• Berita
  • Penyaluran
  • Donasi
Minggu, September 13, 2026
  • Login
Suara Langit Indonesia
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
Mari Berdonasi
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
No Result
View All Result
Suara Langit Indonesia
No Result
View All Result
Home Laporan Khusus

Bernapas Bergantung pada Sebuah Tabung: Gaza Hadapi Krisis Oksigen Medis

Suara Langit Indonesia by Suara Langit Indonesia
10 September 2026
in Laporan Khusus
0
Bernapas Bergantung pada Sebuah Tabung: Gaza Hadapi Krisis Oksigen Medis

Hanya 12 dari 34 stasiun pembangkit oksigen di Gaza yang masih beroperasi, memperparah krisis kesehatan di wilayah kantong yang terkepung tersebut.

0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

AZ-ZUWAYDA, Jalur Gaza — Detak jantung Ali Humaida semakin cepat saat ia mengamati indikator pada tabung oksigen yang berada di sudut tendanya.

Saat jarum indikator terus menurun, ia menatap putranya yang berusia 14 tahun, Abdulaziz, yang berbaring di atas kasur di dalam tenda keluarga mereka di Az-Zuwayda, Gaza tengah, dengan penuh kekhawatiran tentang berapa lama oksigen yang tersisa akan bertahan — dan di mana ia akan menemukan oksigen lagi ketika persediaan itu habis.

Abdulaziz bergantung pada pasokan oksigen tambahan secara terus-menerus, kata ayahnya. Suatu malam, ketika tabung keluarga tersebut habis sebelum mereka sempat menggantinya, pernapasannya memburuk dengan cepat.

“Tabung itu tiba-tiba habis di tengah malam,” kenang Ali. “Menit-menit itu berubah menjadi mimpi buruk. Kami mulai mengipasinya dengan tangan dan potongan-potongan karton sambil menyaksikan wajahnya membiru, kami sangat ketakutan ia akan kehilangan kesadaran atau jatuh koma tepat di depan mata kami, sementara kami berdiri benar-benar tidak berdaya.”

Bagi keluarga-keluarga yang merawat pasien yang bergantung pada oksigen di Gaza, keadaan darurat semacam ini semakin sulit dihindari.

Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan pada 15 Agustus bahwa hanya 12 dari 34 stasiun pembangkit oksigen di wilayah tersebut yang masih beroperasi, sementara hanya empat dari 30 perangkat yang digunakan untuk mengisi tabung oksigen yang masih berfungsi. Peralatan yang tersisa mengalami kelebihan beban kerja dengan kerusakan mekanis yang berulang, demikian pernyataan kementerian tersebut.

Kondisi ini membuat perolehan tabung menjadi sangat sulit bagi pasien seperti Abdulaziz, yang menerima sebagian besar perawatannya di luar rumah sakit.

“Setiap menit yang berlalu berarti oksigen semakin habis,” kata Ali. “Saya terus-menerus bertanya pada diri sendiri: Berapa banyak yang tersisa di dalam tabung? Akankah bertahan sampai pagi? Dan jika habis, di mana saya akan mendapatkan yang lain?”

Riwayat Medis yang Kompleks

Abdulaziz telah hidup dengan masalah kesehatan serius sejak lahir. Ia lahir dengan kelainan jantung bawaan dan paru-paru yang belum berkembang sempurna.

Sejak kecil, ia juga menderita hidrosefalus, atau penumpukan cairan serebrospinal di otak. Abdulaziz menjalani operasi untuk meringankan tekanan pada otaknya dengan memasang selang pirau ventrikuloperitoneal (VP) yang mengalirkan cairan berlebih.

Selain itu, ia mengidap gangguan spektrum autisme dan membutuhkan perawatan harian yang ekstensif — sesuatu yang sangat sulit dilakukan di kamp pengungsian di Gaza selama perang Israel.

Sebelum perang, Abdulaziz menerima perawatan khusus secara rutin di sebuah rumah sakit di Israel. Perawatan itu kini terhenti, sehingga membuat keluarganya bergantung pada sistem kesehatan Gaza, yang telah hancur akibat serangan-serangan Israel.

