SUMATERA – Duka mendalam menyelimuti Pulau Sumatera. Hingga Kamis sore (4/12/2025), bencana hidrometeorologi basah berupa banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam tiga provinsi sekaligus—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—mencatat lonjakan jumlah korban jiwa yang signifikan.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan laporan lapangan hingga pukul 16.00 WIB, total korban meninggal dunia yang terkonfirmasi telah mencapai 836 jiwa, sementara lebih dari 500 orang masih dinyatakan hilang.
Rincian Korban dan Wilayah Terdampak
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers virtual hari ini menyebutkan bahwa operasi pencarian masih terus dilakukan secara masif.
“Angka kematian terus bergerak dinamis seiring ditemukannya jenazah di area yang sebelumnya terisolir. Hingga sore ini, akumulasi dari tiga provinsi mencapai lebih dari 800 jiwa,” ungkapnya.
Berikut adalah rincian dampak di tiga provinsi utama:
- Aceh: Menjadi wilayah dengan dampak terparah, terutama di Aceh Utara dan Aceh Tenggara. Tercatat 277 hingga 325 korban jiwa (data bervariasi seiring evakuasi berjalan) dengan ratusan ribu warga masih mengungsi. Di Aceh Utara saja, dilaporkan 163.000 warga terdampak dan banyak wilayah pedalaman yang masih terisolasi total akibat putusnya jembatan dan jalan.
- Sumatera Utara (Sumut): Banjir bandang dan longsor menghantam Tapanuli Tengah, Humbang Hasundutan, dan Deli Serdang. Di Kota Medan, banjir rob dan luapan sungai menyebabkan 13 orang meninggal dunia. Data Pusdalops PB Sumut per Kamis sore mencatat korban hilang di provinsi ini bertambah menjadi 205 orang.
- Sumatera Barat (Sumbar): Korban meninggal tercatat mencapai 200 jiwa, dengan fokus kerusakan parah di wilayah pesisir dan pegunungan akibat galodo (banjir bandang).
Respon Pemerintah dan Status Siaga
Pemerintah pusat bergerak cepat merespons krisis ini. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dijadwalkan meninjau langsung tiga provinsi terdampak untuk memastikan distribusi bantuan.
Sementara itu, Kementerian Pertanian telah melepas 207 truk bantuan logistik senilai Rp34,8 miliar. Di sisi penegakan hukum, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengambil langkah tegas dengan mencabut izin 8 perusahaan yang diduga menjadi pemicu kerusakan lingkungan yang memperparah dampak bencana ini.
Tidak hanya di tiga provinsi tersebut, Provinsi Riau juga mulai menetapkan status siaga. Kabupaten Rokan Hulu dan Indragiri Hilir (Inhil) resmi menetapkan status “Siaga Bencana Hidrometeorologi” menyusul naiknya debit Sungai Rokan dan Batang Lubuh di atas ambang batas normal.
Penyebab dan Peringatan Lingkungan
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau menyoroti bahwa bencana ini bukan semata faktor cuaca ekstrem. Deforestasi masif dan hilangnya tutupan hutan tropis di sepanjang Bukit Barisan dinilai menjadi faktor utama yang membuat tanah tidak mampu lagi menahan curah hujan tinggi, memicu flash flood yang mematikan.
BMKG memperingatkan bahwa meski intensitas hujan diprediksi sedikit menurun di beberapa titik, potensi banjir susulan—khususnya banjir rob di pesisir Medan Utara—masih sangat tinggi pada periode 4–6 Desember 2025. Warga diimbau untuk tetap berada di posko pengungsian dan tidak memaksakan diri kembali ke rumah yang berada di zona merah.
Galang Solidaritas: Mari Bantu Saudara Kita di Sumatera
Bencana ini belum usai. Di balik angka statistik korban jiwa, terdapat ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal, akses air bersih, dan kehangatan rumah. Saat ini, kebutuhan paling mendesak bagi para pengungsi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah makanan siap saji, selimut, obat-obatan, dan perlengkapan bayi/balita.
Kami mengajak para pembaca untuk turut serta meringankan beban saudara-saudara kita di tanah Sumatera. Sekecil apapun bantuan Anda, akan menjadi harapan besar bagi mereka untuk bangkit kembali.

Klik link dibawah ini untuk berdonasi:
https://suaralangit.id/campaign/peduli-bencana-sumatera-saatnya-kita-mengulurkan-tangan





