• Berita
  • Penyaluran
  • Donasi
Rabu, Juli 15, 2026
  • Login
Suara Langit Indonesia
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
Mari Berdonasi
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus
No Result
View All Result
Suara Langit Indonesia
No Result
View All Result
Home Berita

Kelaparan dan Penyakit Kulit Menyerang Anak-Anak Gaza di Kamp Pengungsian

Suara Langit Indonesia by Suara Langit Indonesia
23 Mei 2026
in Berita
0
Kelaparan dan Penyakit Kulit Menyerang Anak-Anak Gaza di Kamp Pengungsian
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Khan Younis, Jalur Gaza – Di sebuah lorong di dalam Rumah Sakit Nasser, Iman Abu Jame duduk di samping putranya yang berusia enam tahun, Yasser, sambil memperhatikan tubuh kecilnya yang lemah akibat penyakit dan mencoba memahami apa yang terjadi padanya.

Kulit Yasser dipenuhi ruam merah dan luka menyerupai bekas terbakar yang tidak dapat dijelaskan dokter. Tubuhnya juga melemah akibat kelaparan.

Bagi Iman yang berusia 32 tahun, penyakit Yasser tidak bisa dipisahkan dari penderitaan akibat lebih dari dua setengah tahun perang genosida Israel di Gaza.

Keluarga mereka tinggal di tenda sempit di al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, wilayah yang dipenuhi para pengungsi dan digambarkan Iman sebagai tempat yang sangat memprihatinkan.

Panas terasa menyengat. Sampah menumpuk di sekitar tenda. Air tercemar menjadi satu-satunya sumber air yang bisa diakses banyak keluarga. Serangga dan tikus berkeliaran di tempat penampungan yang padat, tempat ribuan pengungsi hidup tanpa sanitasi dan kekurangan makanan.

Israel memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza meskipun gencatan senjata Oktober lalu seharusnya meningkatkan jumlah bantuan yang masuk ke wilayah Palestina tersebut.

Sebelum perang, Yasser dalam kondisi sehat, kata Iman. Kemudian datang kelaparan.

Berbulan-bulan kekurangan makanan parah dan melonjaknya harga membuat keluarganya bahkan tidak mampu membeli makanan dasar. Malnutrisi terlebih dahulu melemahkan tubuhnya. Setelah itu muncul infeksi.

“Saya belum pernah melihat infeksi seperti ini sepanjang hidup saya,” kata Iman kepada Al Jazeera. “Tetapi ada anak-anak lain di rumah sakit ini yang mengalami ruam serupa.”

Six-year-old Yasser Arafat in a hospital bed in Nasser Hospital, Khan Younis
Tubuh Yasser dipenuhi ruam yang belum terdiagnosis [Amr Tabash/Al Jazeera]

Dokter hingga kini gagal mendiagnosis secara jelas kondisi Yasser. Tanda-tanda baru terus muncul di tubuhnya sementara tenaganya semakin melemah.

“Malnutrisi adalah awalnya,” kata ibunya. “Ayahnya tidak bekerja, dan kami tidak mampu menyediakan makanan, susu, atau sayuran. Kami bahkan tidak mampu membeli obat-obatan, itulah sebabnya saya membawanya ke rumah sakit.”

“Ia meminta makanan seperti anak-anak lainnya, tetapi kami tidak punya apa pun untuk diberikan,” tambahnya.

Anak-Anak Paling Rentan

Saat keluarga itu terus berjuang di kamp pengungsian, infeksi menyebar dengan cepat di tenda-tenda yang padat, tempat penyakit mudah menular di antara anak-anak yang tubuhnya telah melemah akibat kelaparan.

Kisah Yasser kini semakin umum terjadi di seluruh Gaza.

Tim medis dari Medical Aid for Palestinians mengatakan penyakit kulit menyebar dengan tingkat yang mengkhawatirkan di antara keluarga pengungsi yang dipaksa tinggal di kamp-kamp padat.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 17.000 kasus infeksi ektoparasit — yang disebabkan parasit yang hidup di atas atau di bawah kulit manusia — tercatat hanya sepanjang tahun 2026.

Pada April, MAP memeriksa 7.017 orang di enam pusat layanan kesehatan primer di Gaza. Dari 1.325 orang yang didiagnosis menderita penyakit kulit, lebih dari 62 persen adalah anak-anak.

Di antara mereka terdapat 168 anak di bawah usia dua tahun, 259 anak usia tiga hingga lima tahun, dan 245 anak usia enam hingga 12 tahun.

Di Klinik Solidaritas MAP di Deir el-Balah, Gaza tengah, penyakit kudis menyumbang hampir sepertiga dari seluruh kasus penyakit menular yang tercatat pada April. Klinik tersebut telah menangani lebih dari 77.000 orang dalam tahun pertamanya, sementara sistem kesehatan Gaza terus runtuh akibat perang, pengungsian, serta kekurangan pasokan dan peralatan.

Dr. Rana Abu Jalal, yang bekerja di klinik tersebut, mengatakan para dokter menyaksikan “lonjakan tajam” penyakit kulit, khususnya kudis, dengan banyak kasus berkembang menjadi infeksi serius dan abses yang menyakitkan.

“Yang paling memengaruhi saya adalah dampaknya terhadap anak-anak,” katanya. “Mereka adalah yang paling rentan.”

Ia mengatakan penyebaran penyakit dipicu oleh tenda yang padat, air yang tidak aman, ventilasi buruk, dan hampir tidak adanya perlengkapan kebersihan.

