Gaza – Anas al-Sharif, seorang jurnalis berdedikasi yang dikenal karena liputannya yang berani dari tengah kehancuran, syahid pada Minggu malam akibat serangan terarah dan disengaja oleh Israel.
Kematian Anas bukanlah kejadian tunggal. Ini adalah bagian dari pola yang terus berulang: penargetan sistematis oleh Israel terhadap jurnalis Palestina yang berani melaporkan kebenaran.
Anas berdiri di antara puing-puing lingkungan yang dibom, memberi suara pada keluarga yang berduka, dan melaporkan hal-hal yang banyak media internasional saring atau abaikan.
Kematian Anas bukan hanya kehilangan satu nyawa manusia, tetapi juga kehilangan bagi kebenaran itu sendiri.
Penargetan jurnalis di Gaza telah menjadi ciri suram dari genosida yang sedang berlangsung. Sejak Oktober 2023, lebih dari 230 jurnalis telah dibunuh, banyak di antaranya saat jelas mengenakan tanda pers seperti helm bertuliskan “PRESS” dan rompi anti peluru. Siaran langsung, identitas pers yang jelas—tidak ada yang mampu menyelamatkan mereka. Pesannya jelas: menjadi saksi dan mengungkap kebenaran tentang serangan Israel kini dianggap sebagai kejahatan, yang “dihukum” melalui serangan terarah.
Anas telah kehilangan rekan-rekan kerjanya, pernah berlari menghindari bom sambil terus merekam. Dia tahu risikonya. Dia memilih untuk tetap tinggal. Keberanian itu membuatnya berbahaya, bukan bagi warga sipil, tetapi bagi kekuatan pendudukan yang ingin menyembunyikan bukti kejahatannya.
Pembunuhan jurnalis oleh Israel adalah bagian dari strategi untuk mengendalikan narasi. Di Gaza, di mana akses media asing diblokir, jurnalis Palestina adalah mata dunia. Membungkam mereka melayani tujuan strategis: jika tak ada yang melaporkan kejahatan perang, apakah kejahatan itu “ada”?
Kini hampir tak ada yang tersisa. Satu per satu, jurnalis dibunuh Israel, banyak di antaranya di siang bolong.
Organisasi media internasional, pegiat kebebasan pers, dan pemerintah memiliki kewajiban moral untuk bersuara—tidak hanya dalam bahasa umum “melindungi jurnalis”—tetapi dengan menyebut pola ini, menyebut pelaku, dan menyebut nama korban.
Israel menargetkan Anas al-Sharif.
Mereka membungkamnya karena ia telah menunjukkan terlalu banyak pada dunia. Kematian Anas tak boleh dilupakan atau direduksi menjadi sekadar angka. Menghormatinya berarti menyuarakan kembali karyanya, menuntut pertanggungjawaban, dan menolak membiarkan Israel yang membunuh jurnalis berhasil mengubur kebenaran bersama jasad mereka.
Di dunia yang semakin dipenuhi misinformasi dan propaganda, jurnalisme independen tak pernah lebih penting—dan tak pernah lebih berbahaya—dari sekarang. Bagi jurnalis di Gaza, mengatakan kebenaran berarti mempertaruhkan segalanya. Anas al-Sharif membayar harga tertinggi. Kita berutang padanya, dan pada setiap suara yang dibungkam, untuk tidak pernah berhenti mengatakan kebenaran.
Aku bertanya pada dunia: berapa lagi yang harus mati sebelum kalian menghentikannya?
Aku berduka atas Anas, bukan hanya karena dia cerdas dan berani, tetapi karena kematiannya menandakan sesuatu yang jauh lebih buruk: bahwa kebenaran itu sendiri kini berada di bawah serangan Israel. Bahwa orang-orang yang memegang kamera, bukan senjata, kini dianggap sebagai ancaman.
Anas al-Sharif telah tiada. Tapi suaranya harus terus bergema. Jika dunia membiarkannya hilang, jika kematiannya diperlakukan seperti angka biasa, maka dunia ikut bersekongkol dengan Israel dalam membungkam kebenaran.
ditulis oleh:
Nour Mohamed via qudsnen.co