Sedikitnya tiga warga Palestina menjadi korban jiwa dalam serangan Israel di Jalur Gaza, sementara jumlah korban terus bertambah meskipun gencatan senjata telah diumumkan beberapa bulan lalu.
Dua warga Palestina kehilangan nyawa dalam serangan udara Israel yang menargetkan kawasan Al-Amal di Khan Younis, Gaza selatan, pada Sabtu, menurut sumber medis.
Sejumlah korban luka, termasuk seorang anak, dilarikan ke Rumah Sakit Nasser untuk mendapatkan perawatan.
Sebelumnya pada hari yang sama, serangan drone Israel di Kamp Pengungsi Al-Bureij, Gaza tengah, menyebabkan satu warga Palestina menjadi korban jiwa dan melukai dua orang lainnya, menurut kantor berita WAFA.
Pusat Informasi Palestina mengidentifikasi korban sebagai Muawiya Al-Aydi, seorang pekerja pemerintah daerah setempat.
Di wilayah Gaza tengah lainnya, empat warga Palestina mengalami luka-luka akibat tembakan pasukan Israel di kawasan Yarmouk, menurut laporan jurnalis Al Jazeera di lapangan yang mengutip Bulan Sabit Merah Palestina.
Sementara itu, serangan Israel lainnya menyebabkan satu orang terluka saat berada dalam sebuah perkumpulan warga di lingkungan Al-Tuffah, Kota Gaza, menurut WAFA.
Korban Pascagencatan Senjata Terus Bertambah
Meski gencatan senjata secara teknis masih berlaku sejak Oktober lalu, militer Israel terus melancarkan serangan di Gaza. Lebih dari separuh wilayah Gaza saat ini berada di bawah kendali militer Israel, yang dinilai bertentangan dengan ketentuan gencatan senjata.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 983 warga Palestina menjadi korban jiwa dan 3.122 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diumumkan.
Hamas menuduh Israel berulang kali melanggar kesepakatan tersebut melalui serangan yang terus berlanjut serta perubahan posisi “Garis Kuning” (Yellow Line) yang menjadi batas wilayah yang dikendalikan Israel di Gaza.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, pada Jumat mengatakan bahwa tindakan Israel menunjukkan ketidaksiapan untuk melaksanakan kesepakatan gencatan senjata.
“Langkah-langkah Israel mencerminkan ketidakinginannya untuk menerapkan perjanjian gencatan senjata dan bertujuan menggagalkan jalur negosiasi serta upaya-upaya yang sedang dilakukan, sembari melanjutkan eskalasi demi kepentingan politik dan elektoral,” ujar Qassem.
Warga Palestina Penyandang Disabilitas Ditembak di Tepi Barat
Pasukan Israel juga melakukan serangkaian penggerebekan di Tepi Barat yang diduduki pada Sabtu, sebagai bagian dari operasi yang hampir berlangsung setiap hari sejak serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Menurut WAFA, pasukan Israel menembakkan granat kejut dan gas air mata dalam dua insiden terpisah di dekat Bethlehem, menyebabkan sejumlah warga mengalami luka-luka. Insiden tersebut terjadi saat penggerebekan di Kamp Pengungsi Dheisheh dan ketika pasukan Israel memblokir akses menuju waduk Solomon’s Pools.
Seorang warga Palestina penyandang disabilitas juga dilaporkan ditembak dan terluka di Kota Duma, dekat Hebron.
WAFA menyebut pria tersebut ditembak oleh pasukan Israel, sementara media Israel mengutip kepolisian Israel yang menyatakan bahwa pelaku penembakan adalah seorang pemukim Israel yang mengaku merasa terancam karena korban membawa batu.
Di lokasi lain, para pemukim Israel dilaporkan menyerang warga Palestina dan merusak properti di sekitar Bethlehem, termasuk menyerang pekerja listrik Palestina serta mencuri pipa air.
Sejumlah warga Palestina juga mengalami sesak napas akibat menghirup gas air mata yang ditembakkan pasukan Israel di Desa Deir Abu Mishal, wilayah Ramallah dan Al-Bireh.
Selain itu, para pemukim Israel memblokade jalan yang menghubungkan Kota Arrabeh dan Yabad, serta membakar lahan pertanian dan kendaraan di Kota Jit.
Sebelumnya, pasukan Israel juga melakukan penggerebekan di kota-kota Tuqu, Immatain, Jit, dan Beita. Bentrokan dengan warga setempat dilaporkan terjadi di Beita, menurut WAFA.
sumber: Al Jazeera





