Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendeteksi 1.487 titik panas yang berpotensi menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sebagian besar Pulau Kalimantan, di tengah kondisi kabut asap yang mulai mengganggu penerbangan dan aktivitas masyarakat di sejumlah daerah.
Berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga Kamis, 20 Agustus 2026, konsentrasi titik panas tertinggi berada di Kalimantan Tengah dengan 767 titik dan Kalimantan Barat sebanyak 560 titik, menurut keterangan BNPB yang dikutip ANTARA pada Jumat, 21 Agustus 2026.
BNPB menyatakan sebaran titik panas tersebut menjadi perhatian serius untuk mencegah kebakaran meluas. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah memperkuat pemantauan, deteksi dini, pemetaan daerah rawan, serta kesiapan sarana dan prasarana pemadaman.
Kabut Asap Ganggu Penerbangan
Dampak karhutla mulai terasa pada sektor transportasi udara.
Seluruh penerbangan dari dan menuju Bandara Singkawang, Kalimantan Barat, dihentikan sementara pada Jumat, 21 Agustus 2026, setelah kabut asap menyebabkan jarak pandang berada di bawah batas aman operasional penerbangan.
Kepala Satuan Pelayanan Bandara Singkawang Ilham Hafizi mengatakan seluruh penerbangan pada hari itu terpaksa dibatalkan. Maskapai Super Air Jet bahkan membatalkan penerbangan hingga 23 Agustus 2026, sedangkan TransNusa melakukan pembatalan secara harian dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, kualitas udara, dan jarak pandang.
Gangguan penerbangan juga terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Kabut asap menyebabkan jarak pandang di kawasan Bandara Tjilik Riwut sempat turun hingga sekitar 600 meter. Salah satu penerbangan Super Air Jet IU 674 dilaporkan melakukan go-around pada 19 dan 20 Agustus setelah jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional penerbangan. Sejumlah penerbangan lainnya juga mengalami keterlambatan.
Aktivitas Sekolah Ikut Disesuaikan
Memburuknya kualitas udara turut berdampak pada kegiatan pendidikan di Palangka Raya.
Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya menyesuaikan kegiatan belajar mulai jenjang PAUD hingga SMP. Waktu masuk sekolah untuk SD dan SMP diundur menjadi pukul 08.00 WIB, sementara kegiatan belajar PAUD dialihkan melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Aktivitas di luar ruangan seperti upacara, olahraga, dan kegiatan ekstrakurikuler juga dibatasi. Siswa serta guru diwajibkan menggunakan masker selama berada di lingkungan sekolah.
BMKG Soroti Kondisi Kering dan El Niño
BMKG menyebut kondisi iklim yang sangat kering menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerawanan karhutla di Kalimantan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan kondisi kering membuat lahan semakin mudah terbakar dan menghasilkan banyak asap.
Hasil pemantauan BMKG pada Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan nilai SSTA di wilayah Nino3.4 mencapai +2,77, yang menurut BMKG menunjukkan kondisi El Niño dengan intensitas sangat kuat.
BMKG sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa sebagian besar wilayah Kalimantan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026, sehingga kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla perlu ditingkatkan.
Pemerintah Optimalkan Modifikasi Cuaca
Pemerintah terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari upaya pengendalian karhutla.
Di Kalimantan Barat, OMC telah dilaksanakan pada 13–17 Agustus 2026 melalui sembilan sorti penerbangan. Pemerintah memperkirakan volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai sekitar 10,92 juta meter kubik.
Peluang pelaksanaan OMC berikutnya di Kalimantan Barat diperkirakan terbuka pada 23–27 Agustus 2026, dengan BMKG dan pihak terkait terus berkoordinasi.
Sementara di Kalimantan Tengah, OMC sebelumnya dilakukan dalam dua periode, yakni 27 Juli–4 Agustus dan 11–15 Agustus 2026, dengan total 13 sorti penerbangan dan estimasi volume curah hujan sekitar 4,8 juta meter kubik.
Namun, kondisi cuaca Kalimantan Tengah hingga akhir Agustus diperkirakan masih didominasi kondisi kering dan pertumbuhan awan hujan yang terbatas sehingga peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat dinilai minim.
BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan selama periode kemarau yang lebih kering akibat pengaruh El Niño.






