Gaza – Tentara pendudukan Israel membunuh lebih dari 100 warga Palestina, termasuk 46 anak-anak, di Jalur Gaza sejak Selasa malam, melanggar perjanjian gencatan senjata yang telah berlaku sejak 10 Oktober, menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina.
Dalam pernyataannya, kementerian menyebutkan bahwa rumah sakit di Gaza telah menerima 104 jenazah warga sipil, termasuk 46 anak-anak dan 20 perempuan, sejak Selasa malam.
Serangan baru Israel juga melukai 253 orang, termasuk 78 anak-anak dan 84 perempuan, tambah kementerian tersebut.
Data kementerian menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, setidaknya 211 orang telah tewas dan 597 lainnya terluka akibat serangan Israel.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan di media sosial Facebook bahwa lebih dari 100 orang tewas dalam “pembantaian mengerikan Israel” hanya dalam waktu kurang dari 12 jam di seluruh Jalur Gaza.
“Pembantaian ini dilakukan di depan mata para mediator dan komunitas internasional yang tetap diam dan tidak mampu mengambil langkah konkret untuk menghentikan pertumpahan darah warga Palestina yang telah berlangsung lebih dari dua tahun,” ujarnya.
Kantor berita resmi Palestina, Wafa, mengutip sumber medis dari rumah sakit Gaza, melaporkan bahwa 31 orang tewas di wilayah utara, 42 di wilayah tengah, dan 18 di wilayah selatan Jalur Gaza. Puluhan warga sipil lainnya juga terluka dalam serangan tersebut.
Serangan udara Israel menghantam rumah-rumah, tenda pengungsian, kendaraan sipil, tempat penampungan, dan bahkan rumah sakit yang berada di dalam apa yang disebut “garis kuning”, menurut tenaga medis yang berbicara kepada Anadolu.
“Garis kuning” merujuk pada zona tempat pasukan Israel ditarik mundur berdasarkan perjanjian gencatan senjata. Ini adalah batas tak kasat mata yang membelah Jalur Gaza menjadi dua bagian — di selatan Kota Gaza dan utara Khan Younis.
Di utara Gaza, tentara Israel menargetkan sekolah yang dijadikan tempat penampungan di Beit Lahia, menewaskan tiga warga sipil dan melukai beberapa lainnya.
Tentara Israel juga mengebom dua rumah di lingkungan Al-Nasr dan kamp pengungsi Al-Shati di barat Kota Gaza, menewaskan delapan orang.
Jenazah seorang anak perempuan Palestina ditemukan dari reruntuhan rumah di lingkungan Sabra, sehingga jumlah korban tewas dalam serangan itu mencapai lima orang.
Serangan udara baru pada Rabu pagi menghantam masjid yang digunakan sebagai tempat perlindungan pengungsi di lingkungan Sabra, menurut kesaksian warga kepada Anadolu.
Dua orang tewas dan 10 lainnya terluka di lingkungan Zeitoun di Kota Gaza. Sejumlah warga sipil masih hilang di bawah reruntuhan rumah yang menjadi sasaran serangan udara Israel. Beberapa lainnya terluka dalam serangan lain di barat daya Zeitoun.
Seorang ibu dan anaknya juga tewas akibat serangan tentara Israel di lingkungan Tel al-Hawa di Kota Gaza.
Di bagian tengah Jalur Gaza, empat orang tewas setelah serangan udara Israel menghantam tenda pengungsian mereka di Deir al-Balah.
Di wilayah selatan kota, dua warga sipil tewas dan beberapa lainnya terluka akibat tembakan Israel.
Enam orang tewas dan banyak lainnya luka-luka ketika pesawat tempur Israel menyerang sekolah yang menjadi tempat pengungsian dan sebuah rumah di kamp pengungsi Bureij.
Lima orang lainnya juga tewas dalam serangan terhadap sejumlah rumah di kamp pengungsi Nuseirat.
Dalam serangan serupa, sembilan orang — empat di antaranya anak-anak — tewas, dan sembilan lainnya masih hilang di bawah reruntuhan rumah yang dihantam tentara Israel di kamp pengungsi Nuseirat.
Delapan orang, termasuk tiga anak-anak, tewas dalam serangan Israel terhadap tenda pengungsi di wilayah Al-Mawasi, barat Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan.
Sumber medis mengatakan jumlah korban kemungkinan akan terus bertambah, karena banyak yang mengalami luka kritis dan pencarian korban di bawah reruntuhan masih berlangsung.
Serangan brutal Israel ini terjadi melanggar perjanjian gencatan senjata yang diberlakukan pada 10 Oktober berdasarkan rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump.
Tahap pertama dari kesepakatan itu mencakup pembebasan sandera Israel sebagai imbalan bagi hampir 2.000 tahanan Palestina. Rencana tersebut juga mencakup rekonstruksi Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa Hamas.
Sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh lebih dari 68.600 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 170.600 orang dalam serangan di Jalur Gaza.
sumber: Anadolu Agency





