Gaza (QNN) – Kantor Media Pemerintah Gaza pada Selasa mengecam “pelanggaran serius dan sistematis” Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata, seraya menyebut bahwa Israel telah melanggar perjanjian tersebut lebih dari 1.620 kali sejak mulai berlaku pada 10 Oktober, menyebabkan ratusan warga sipil menjadi korban jiwa serta terus membatasi masuknya bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.
Serangan dan Korban Jiwa
Kantor Media Pemerintah Gaza merinci bentuk-bentuk pelanggaran Israel, di antaranya:
- 560 kali penembakan terhadap warga sipil
- 79 kali penggerebekan kawasan permukiman di luar “garis kuning”
- 749 kali pengeboman dan penembakan artileri
- 232 kali penghancuran properti warga
- 50 warga Palestina diculik dari Gaza
Sejak gencatan senjata diberlakukan, sedikitnya 573 warga Palestina menjadi korban jiwa dan 1.553 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel.
Di antara para korban terdapat 292 anak-anak, perempuan, dan lansia, dengan 99 persen korban merupakan warga sipil.
Bantuan Kemanusiaan Terus Diblokir
Israel juga terus menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan esensial ke Jalur Gaza, meski kesepakatan gencatan senjata secara tegas menyatakan bahwa “bantuan penuh akan segera dikirimkan ke Jalur Gaza.”
Dalam periode 10 Oktober hingga 9 Februari, hanya 31.178 truk bantuan yang masuk ke Gaza dari total 72.000 truk yang dialokasikan—rata-rata 260 truk per hari, atau hanya 43 persen dari kebutuhan.
Selain itu, Israel dilaporkan memblokir masuknya bahan pangan bergizi penting seperti daging, produk susu, dan sayuran. Sebagai gantinya, makanan minim gizi seperti makanan ringan, cokelat, keripik, dan minuman ringan justru diizinkan masuk.
Krisis Hunian dan Cuaca Ekstrem
Kantor Media Pemerintah Gaza memperingatkan krisis kemanusiaan yang semakin memburuk dan belum pernah terjadi sebelumnya, seiring Israel terus menghalangi masuknya tenda, rumah mobil, karavan, dan bahan hunian darurat lainnya, yang disebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian dan hukum humaniter internasional.
Badai musim dingin baru-baru ini menyebabkan runtuhnya puluhan rumah dan bangunan yang sebelumnya rusak akibat pemboman Israel, mengakibatkan lebih dari 20 warga sipil menjadi korban jiwa. Sejumlah warga juga dilaporkan menjadi korban jiwa akibat dingin ekstrem di dalam tenda.
Lebih dari 127.000 tenda kini tidak lagi layak pakai, meninggalkan lebih dari 1,5 juta warga pengungsi tanpa perlindungan dasar.
Penyeberangan Rafah
Israel pekan lalu membuka kembali Rafah Crossing secara terbatas dengan pengawasan dan pembatasan ketat.
Otoritas kesehatan Gaza menyatakan sedikitnya 1.268 orang menjadi korban jiwa saat menunggu evakuasi medis selama penyeberangan ditutup Israel.
Kementerian Kesehatan Palestina memperingatkan terdapat 20.000 pasien, termasuk 4.500 anak-anak, yang membutuhkan perawatan medis mendesak di luar Gaza. Sekitar 6.000 korban luka memerlukan evakuasi segera untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Menurut kementerian tersebut, diperlukan evakuasi minimal 500 pasien per hari untuk mencegah meningkatnya korban jiwa. Namun, saat ini hanya sekitar 50 pasien per hari yang diizinkan keluar.
“Kami masih kehilangan nyawa setiap hari. Mengizinkan hanya 50 pasien keluar dari Gaza per hari jelas tidak memadai,” ujar Direktur Al-Shifa Hospital, Muhamed Abu Salmiya. Ia menegaskan bahwa sistem kesehatan Gaza telah “dihancurkan sepenuhnya” oleh militer Israel.
Israel menduduki sisi Palestina Penyeberangan Rafah pada Mei 2024, menghancurkan fasilitasnya, menghentikan perjalanan, dan memperparah krisis kemanusiaan—terutama bagi pasien. Pasukan Israel juga ditempatkan di sepanjang Koridor Philadelphi dan masih berada di sana hingga kini.
Sejak penyeberangan dibuka kembali pada 2 Februari, hanya 255 warga Palestina yang diizinkan keluar, 172 orang kembali ke Gaza, sementara 26 lainnya ditolak Israel untuk kembali.
Sikap Hamas dan Data Tambahan
Hamas berulang kali memperingatkan bahwa “pelanggaran terang-terangan dan tidak bermoral” Israel mengancam keberlangsungan gencatan senjata. Hamas menyerukan para mediator—terutama Presiden AS Donald Trump—untuk menekan Israel agar mematuhi perjanjian.
Menurut analisis Al Jazeera, Israel telah menyerang Gaza pada 106 dari 123 hari sejak gencatan senjata berlaku. Artinya, hanya 17 hari tanpa laporan serangan, korban jiwa, atau luka-luka.
Kesepakatan gencatan senjata fase pertama dalam rencana 20 poin Trump sejatinya menyerukan pembukaan penuh bantuan kemanusiaan dan pembukaan Penyeberangan Rafah dua arah. Namun, Israel terus melanggar kesepakatan tersebut, menyebabkan korban jiwa, memblokir bantuan, serta tetap menduduki lebih dari 50 persen wilayah Gaza.
Sumber: QNN, Kantor Media Pemerintah Gaza, Al Jazeera