“Keluarga-keluarga setiap hari menceritakan bagaimana mereka mencoba bertahan,” katanya. “Tetapi kondisi ini benar-benar berada di luar kendali mereka.”

Penyakit Menyebar

Di Khan Younis, Dr. Alaa Ouda, yang bekerja di klinik dukungan MAP yang melayani enam kamp pengungsi, mengatakan ia kini menangani 70 hingga 80 pasien setiap hari yang menderita kudis, infestasi kutu, gigitan serangga yang terinfeksi, dan infeksi jamur.

“Kutu-kutu yang kami lihat membawa kudis,” katanya. “Dan ada jenis serangga lain yang masih belum kami identifikasi. Gigitannya menyerupai gigitan laba-laba dan sering berkembang menjadi infeksi dan luka terbuka.”

Ia menambahkan bahwa infeksi jamur di kulit kepala anak perempuan menyebar dengan cepat di kamp-kamp pengungsian.

“Begitu satu kasus muncul, penyakit itu cepat menyebar karena kepadatan, buruknya kebersihan, dan serangga di mana-mana,” katanya.

Namun ketika jumlah kasus meningkat, obat-obatan hampir sepenuhnya menghilang.

“Masalahnya bukan lagi kelangkaan,” kata dokter itu. “Tetapi hampir tidak ada sama sekali.”

Permethrin, salah satu pengobatan utama untuk kudis, kini sudah tidak tersedia, tambahnya.

Mohammed Fathi, petugas kesehatan masyarakat dari MAP, mengatakan banyak keluarga kini berhenti mencari pengobatan karena obat-obatan tidak tersedia dan anak-anak kembali dikirim ke kondisi berbahaya yang menyebabkan mereka sakit sejak awal.

“Orang-orang telah kehilangan harapan,” katanya. “Bahkan jika pengobatan tersedia sementara, akar masalahnya tetap tidak berubah.”

sumber: Al Jazeera

Tags: Anak GazaGazaIsraelKelaparan GazaKrisis KemanusiaanMAPPalestinaPengungsi GazaPenyakit KulitRumah Sakit Nasser
Previous Post

“Diborgol, Ditutup Matanya, Dipermalukan”: Reaksi Pemerintah Dunia terhadap Video Ben-Gvir tentang Aktivis Flotilla Gaza yang Diculik

Next Post

“Saya Merasa Kehilangan Hidup Saya”: Korban Amputasi di Gaza Berjuang untuk Bisa Bergerak di Tengah Krisis Alat Medis

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia

Related Posts

Setelah 1.000 Hari Genosida, Gaza Tetap Dilanda Serangan dan Krisis Kemanusiaan
Berita

Setelah 1.000 Hari Genosida, Gaza Tetap Dilanda Serangan dan Krisis Kemanusiaan

7 Juli 2026
Guterres Sebut Kondisi Gaza “Sangat Mengerikan”, Desak Perlindungan Warga Palestina
Berita

Guterres Sebut Kondisi Gaza “Sangat Mengerikan”, Desak Perlindungan Warga Palestina

1 Juli 2026
Di Antara Rasa Sakit dan Ketakutan: Anak-Anak Gaza Menanggung Dampak Serangan Israel yang Terus Berlanjut
Berita

Di Antara Rasa Sakit dan Ketakutan: Anak-Anak Gaza Menanggung Dampak Serangan Israel yang Terus Berlanjut

29 Juni 2026
Next Post
“Saya Merasa Kehilangan Hidup Saya”: Korban Amputasi di Gaza Berjuang untuk Bisa Bergerak di Tengah Krisis Alat Medis

“Saya Merasa Kehilangan Hidup Saya”: Korban Amputasi di Gaza Berjuang untuk Bisa Bergerak di Tengah Krisis Alat Medis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Yayasan Suara Langit Indonesia Salurkan Bantuan Pemenuhan Gizi bagi Warga Gaza
  • Setelah 1.000 Hari Genosida, Gaza Tetap Dilanda Serangan dan Krisis Kemanusiaan
  • Guterres Sebut Kondisi Gaza “Sangat Mengerikan”, Desak Perlindungan Warga Palestina
  • Di Antara Rasa Sakit dan Ketakutan: Anak-Anak Gaza Menanggung Dampak Serangan Israel yang Terus Berlanjut
  • Kehilangan Suami Akibat Perang, Ribuan Perempuan Gaza Berjuang Bertahan di Tengah Kelaparan

Kategori

  • Berita
  • Laporan Khusus
  • Penyaluran
  • Uncategorized

Suara Langit Indonesia

Suara Langit Indonesia (SLI) adalah lembaga kemanusiaan yang resmi berdiri dan berbadan hukum pada tanggal 5 Januari 2020. SLI menyelenggarakan berbagai kegiatan kemanusiaan dengan pendekatan dakwah, sosial, pendidikan, dan bantuan darurat.

Rekening Donasi

•BNI 2444266609
•BSI 7236-30881-7
•MANDIRI 170-00-1300772-3
A.N. Yayasan Suara Langit Indonesia

Konfirmasi transfer

• Admin SLI:‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪‪ 0813 3946 8790
‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬(Whatsapp)

Ikuti Kami

Dana yang didonasikan melalui Suara Langit Indonesia sepenuhnya sah, halal, serta tidak terkait pencucian uang, terorisme, atau tindak kejahatan lainnya.

  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Donasi
  • Penyaluran
  • Laporan Khusus

© 2025 Suara Langit - Sosial, Dakwah dan Kemanusiaan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In