Setelah berbulan-bulan mengalami pengusiran paksa di bawah ancaman Israel, ribuan warga Palestina kini mulai kembali ke lingkungan mereka di Gaza Utara, Kota Gaza, dan Khan Younis — menyusul penarikan pasukan Israel sebagai bagian dari tahap pertama perjanjian gencatan senjata dalam rencana Trump.
Namun bagi banyak dari mereka, pertanyaan pertama yang terucap kepada teman atau tetangga bukanlah tentang keselamatan, makanan, atau air.
Pertanyaannya sederhana, namun memilukan:
“Apakah rumahmu masih berdiri?”
Bagi keluarga-keluarga yang melarikan diri di bawah gempuran bom Israel, pertanyaan itu kini menjadi simbol beban emosional dalam perjalanan pulang mereka.
“Saya berjalan berjam-jam untuk sampai ke rumah saya di kawasan Sheikh Redwan,” kata Amal Haboub (42), yang mengungsi bersama anak-anaknya ke tempat penampungan PBB di Gaza tengah pada hari-hari awal serangan besar Israel ke Kota Gaza.
“Tidak ada atap. Dindingnya retak dan hangus. Tapi rumah itu masih berdiri — dan itu lebih dari yang saya harapkan.”
Tidak semua seberuntung itu.
“Rumah saya sudah tidak ada,” ujar Mahmoud al-Jabari, sambil berdiri di depan tumpukan puing bekas rumah keluarganya di Gaza utara.
“Tidak ada yang bisa dibangun kembali. Saya hanya menemukan cangkir teh milik ibu saya yang terkubur di debu. Itu saja yang tersisa.”

Di seluruh Jalur Gaza, warga yang kembali menyaksikan lingkungan mereka berubah menjadi gurun puing.
Jalan-jalan rata dengan tanah, infrastruktur hancur, sekolah dan rumah sakit penuh luka akibat perang.
Namun di tengah kehancuran itu, orang-orang tetap kembali — didorong oleh tekad untuk merebut kembali tanah, kehidupan, dan martabat mereka.
“Saya tidak kembali untuk mencari dinding,” kata Huda al-Najjar, seorang guru di Khan Younis.
“Saya datang untuk berdiri di atas tanah saya — untuk menunjukkan kepada anak-anak saya bahwa kami masih ada.”
Di beberapa wilayah, keluarga kini mendirikan tenda di samping reruntuhan rumah mereka, menyapu puing, menancapkan bendera, dan menyalakan api untuk menyeduh teh — tindakan kecil penuh makna, simbol perlawanan dan keteguhan di tengah kehancuran.
“Genosida Israel mungkin telah berakhir, tapi penderitaan belum,” ujar Nouran Mohamed, seorang perawat di Rumah Sakit Al-Aqsa, Gaza Tengah.
“Kami menghadapi trauma, luka fisik, dan kerusakan psikologis yang luar biasa. Tapi saya melihat keteguhan yang sulit saya gambarkan.”
Entisar Ashour, warga Tel Al-Hawa yang terpaksa melarikan diri di bawah serangan berat, mengatakan:
“Kehancurannya tak bisa dipercaya. Rumah keluarga kami — tempat kami tumbuh dan menyimpan begitu banyak kenangan — kini telah lenyap.”
Di masjid, pasar, dan tempat penampungan darurat, pertanyaan yang sama terus bergema seperti nyanyian kesedihan:
“Apakah rumahmu masih berdiri?”
Kadang, jawabannya ya.
Namun lebih sering, sunyi.
Atau air mata.
Meski demikian, kehidupan perlahan kembali ke Gaza — pelan, penuh luka — saat keluarga-keluarga mulai menyusun kembali apa yang tersisa dan menatap masa depan, berjuang membangun bukan hanya rumah, tetapi kehidupan dan harapan mereka yang hancur.
sumber : Quds News Network