Biaya perawatan Abdulaziz juga meningkat. Ayahnya, Ali, memperkirakan bahwa obat-obatan, popok, dan transportasi kini menghabiskan biaya keluarga antara 950 hingga 1.100 shekel (US$315 hingga US$365) per bulan — dua kali lipat harga sebelum perang.

“Abdulaziz tidak bisa mengungkapkan rasa sakit seperti anak-anak lainnya karena autismenya, tapi saya bisa melihat kesedihan di matanya,” kata Ali. “Saya tidak meminta hal yang mustahil, yang saya inginkan hanyalah anak saya bisa bernapas dengan bebas.”

Ketika Oksigen Habis

Terputusnya pasokan oksigen tambahan dapat berbahaya bagi pasien yang bergantung pada terapi tersebut untuk menjaga kadar oksigen darah yang memadai.

Dr. Ghada Hassouna, seorang dokter di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah, mengatakan pasien yang kadar saturasi oksigennya menurun drastis dapat mengalami napas cepat, detak jantung yang lebih cepat, dan sianosis — perubahan warna kebiruan pada kulit yang disebabkan oleh buruknya aliran oksigen dan darah.

Kekurangan oksigen juga dapat merusak organ-organ vital, terutama otak dan jantung.

Hassouna menjelaskan bahwa sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen, dan merupakan yang paling rentan mengalami kerusakan cepat. Dalam kasus Abdulaziz, penurunan kadar oksigen sekecil apa pun dapat menyebabkan kerusakan saraf yang parah atau permanen.

Ini adalah persoalan yang berdampak lebih luas dari satu keluarga saja.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sebagian besar stasiun pembangkit oksigen yang tidak beroperasi merupakan akibat dari kebijakan sistematis Israel di seluruh titik penyeberangan perbatasan.

Otoritas Israel terus membatasi dan melarang masuknya suku cadang dan pelumas khusus untuk generator rumah sakit dan pabrik oksigen, sekaligus memblokir pabrik-pabrik baru yang dimaksudkan untuk mengatasi kekurangan tersebut.

Israel mengklasifikasikan tabung oksigen, perangkat pendukungnya, dan generator listrik sebagai barang “berpenggunaan ganda” (dual-use), sehingga melarang masuknya barang tersebut atau suku cadangnya melalui titik-titik penyeberangan yang ditutup.

Pada saat yang sama, kondisi pengungsian paksa menambah lapisan penderitaan tersendiri.

Ratusan ribu orang tinggal di area terbuka yang kekurangan ventilasi yang layak, dipenuhi debu dan emisi beracun dari pembakaran limbah plastik dan generator listrik alternatif, yang melipatgandakan jumlah pasien yang menderita pneumonia akut dan gangguan pernapasan seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Hal ini terjadi pada saat Kementerian Kesehatan dan sejumlah rumah sakit di wilayah tersebut telah sepenuhnya menghentikan layanan pengisian ulang tabung oksigen eksternal bagi pasien yang menerima perawatan di rumah atau di tenda pengungsian.

Keputusan tersebut merupakan langkah terpaksa yang diambil oleh sistem kesehatan setelah nyaris kolaps, sebagai upaya untuk mempertahankan sisa pasokan oksigen bagi jaringan tempat tidur di departemen-departemen rumah sakit yang kritis seperti unit perawatan intensif, inkubator neonatal, dan ruang operasi.

Menghadapi realitas lapangan yang kompleks ini, staf medis menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukanlah pilihan administratif, melainkan respons terhadap realitas bencana yang dipaksakan oleh kondisi perang dan penghancuran sistematis infrastruktur kesehatan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa sekitar 350.000 orang di Gaza hidup dengan penyakit kronis, dengan pengobatan yang sangat terganggu akibat perang.

Mohammad Abu Salmiya, direktur Kompleks Medis Al-Shifa, mengatakan Gaza mengalami kekurangan setengah dari obat-obatan esensial dan lebih dari 80 persen bahan-bahan laboratorium. Ia memperkirakan sekitar 21.000 pasien dan orang terluka membutuhkan perawatan di luar Gaza, termasuk lebih dari 4.000 pasien kanker dan lebih dari 10.000 orang terluka yang memerlukan perawatan bedah lanjutan.

