaza utara. “Beberapa warga terluka akibat tembakan maupun desakan massa yang panik,” ungkapnya. “Insiden mematikan seperti ini sudah menjadi kenyataan harian di Gaza.”
Meski banyak kecaman, Israel dan sekutunya, AS, masih mendukung keberadaan GHF di Gaza. Utusan Khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, bersama Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, bahkan mengunjungi Gaza pada Jumat untuk meninjau situasi dan berdialog dengan GHF.
Kunjungan itu bertujuan untuk “menyusun rencana pengiriman bantuan makanan dan medis ke Gaza”, menurut Witkoff. Pemerintah AS sebelumnya telah mengumumkan dukungan dana sebesar 30 juta dolar untuk GHF. Selain itu, AS juga merupakan pemberi bantuan militer tahunan terbesar bagi Israel dan terus memberikan dukungan diplomatik di PBB sejak perang di Gaza pecah.
Sumber: Al Jazeera