• Berita
  • Penyaluran
  • Donasi
Minggu, Februari 15, 2026
  • Login
Suara Langit Indonesia
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
Mari Berdonasi
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
No Result
View All Result
Suara Langit Indonesia
No Result
View All Result
Home Berita

Krisis Kemanusiaan Gaza: Tiga Musim Dingin Tanpa Rumah di Tengah Blokade Israel

Suara Langit Indonesia by Suara Langit Indonesia
12 November 2025
in Berita
0
Krisis Kemanusiaan Gaza: Tiga Musim Dingin Tanpa Rumah di Tengah Blokade Israel
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Di Jalur Gaza, keluarga-keluarga yang terusir akibat genosida Israel selama dua tahun kini menghadapi kenyataan pahit yang tak berkesudahan: tiga musim dingin berturut-turut tanpa tempat berlindung yang layak. Saat musim dingin kembali mendekat, urgensi situasi ini terasa nyata — malam-malam yang menggigil, tenda-tenda yang rusak, dan daerah-daerah yang mudah tergenang banjir.

Farah Ashour, seorang remaja berusia 19 tahun dari Tel al-Hawa, Gaza, tidur setiap malam dengan langit sebagai atapnya — tanpa perlindungan apa pun di atas kepalanya.

“Apa jadinya kalau bom Israel jatuh menimpa aku sekarang, meskipun ada gencatan senjata? Mereka [pasukan Israel] itu kejam,” ujarnya kepada Quds News Network, menggambarkan ketakutannya setiap hari.

Ia menambahkan, “Musim dingin akan segera datang. Laporan cuaca lokal memperingatkan hujan dan badai… dan tidak ada seorang pun yang peduli dengan nasib kami yang menyedihkan.”

Keluarga Farah adalah salah satu dari ribuan keluarga yang kehilangan rumah akibat genosida Israel dan kini hidup di tempat penampungan darurat. Sebagian besar berupa terpal dan tenda yang tidak mampu menahan angin, hujan, dan suhu dingin yang semakin menurun.

Hidup yang Terombang-ambing: Musim Dingin demi Musim Dingin

Bagi keluarga seperti keluarga Ashour, pilihannya pahit: tetap di rumah yang hancur atau tidur di jalanan.

“Keluarga kami berjumlah sepuluh orang — orang tua, empat saudara perempuan, dua saudara laki-laki, dan bibi — kini tinggal bersama di bawah satu tempat berlindung yang rapuh. Keadaannya sudah sangat buruk, tapi angin membuat semuanya semakin parah,” kata Farah.

“Musim dingin lalu, banjir dan angin kencang merobek tenda kami di Gaza bagian selatan, membuat kami terpaksa tidur di alam terbuka.”

Sebulan Setelah Gencatan Senjata: Tenda Pun Dilarang Masuk

Menurut badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), hampir seluruh penduduk Jalur Gaza telah mengungsi.

Setelah gencatan senjata dimulai, banyak keluarga mencoba kembali ke rumah mereka — namun sebagian besar hanya menemukan puing-puing. Menurut Pusat Satelit PBB, sekitar 81% bangunan di Gaza telah rusak.

Keluarga Farah memutuskan untuk berlindung di lantai dua rumah mereka yang hancur. Rumah itu telah dua kali dibom oleh Israel dan semakin rusak akibat ledakan robot jebakan dalam invasi terbaru di Kota Gaza.

“Di lantai atas masih ada roket yang belum meledak,” kata Farah, menambahkan bahwa benda itu menjadi ancaman besar bagi nyawa mereka. “Tapi kami tidak punya pilihan lain.”

Seiring masuknya bulan kedua gencatan senjata, lembaga-lembaga kemanusiaan menyatakan bahwa bantuan yang masuk ke Gaza masih sangat minim. Kelaparan terus berlanjut, sementara musim dingin semakin dekat dan tenda-tenda lama mulai rusak.

Dewan Pengungsi Norwegia (NRC), yang memimpin koordinasi bantuan tempat tinggal darurat dan menentukan kebutuhan prioritas bagi keluarga pengungsi, mengatakan pekan lalu bahwa pembatasan Israel masih menghalangi masuknya bahan-bahan penting untuk tempat berlindung.

