GAZA – Di kamp-kamp pengungsian Gaza, Hari Ibu datang bukan dengan bunga atau perayaan, melainkan dengan kelaparan, duka, dan rasa sakit para ibu yang masih mencari anak-anak mereka yang hilang.
Di dalam tenda-tenda usang yang tersebar di Khan Younis, Gaza selatan, para ibu Palestina menghabiskan hari itu dengan meratapi anak-anak lelaki mereka yang tewas dalam serangan Israel, menunggu kabar tentang anak-anak yang ditahan atau hilang, dan berjuang menjaga keluarga mereka tetap hidup di tengah perang, pengungsian, dan kelaparan.
Ketika sejumlah negara, termasuk Türkiye, memperingati Hari Ibu pada hari Minggu, banyak ibu di Gaza mengatakan mereka tidak lagi mencari kehidupan yang layak, tetapi hanya keselamatan, makanan, dan kesempatan untuk melindungi anak-anak mereka dari kematian dan pengungsian berulang.
Menurut UN Women, lebih dari 22.000 perempuan dan hampir 16.000 anak perempuan telah terbunuh di Gaza sejak Oktober 2023.
Data dari Kantor Media Pemerintah Gaza dan Dana Kependudukan PBB menunjukkan bahwa lebih dari 22.000 perempuan kehilangan suami mereka selama perang, sementara sekitar 55.000 perempuan hamil dan menyusui menghadapi risiko kesehatan serius di tengah runtuhnya sistem layanan kesehatan Gaza dan memburuknya malnutrisi.
Lebih dari 90% populasi Gaza juga telah mengungsi, banyak di antaranya lebih dari satu kali, menurut PBB dan lembaga bantuan internasional.
Pengungsian
Di dalam sebuah tenda kecil yang hampir tidak memberikan perlindungan dari panas maupun dingin, ibu pengungsi Widad al-Najjar mengenang perjalanan panjang pengungsian yang dimulai pada hari-hari pertama perang setelah melarikan diri dari kampung halamannya di Khuzaa, timur Khan Younis.
Ia mengatakan kepada Anadolu bahwa keluarganya telah mengungsi lebih dari enam kali demi mencari keselamatan.
“Kami kehilangan rumah, kerabat, dan semua yang kami miliki,” katanya. “Tidak ada yang tersisa selain kenangan.”
Namun rasa sakit terdalam bagi ibu Palestina itu adalah hilangnya putra satu-satunya, yang lahir setelah enam anak perempuan.
Najjar mengatakan ia kehilangan kontak dengan putranya selama bulan-bulan pertama perang dan sejak saat itu hidup di antara harapan bahwa putranya masih hidup dan ketakutan bahwa ia mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi.
“Yang saya inginkan hanyalah mengetahui nasibnya,” katanya. “Apakah dia terbunuh atau ditawan? Saya hanya ingin jawaban yang bisa menenangkan hati saya.”
“Saya tidak bisa hidup tanpa dia. Dia adalah udara yang saya hirup,” tambahnya. “Tanpa dia, saya tidak punya kehidupan.”
Hati yang hancur
Di kamp pengungsian lain di Khan Younis, ibu bernama Huda al-Madani hidup di antara duka atas kematian putranya Ibrahim dan ketakutan terus-menerus terhadap putranya yang lain, Ahmad, yang telah berada di penjara Israel selama lebih dari dua tahun.
Madani mengatakan Ibrahim tewas selama perang Israel di Gaza, meninggalkan lima anak, sementara Ahmad hingga kini belum pernah melihat putranya yang masih kecil, yang lahir setelah penahanannya dan kini hampir berusia tiga tahun.
“Anak itu terus bertanya tentang ayahnya dan ingin melihatnya seperti anak-anak lain,” katanya. “Hati kami hancur, dan kami menunggu kabar apa pun tentang dirinya.”
Bagi banyak ibu pengungsi, penderitaan tidak berhenti pada kehilangan, tetapi juga berlanjut dalam perjuangan sehari-hari untuk bertahan hidup di tengah kekurangan parah makanan, air, dan penghasilan.
Umm Mahmoud Baraka, seorang janda dan ibu dari empat anak, mengatakan ia kini sendirian menafkahi keluarganya setelah suaminya tewas.
“Saya menjadi ibu sekaligus ayah pada saat yang sama,” katanya kepada Anadolu.
“Kami mencoba tetap hidup di tengah kelaparan, ketakutan, dan ketiadaan kebutuhan hidup paling dasar,” tambahnya.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku, pasukan Israel telah menewaskan sekitar 850 warga Palestina dan melukai 2.433 lainnya melalui pelanggaran yang terus berlanjut berupa penembakan dan serangan artileri, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Kesepakatan tersebut dicapai setelah dua tahun perang genosida Israel di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023, yang mengakibatkan lebih dari 72.000 orang menjadi korban jiwa, lebih dari 172.000 terluka, dan kehancuran luas yang memengaruhi 90% infrastruktur sipil.
Ditulis oleh Tarek Chouiref / Anadolu Agency