Untuk saat ini, para pasien di Gaza harus bertahan dengan apa yang tersedia di dalam wilayah kantong Palestina tersebut.

Keluarga Abdulaziz mengukur waktu berdasarkan apa yang tersisa di dalam tabung oksigennya.

“Kami ingin ia bisa bepergian dan melanjutkan pengobatannya,” kata Ali. “Sampai saat itu tiba, kami membutuhkan pasokan oksigen yang stabil.”

“Yang kami inginkan hanyalah agar anak kami bisa bernapas dengan bermartabat, tanpa rasa takut terus-menerus bahwa napasnya bisa berhenti kapan saja.”


Sumber: Al Jazeera

Tags: Al-ShifaDeir al-Balahdual-useGazaGencatan Senjata GazaIsraelKementerian Kesehatan GazaKrisis Kesehatanoksigen medisPalestina
Previous Post

‘Puluhan Ribu Janda’ Tanggung Beban yang Kian Berat dalam Mempertahankan Keutuhan Keluarga Gaza: Pejabat PBB

Next Post

Baksos Gedhen: Suara Langit Indonesia Salurkan Air Bersih dan Ragam Bantuan di Dua Dusun Wonogiri

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia

Related Posts

'Puluhan Ribu Janda' Tanggung Beban yang Kian Berat dalam Mempertahankan Keutuhan Keluarga Gaza: Pejabat PBB
Laporan Khusus

‘Puluhan Ribu Janda’ Tanggung Beban yang Kian Berat dalam Mempertahankan Keutuhan Keluarga Gaza: Pejabat PBB

9 September 2026
Kehancuran Pabrik Desalinasi Perparah Krisis Air Minum di Gaza
Laporan Khusus

Kehancuran Pabrik Desalinasi Perparah Krisis Air Minum di Gaza

4 September 2026
Krisis Jenazah Warga Palestina yang Ditahan Israel Meluas Sejak Perang Gaza
Laporan Khusus

Krisis Jenazah Warga Palestina yang Ditahan Israel Meluas Sejak Perang Gaza

28 Agustus 2026
Next Post
Baksos Gedhen: Suara Langit Indonesia Salurkan Air Bersih dan Ragam Bantuan di Dua Dusun Wonogiri

Baksos Gedhen: Suara Langit Indonesia Salurkan Air Bersih dan Ragam Bantuan di Dua Dusun Wonogiri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Baksos Gedhen: Suara Langit Indonesia Salurkan Air Bersih dan Ragam Bantuan di Dua Dusun Wonogiri
  • Bernapas Bergantung pada Sebuah Tabung: Gaza Hadapi Krisis Oksigen Medis
  • ‘Puluhan Ribu Janda’ Tanggung Beban yang Kian Berat dalam Mempertahankan Keutuhan Keluarga Gaza: Pejabat PBB
  • Warga Palestina di Gaza Makamkan Jenazah 100 Orang yang Ditemukan dari Reruntuhan
  • Kehancuran Pabrik Desalinasi Perparah Krisis Air Minum di Gaza

Kategori

  • Berita
  • Laporan Khusus
  • Penyaluran
  • Uncategorized

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia (SLI) adalah lembaga kemanusiaan yang resmi berdiri dan berbadan hukum pada tanggal 5 Januari 2020. SLI menyelenggarakan berbagai kegiatan kemanusiaan dengan pendekatan dakwah, sosial, pendidikan, dan bantuan darurat.

Rekening Donasi

•BNI 2444266609
•BSI 7236-30881-7
•MANDIRI 170-00-1300772-3
A.N. Yayasan Suara Langit Indonesia

Konfirmasi transfer

• Admin SLI:‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪ 0813 3946 8790
‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬(Whatsapp)

Ikuti Kami

Dana yang didonasikan melalui Suara Langit Indonesia sepenuhnya sah, halal, serta tidak terkait pencucian uang, terorisme, atau tindak kejahatan lainnya.

  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In