GAZA — Krisis layanan kesehatan di Jalur Gaza terus memburuk meski serangan langsung terhadap rumah sakit tidak lagi mendominasi pemberitaan. Kerusakan fasilitas medis, minimnya obat-obatan, terbatasnya tenaga kesehatan, serta mahalnya biaya transportasi membuat akses terhadap pelayanan kesehatan semakin sulit, terutama bagi warga yang tinggal di kamp-kamp pengungsian.
Kondisi tersebut terlihat di sebuah kamp pengungsian informal yang berada di area bekas Sekolah Hassan Salama, lingkungan Nasr, Kota Gaza. Sekolah itu sebelumnya hancur setelah dibom bersama Sekolah Nasr yang berada di dekatnya pada Agustus 2024. Sedikitnya 30 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Kini, ratusan warga yang kehilangan rumah dan mata pencaharian akibat perang tinggal di tenda-tenda di halaman sekolah maupun bagian bangunan yang masih tersisa.
Tidak adanya organisasi yang secara khusus mengelola kamp tersebut menyebabkan hampir tidak ada layanan dasar yang tersedia, termasuk pelayanan kesehatan.
Dalam kunjungan sebuah tim tenaga medis dari klinik swasta setempat, sedikitnya 150 warga mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis selama satu hari.
Para tenaga medis menemukan berbagai persoalan kesehatan, mulai dari tekanan darah tinggi dan penyakit kronis seperti diabetes serta gangguan ginjal hingga penyakit menular seperti hepatitis dan kudis.
Di antara anak-anak, kasus cacar air, gastroenteritis, diare, serta infeksi saluran pernapasan juga banyak ditemukan.
Meski pemeriksaan yang diberikan hanya berupa pelayanan medis dasar, kehadiran tenaga kesehatan mendapat sambutan besar dari warga kamp.
Bagi banyak pengungsi di Gaza, menemui dokter kini bukan perkara sederhana. Jarak menuju fasilitas kesehatan, biaya transportasi, keterbatasan fisik, serta kelelahan akibat pengungsian dan cuaca ekstrem membuat sebagian pasien terpaksa menunda pemeriksaan meskipun membutuhkan penanganan medis.
Salah seorang pasien berusia 46 tahun mengalami cedera parah pada kaki akibat pecahan peluru dan harus menggunakan kruk untuk berjalan. Ia juga menderita hipertensi.
Rumah Sakit Al Rantisi yang berada relatif dekat dengannya hanya beroperasi sebagian dan terutama memberikan pelayanan bagi anak-anak serta pasien onkologi. Sementara itu, kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh menuju rumah sakit lainnya.
Untuk mendapatkan pemeriksaan gratis dan resep obat hipertensi di fasilitas kesehatan terdekat, ia masih harus mengeluarkan sedikitnya 8 dolar AS untuk biaya transportasi.
Bagi warga kamp pengungsian yang bahkan menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, biaya tersebut menjadi beban yang berat.
Penundaan penanganan medis, ditambah keterbatasan obat-obatan dan buruknya kondisi kehidupan, berisiko menyebabkan penyakit berkembang menjadi lebih parah bahkan mengancam nyawa.
Fasilitas Kesehatan Tinggal Beroperasi Sebagian
Krisis tersebut berlangsung di tengah menyusutnya kapasitas pelayanan kesehatan dasar di Gaza.
Setelah peristiwa Nakba, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memainkan peran penting dalam membangun jaringan pelayanan kesehatan dasar bagi para pengungsi Palestina di Gaza. Klinik-klinik didirikan di berbagai kamp pengungsi untuk memberikan akses kesehatan secara gratis.
Sebelum perang berlangsung, UNRWA mengoperasikan 22 klinik di seluruh Jalur Gaza. Berdasarkan laporan yang dirujuk dalam sumber, saat ini hanya enam klinik yang masih beroperasi.
Kondisi rumah sakit juga tidak jauh berbeda. Dari 34 rumah sakit di Gaza, hanya 19 yang disebut masih berfungsi sebagian.
Status “berfungsi sebagian” tidak berarti seluruh layanan rumah sakit dapat berjalan normal. Sejumlah bangsal tidak dapat digunakan akibat kerusakan bangunan, kekurangan peralatan, obat-obatan, serta tenaga medis.
Saat ini, sekitar 2.200 tempat tidur rawat inap disebut tersedia untuk melayani sekitar dua juta penduduk Gaza.
Sebagai perbandingan, sebelum perang, Rumah Sakit Al Shifa sendiri memiliki sekitar 700 tempat tidur.
Berbagai jenis pelayanan medis, mulai dari pemeriksaan laboratorium, operasi hingga pengobatan tertentu, juga tidak lagi tersedia secara memadai karena kekurangan persediaan maupun tenaga kesehatan yang mampu menjalankannya.
Layanan Primer Mendesak Dipulihkan
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan sistem kesehatan Gaza tidak dapat hanya berfokus pada pembangunan kembali rumah sakit.
Klinik pelayanan kesehatan primer juga perlu dipulihkan agar pemeriksaan dasar, pengobatan penyakit kronis, pelayanan ibu dan anak, serta penanganan penyakit menular dapat kembali menjangkau masyarakat.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin mendesak bagi warga di kamp-kamp pengungsian yang memiliki keterbatasan ekonomi maupun mobilitas.
Hancurnya fasilitas kesehatan dan meluasnya pengungsian telah membuat akses terhadap pelayanan medis yang sebelumnya merupakan kebutuhan dasar menjadi sesuatu yang semakin sulit dijangkau oleh sebagian besar warga Gaza.
sumber: Al Jazeera