NRC mencatat bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, Israel telah menolak 23 permohonan dari sembilan lembaga bantuan untuk memasukkan suplai penting seperti tenda, perlengkapan penutup dan rangka, tempat tidur, peralatan dapur, dan selimut — dengan total hampir 4.000 palet.

“Kami punya waktu yang sangat singkat untuk melindungi keluarga dari hujan dan dingin musim dingin,” ujar Angelita Caredda, Direktur Regional Timur Tengah dan Afrika Utara untuk NRC.

“Lebih dari tiga minggu setelah gencatan senjata, Gaza seharusnya sudah menerima banyak bahan bantuan, namun yang masuk hanya sebagian kecil. Komunitas internasional harus bertindak cepat untuk memastikan akses yang aman dan tanpa hambatan.”

Menurut badan koordinasi kemanusiaan, hampir 1,5 juta orang membutuhkan tenda dan bahan tempat tinggal darurat lainnya, sementara lebih dari 282.000 unit rumah telah rusak atau hancur di seluruh Gaza, meninggalkan keluarga tanpa perlindungan, privasi, atau tempat tinggal layak di tengah suhu yang terus menurun.

Pemerintah Kota Gaza juga memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan di kota itu bisa memburuk drastis saat hujan musim dingin tiba.

Dalam pernyataannya hari Minggu, pihak kota mengatakan hujan apa pun dapat memperparah penderitaan ratusan ribu orang yang tinggal di luar ruangan atau di tenda rusak, mencatat bahwa 93% tenda telah roboh atau tidak layak huni setelah hampir dua tahun perang.

Pejabat memperingatkan bahwa tanpa pasokan bantuan, bahan bakar, dan peralatan perbaikan yang segera dikirim, sistem sanitasi dan air yang sudah rapuh bisa benar-benar lumpuh saat hujan lebat datang, meningkatkan risiko banjir, wabah penyakit, dan pencemaran lingkungan.

“Tragedi warga Gaza dapat memburuk secara signifikan dalam beberapa minggu ke depan kecuali ada intervensi internasional yang mendesak,” kata pemerintah kota, menyerukan organisasi kemanusiaan untuk bertindak cepat guna mencegah bencana yang lebih besar yang mengancam jiwa warga sipil dan kesehatan publik.

UNRWA melaporkan bahwa kini terdapat 61 juta ton puing yang menutupi Gaza dan seluruh lingkungan telah lenyap. Dikatakan pula bahwa keluarga-keluarga mencari perlindungan di antara reruntuhan.

Pada hari Senin, Pusat Hak Asasi Gaza (GRC) mengonfirmasi bahwa 74% tenda yang kini menampung warga Palestina pengungsi tidak layak huni.

Lembaga amal berbasis di Inggris, Muslims In Need (MIN), mengatakan kepada Quds News Network bahwa mereka tidak dapat mengirimkan tempat penampungan, termasuk tenda, ke wilayah Palestina karena otoritas pendudukan Israel menolak banyak permohonan dari lembaga bantuan lain dengan alasan bahwa organisasi-organisasi tersebut “tidak berwenang menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

“Hampir semua orang di Kota Gaza kini hidup di tenda — atau bahkan di jalanan tanpa tempat berlindung sama sekali,” ujar perwakilan kantor MIN di Gaza.

Ia menambahkan, “Banyak orang meminta kami menyediakan tenda sebelum musim dingin, tapi kami benar-benar tidak sanggup menyediakannya,” sambil menegaskan bahwa kondisi di sana sangat menyedihkan dan hidup hampir tak tertahankan.”

Siapa yang Paling Menderita?

“Apa yang akan membuat kami hangat malam ini?” kata Aya Sada kepada Quds News Network. Keluarganya tinggal di kamp pengungsian darurat di dekat pantai Deir al-Balah, Gaza tengah.

Meskipun semua pengungsi di Gaza menghadapi risiko besar, kelompok tertentu menanggung beban lebih berat — termasuk anak-anak, bayi, dan lansia.

Musim dingin lalu, beberapa anak meninggal akibat kedinginan ekstrem di Gaza, diperparah oleh blokade Israel yang mencegah masuknya bahan-bahan pemanas dan tempat berlindung.

