KOTA GAZA – Di kamp-kamp pengungsian yang tersebar di seluruh Gaza, ribuan perempuan Palestina menjalani kehidupan yang berubah drastis akibat kehilangan, kelaparan, dan tanggung jawab besar setelah kehilangan suami mereka dalam perang Israel di Gaza.
Di antara mereka adalah Duaa Al-Saudi dan Shorouq Abu Sukran, dua perempuan yang kini memikul beban yang sebelumnya ditanggung seluruh anggota keluarga. Duaa harus membesarkan dan memberi makan empat anak seorang diri setelah suaminya menjadi korban jiwa. Sementara Shorouq kehilangan suami dan kedua kakinya dalam dua serangan Israel yang berbeda, sehingga kini hampir sepenuhnya bergantung pada ibunya yang telah lanjut usia.
Kisah mereka mencerminkan kenyataan yang dihadapi ribuan janda di Gaza. Perempuan yang kehilangan suami kini harus berjuang memenuhi kebutuhan pangan, obat-obatan, tempat tinggal, dan pendidikan anak-anak mereka di tengah memburuknya kondisi kehidupan serta berkurangnya bantuan kemanusiaan.
Menurut UN Women, hingga Oktober 2025 lebih dari 16.000 perempuan di Gaza kehilangan suami, sementara satu dari setiap tujuh rumah tangga kini dipimpin oleh perempuan akibat perang.
Pengungsian berulang kali, tempat penampungan yang penuh sesak, merebaknya penyakit, serta kekurangan air bersih dan obat-obatan semakin memperparah penderitaan para janda beserta keluarganya, menurut badan-badan PBB dan organisasi kemanusiaan.
Membesarkan Empat Anak Seorang Diri
Duaa Al-Saudi kini tinggal bersama keempat anaknya di sebuah kamp pengungsian setelah kehilangan suaminya, yang sebelumnya menjadi satu-satunya pencari nafkah keluarga.
“Kami tidak menerima apa pun selain bantuan. Tidak ada dukungan keuangan yang tetap bagi anak-anak yatim maupun para janda,” ujarnya kepada Anadolu.
Ia mengatakan bahwa memperoleh makanan pokok saja kini sangat sulit, terlebih buah dan sayuran.
“Kalau saya hanya mampu membeli dua buah apel, saya membaginya untuk anak-anak saya,” katanya.
Sebelum suaminya meninggal, seluruh kebutuhan keluarga dipenuhi olehnya. Kini, bahkan membeli buku tulis sekolah pun menjadi beban yang tidak selalu mampu ia tanggung.
“Salah satu anak saya membutuhkan operasi, pengobatan, dan makanan khusus, tetapi saya tidak mampu menyediakan semuanya,” ujar Duaa.
Ia menggambarkan beratnya memikul tanggung jawab membesarkan empat anak seorang diri sambil berjuang bertahan hidup di kamp pengungsian.
Melalui pesannya kepada masyarakat internasional, ia meminta agar dunia tidak melupakan para janda dan anak-anak yatim di Gaza.
“Tanggung jawab yang kami pikul kini jauh lebih berat daripada yang sanggup kami tanggung,” katanya.
Luka yang Tak Pernah Hilang
Bagi Shorouq Abu Sukran, perang meninggalkan luka yang jauh melampaui pengungsian.
Ia mengalami luka parah dalam serangan Israel yang menghantam rumahnya pada 31 Agustus 2024, menewaskan beberapa anggota keluarganya. Ia selamat bersama putranya.
“Saya kehilangan kedua kaki akibat pengeboman itu,” katanya kepada Anadolu.
“Rasa sakitnya semakin parah setiap hari hingga saya tidak lagi bisa tidur, meskipun telah mengonsumsi obat pereda nyeri yang kuat.”
Ia mengatakan kondisinya yang terus memburuk dapat memaksa dokter mengamputasi sisa salah satu kakinya.
Shorouq mengaku kini tidak lagi mampu bergerak sendiri ataupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Ibu saya yang mengurus semua kebutuhan saya,” ujarnya.
Sebelum mengalami luka tersebut, ia telah lebih dahulu kehilangan suaminya akibat serangan Israel saat mereka berjalan bersama di Jalan Al-Wahda, Kota Gaza.
“Suami saya meninggal di depan mata saya sendiri. Kemudian saya mengalami luka yang semakin menambah penderitaan saya,” katanya.
Awal bulan ini, Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa Israel menghalangi 17.000 warga Palestina yang telah mendapat persetujuan menjalani pengobatan di luar negeri untuk bepergian. Penundaan tersebut, menurut kementerian, meningkatkan angka kematian di kalangan pasien yang menunggu perawatan.
‘Kami Bukan Sekadar Gambar’
Shorouq mengatakan para janda di Gaza terus menderita tanpa dukungan maupun perhatian yang memadai.
“Kami bukan sekadar gambar atau rekaman video yang ditonton orang lalu dilupakan,” ujarnya.
“Kami berhak untuk hidup, mendapatkan pengobatan, dan memperoleh kebutuhan dasar kehidupan.”
Ia menyerukan peningkatan dukungan bagi para janda dan anak-anak mereka, terutama perempuan muda yang kehilangan suami selama perang.
Sistem layanan kesehatan Gaza telah mengalami kehancuran akibat perang Israel, yang menghancurkan rumah sakit dan infrastruktur kesehatan serta menyebabkan kekurangan parah obat-obatan, bahan bakar, dan perlengkapan medis.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 1.029 warga Palestina menjadi korban jiwa dan 3.294 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel yang hampir terjadi setiap hari, meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Gencatan senjata tersebut menyusul lebih dari dua tahun perang yang menyebabkan lebih dari 73.000 warga Palestina kehilangan nyawa, melukai lebih dari 173.000 orang, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur di Jalur Gaza.
sumber: anadolu