“Musim dingin kali ini, dengan semakin sedikit bangunan yang masih berdiri, banyak warga Palestina terpaksa tinggal di tenda dan tempat penampungan darurat yang jauh lebih sedikit memberikan perlindungan dari angin dingin dan hujan,” tambah Aya.

“Tapi bahkan tenda-tenda itu pun sudah rusak setelah dua tahun serangan Israel.”

Pekan lalu, Amjad al-Shawa, direktur Jaringan LSM Palestina yang bekerja sama dengan PBB, mengatakan: “Musim dingin akan segera datang, yang berarti hujan dan banjir akan tiba, dan ada risiko tinggi wabah penyakit akibat ratusan ton sampah di dekat area pemukiman.”

Aya menutup dengan kalimat getir, “Orang-orang di Gaza membenci musim dingin. Sebagian besar keluarga hanya memiliki satu selimut untuk dipakai bersama sepanjang musim dingin. Itulah kenyataan kami.”

sumber : Quds News Network

Tags: GazaPalestina
Previous Post

Anak Gaza Syahid Akibat Bom Sisa Israel, Tiga Warga Sipil Gugur dalam Serangan Terbaru

Next Post

Musim Dingin Tiba di Gaza: Hujan Pertama Menyiksa Keluarga Pengungsi Setelah Dua Tahun Genosida

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia

Related Posts

Tujuh Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Serangan Israel di Gaza, Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut
Berita

Tujuh Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Serangan Israel di Gaza, Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut

11 Februari 2026
UNICEF: 37 Anak Palestina Menjadi Korban Jiwa di Gaza Sejak Awal Tahun, Gencatan Senjata Gagal Lindungi Warga Sipil
Berita

UNICEF: 37 Anak Palestina Menjadi Korban Jiwa di Gaza Sejak Awal Tahun, Gencatan Senjata Gagal Lindungi Warga Sipil

8 Februari 2026
Genosida Berlanjut: Serangan Israel Sebabkan 31 Warga Palestina Syahid, Kantor Polisi dan Tenda Pengungsi Diserang
Berita

Genosida Berlanjut: Serangan Israel Sebabkan 31 Warga Palestina Syahid, Kantor Polisi dan Tenda Pengungsi Diserang

1 Februari 2026
Next Post
Musim Dingin Tiba di Gaza: Hujan Pertama Menyiksa Keluarga Pengungsi Setelah Dua Tahun Genosida

Musim Dingin Tiba di Gaza: Hujan Pertama Menyiksa Keluarga Pengungsi Setelah Dua Tahun Genosida

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • PBB: Israel Blokir Sejumlah Misi Kemanusiaan di Gaza
  • Sudah Berapa Kali Israel Melanggar Gencatan Senjata di Gaza dalam Empat Bulan?
  • Tujuh Warga Palestina Menjadi Korban Jiwa dalam Serangan Israel di Gaza, Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut
  • UNICEF: 37 Anak Palestina Menjadi Korban Jiwa di Gaza Sejak Awal Tahun, Gencatan Senjata Gagal Lindungi Warga Sipil
  • Suara Langit Indonesia Tebar Manfaat Lewat Bakti Sosial di Gunung Kidul

Kategori

  • Berita
  • Laporan Khusus
  • Penyaluran
  • Uncategorized

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia (SLI) adalah lembaga kemanusiaan yang resmi berdiri dan berbadan hukum pada tanggal 5 Januari 2020. SLI menyelenggarakan berbagai kegiatan kemanusiaan dengan pendekatan dakwah, sosial, pendidikan, dan bantuan darurat.

Rekening Donasi

•BNI 2444266609
•BSI 7236-30881-7
•MANDIRI 170-00-1300772-3
A.N. Yayasan Suara Langit Indonesia

Konfirmasi transfer

• Admin SLI:‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪ 0813 3946 8790
‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬(Whatsapp)

Ikuti Kami

Dana yang didonasikan melalui Suara Langit Indonesia sepenuhnya sah, halal, serta tidak terkait pencucian uang, terorisme, atau tindak kejahatan lainnya.

  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In